keluarga HS

Mengenal Metode Eklektik (Campuran)

Tidak semua keluarga homeschooler memproklamirkan diri sebagai unschooler, atau praktisi Montessori, atau Charlotte Mason, atau Waldorf, atau kurikulum tertentu. Ada juga yang memilih rileks soal ide dan praktik pendidikan mereka, memadupadankan mana saja yang dianggap nyaman. Mereka biasanya disebut praktisi metode eklektik atau campuran.

Sesuai namanya, metode ini tidak menekankan pada “kemurnian” pemikiran. Yang jadi prioritas bagi para praktisi metode eklektik ini adalah kenyamanan dan manfaat dari suatu ide atau praktik pendidikan. Asalkan dirasa berguna, ide dan praktik dari metode lain mana saja bisa diadopsi dan dikombinasi dalam keseharian keluarga praktisi.

Ada berbagai latar belakang yang menyebabkan keluarga homeschooler akhirnya memutuskan untuk tidak “saklek” mengikuti metode yang digariskan tokoh tertentu. Seperti apa pertimbangannya? Apa dampaknya ke praktik? Apa plus minusnya?

***

Secara umum, ada dua kategori keluarga homeschooler yang mempraktikkan metode eklektik. Kategori pertama, mereka yang menjadi eklektik karena memang secara konseptual memilih begitu. Kategori kedua, mereka yang menjadi eklektik karena belum paham macam-macam metode, jadi belum memilih.

Yang akan kita bahas di sini terutama adalah praktisi eklektik kategori pertama. Mereka umumnya malah sudah mempelajari dan mencoba bermacam-macam metode, tapi kemudian merasa tidak ada yang betul-betul cocok dengan kebutuhan mereka.

Misalnya, istri tertarik pada suatu metode tetapi suami tidak sepakat, sehingga akhirnya proses pembelajaran dirancang secara kompromis. Atau, orangtua tertarik pada suatu metode, tetapi kesibukannya membuat dia tidak bisa menjalankan metode itu sepenuhnya.

Sebagian keluarga juga memilih jadi praktisi metode eklektik karena jadwal kesehariannya relatif tidak terprediksi, sehingga sulit kalau mau teratur mempraktikkan metode tertentu secara murni.

Ada kalanya aspek kepribadian orangtua juga berpengaruh. Menjadi praktisi eklektik dirasa cocok buat orangtua dengan tipe tidak suka terikat pada panduan ketat, yang tipenya cenderung bisa jalan sendiri (solitary), tidak terikat pada kelompok mana pun.

***

Dengan berbagai pertimbangan kongkrit itulah, akhirnya, para orangtua homeschooler eklektik ini tidak lagi memusingkan soal tepat tidaknya praktik mereka secara konseptual, tapi memprioritaskan manfaat dan kemudahan.

Nilai lebih dari metode eklektik adalah keluarga betul-betul bisa meramu sendiri kurikulum dan cara belajar tanpa harus pusing memikirkan ketepatannya secara konseptual. Ia bisa mencomot aspek kurikulum metode A, menggabungkan dengan metode B, memotong kompas bagian-bagian yang dirasa menghambat.

Yang bisa diramu ke dalam metode ini bukan pemikiran para tokoh, tapi juga keyakinan-keyakinan personal orangtua sendiri. Salah satu praktisi memadukan antara metode Charlotte Mason dengan filosofi Konfusius, yaitu Dizigui, sembari memakai layanan pembelajaran matematika daring.

Kata kunci dalam metode eklektif adalah bermanfaat dan memudahkan. Ide dan praktik pendidikan apa pun yang dirasa bermanfaat bagi keluarga dan mudah dipraktikkan, itulah yang dipilih oleh praktisi metode eklektik. Ide dan praktik yang menyulitkan diabaikan, dihilangkan, atau dihindari.

Pendekatan ini dimungkinkan karena dalam pemikiran praktisi eklektik, target pembelajaran itu bukan bersifat abstrak – misalnya “berkarakter luhur” atau “menjadi pembawa damai” – melainkan bersifat praktis – misalnya “ada laporan progress kemajuan anak yang tercatat dan terukur” atau “dalam tiga bulan anak sudah bisa mencapai target X”.

***

Boleh dibilang, praktisi metode eklektik pendekatannya bersifat pragmatis. Seorang pragmatis menilai baik buruknya suatu ide atau praktik bukan berdasar substansi konsepnya, tapi berdasar manfaat kongkritnya dalam konteks riil kehidupan mereka.

Itu sebabnya praktisi eklektik tidak merasa harus saklek mengikuti metode tertentu, tapi bebas memilih dan mengambil bagian-bagian yang ia anggap paling bagus, nyaman, berguna, dan mudah untuk diterapkan dalam proses homeschooling keluarganya.

Titik lemah dari metode ini, sebagaimana diakui oleh para praktisinya, adalah tidak adanya pegangan konseptual yang pasti untuk melakukan evaluasi apakah mereka sudah tepat atau belum mempraktikkan teknik belajar tertentu. Ketika teknik belajar dari metode A dicampur dengan teknik belajar dari metode B, maka orangtua harus membuat parameter sendiri kapan mereka dianggap berhasil atau gagal menerapkan kombinasi itu.

Catatan: Tulisan ini disarikan dari bahan dan percakapan Ngobrol Daring PHI sesi #14 tentang Metode Eklektik.

Montessori apparatus

Mengenal Metode Montessori

Nama Montessori sepertinya sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Sekolah berlabel Montessori bertebaran di berbagai kota, kebanyakan untuk jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar, dan seringkali harga SPP-nya mahal.

Yang belum banyak diketahui publik adalah bahwa metode Montessori sebetulnya tidak harus dipraktikkan dalam wujud institusi sekolah. Keluarga homeschooler juga bisa mengadopsi prinsip-prinsipnya untuk praktik belajar bersama anak-anak dalam pendidikan berbasis keluarga.

Dan ternyata, menurut para keluarga homeschooler praktisi Montessori, menerapkan metode ini tidak harus mahal. Asalkan paham prinsip-prinsipnya, orangtua bisa mengupayakan sumberdaya belajar dengan biaya yang terjangkau.

***

Metode Montessori dikembangkan oleh Maria Montessori (1870-1952), seorang perempuan berkebangsaan Italia. Sejak kecil, Montessori terkenal cerdas dan berkemauan kuat. Dia menerobos tembok tradisi akademis kedokteran Italia yang didominasi oleh laki-laki sampai akhirnya berhasil menjadi dokter.

Setelah lulus sebagai dokter, Montessori mendalami ilmu kesehatan jiwa (psikiatri). Dalam kerjanya, dia banyak mengunjungi rumah sakit jiwa (asylum) dan mengamati anak-anak yang terbelakang secara mental atau berkebutuhan khusus. Pada waktu itu, anak-anak dengan kondisi macam ini disebut “idiot”, dianggap sampah dan diasingkan dari masyarakat.

Montessori kemudian mengembangkan metode belajar yang terbukti sangat efektif untuk membantu anak-anak yang berada di asylum untuk bisa membaca dan menulis layaknya anak normal. Ketika dites, kemampuan mereka bahkan bisa menandingi anak-anak sekolah umum.

Fakta ini membuat Montessori berkomentar, “Sementara semua orang mengagumi anak-anak idiot saya, saya malah sedang mencari tahu apa sebabnya anak-anak yang sehat dan gembira di sekolah-sekolah umum berprestasi begitu rendah, sehingga mereka bisa disejajari dalam tes inteligensia oleh siswa-siswa saya yang kurang beruntung itu?”

Dari situ, Montessori lantas menyempurnakan metodenya agar bisa diterapkan juga untuk anak-anak pada umumnya. Bulan Januari 1907, dia mendirikan PAUD-nya sendiri dengan nama Casa dei Bambini (artinya, rumah anak-anak). Animo masyarakat sangat tinggi, dan segera sekolah ala Montessori ini meluas ke seluruh Italia, bahkan ke dunia.

***

Pendidikan Montessori berangkat dari keyakinan bahwa tiap anak itu unik, sehingga tidak perlu dikompetisikan satu sama lain. Tujuan akhir pendidikan Montessori adalah agar anak mengalami “normalisasi”, yakni ketika anak bisa hidup harmonis dan seimbang dengan lingkungan sekitarnya, menjadi warga dunia pencipta damai (peacemaker).

Metode Montessori sangat mendorong anak-anak untuk menjelajah lingkungan dan alat-alat di sekitarnya. Mereka diarahkan untuk bekerja secara individual, mandiri, tenang, kooperatif, dan sistematis. Anak didorong untuk mampu membuat keputusan sediri, cerdik menghadapi masalahnya, disiplin mengerjakan tugas, hidup secara teratur, punya inisiatif, realistis, mau berbagi, dan berjiwa pemimpin.

Yang khas pada sekolah Montessori adalah ruang-ruang kelasnya yang berperabot ukuran kecil, seukuran anak-anak. Mulai dari meja dan kursi, toilet, tempat cuci tangan, sampai peralatan sehari-hari seperti sapu dan pengki dirancang sesuai proporsi tubuh anak.

Selain itu sekolah Montessori juga menyediakan berbagai alat peraga (apparatus). Semua alat peraga ini disusun secara teratur, mulai dari sederhana sampai kompleks, di rak-rak rendah yang bisa dijangkau oleh anak-anak.

***

Konsep kunci dalam metode Montessori adalah teori tentang periode sensitif (sensitive period). Periode sensitif adalah masa saat anak terbuka, tertarik, termotivasi dan mampu belajar area perkembangan dengan motivasi dari dalam dirinya sendiri.

Motivasi dari dalam diri untuk belajar ini akan terlihat dari kegigihan anak melakukan sesuatu tanpa henti, tanpa capek, berulang-ulang dalam waktu lama, seperti bermain air atau menulis di papan tulis atau kertas, sampai dia mahir melakukannya.

Menurut Montessori, ada 4 (empat) fase perkembangan anak dan setiap fase memiliki ciri-ciri khusus yang disebut sensitive period.

Fase perkembangan I (usia 0-6 tahun). Fase ini disebut sebagai fase benak yang menyerap seperti spons (absorbent mind), terdiri dari tahap penyerapan yang bersifat bawah sadar atau unconscious pada usia 0-3 tahun, dan tahap penyerapan sadar atau conscious pada usia 3-6 tahun. Semboyan di fase ini adalah “bantu aku bisa melakukannya sendiri”.

Periode sensitif dalam fase ini meliputi:

  • Ketertarikan pada keteraturan (usia 1-5 tahun)
  • Ketertarikan untuk bergerak (usia 0 s/d menjelang 4 tahun)
  • Ketertarikan untuk menjelajah (usia 2 s/d 3,5 tahun)
  • Ketertarikan dan mengembangkan panca indera (usia 3,5 s/d 6 tahun)
  • Ketertarikan pada benda kecil (usia 1,5 s/d sekitar 4 tahun)
  • Ketertarikan pada kegiatan yang bermakna (usia 2,5 s/d 5 tahun)
  • Ketertarikan pada bahasa (awal beberapa bulan setelah lahir s/d menjelang 6 tahun)
  • Ketertarikan pada musik (usia 2-6 tahun)
  • Ketertarikan pada matematika (usia 4-6 tahun)
  • Ketertarikan pada ruang atau spatial relationship (usia 4-8 tahun)
  • Ketertarikan pada etika dan sopan santun (usia 2,5 s/d 6 tahun)

Fase perkembangan II (usia 6-12 tahun). Fase ini disebut sebagai fase berpikir (reasoning mind), masa ketika anak mulai berlatih berpikir mandiri. Semboyannya adalah “bantu aku berpikir”.

Periode sensitif dalam fase ini meliputi:

  • Ketertarikan pada moralitas dan keadilan
  • Ketertarikan pada hubungan sosial
  • Ketertarikan pada nilai uang dan ekonomi
  • Ketertarikan pada imajinasi dan pemikiran yang abstrak
  • Ketertarikan pada pemakaian alat dan mesin
  • Ketertarikan pada sejarah dan waktu
  • Ketertarikan pada budaya, masyarakat dan keluarga.

Fase perkembangan III (usia 12-18 tahun). Fase ini disebut sebagai fase benak manusiawi (humanist mind) dan merupakan transisi kehidupan anak dari konteks keluarga ke masyarakat, menjadi independen secara sosial, ekonomi, dan emosional dari orangtuanya. Semboyannya adalah “bantu aku berpikir bersamamu”.

Periode sensitif dalam fase ini meliputi:

  • Ketertarikan pada martabat personal
  • Ketertarikan pada keadilan (baik dan tidak baik)
  • Ketertarikan yang bersifat emosional pada kerja bermakna untuk berkontribusi bagi komunitas, beraktivitas, membuat keputusan, menjadi pemimpin, dan bereksperimen/membuat kesalahan
  • Ketertarikan yang bersifat intelektual untuk berpikir kritis, berkreasi dan mengekspresikan diri
  • Ketertarikan pada hubungan sosial

Fase perkembangan IV (usia 18-24 tahun). Fase ini disebut sebagai fase benak yang mendalami bidang khusus (specialist mind). Semboyannya adalah “bagaimana aku bisa membantumu”.

Periode sensitif dalam fase ini meliputi:

  • Ketertarikan pada pengetahuan tentang diri sendiri (self-knowledge) dan aktualisasi diri (self-realization)
  • Ketertarikan untuk menjadi independen dalam hal moral dan spirtual.

***

Tugas orangtua praktisi Montessori adalah bersikap peka terhadap isyarat-isyarat periode sensitif anak. Contohnya, di usia 0-6 tahun, anak suka yang kongkrit-kongkrit dan tertarik pada benda-benda kecil, maka orangtua menyediakan aparatus yang dibuat serba mini sesuai dengan periode sensitif anak. Kemudian saat belajar matematika, konsep-konsep yang abstrak mesti dikongkritkan, misalnya dengan menggunakan alat peraga (manipulatives) yang menstimulasi panca indera anak.

Orangtua homeschooler yang ingin menerapkan metode ini harus berlatih menjadi pengamat yang objektif dan cermat, lalu bisa menanggapi isyarat dari anak secara kreatif dan fleksibel. Misalnya, kalau melihat anak sedang suka musik, orangtua perlu mendukung dengan menyiapkan lingkungan yang membantu anak mengeksplorasi musik, misalnya mengenalkan alat musik, memainkan alat musik, bernyanyi, membuat alat musik sendiri, dll. – ini tidak harus mahal, asal orangtua bisa memanfaatkan benda atau bahan di lingkungan sekitar.

Menurut metode Montessori, orangtua harus peka terhadap isyarat periode sensitif anak dan lekas mendukung, sebab kalau periode sensitifnya terlanjur lewat tapi anak tidak distimulasi dengan sesuai, nantinya bisa “terlambat” dalam arti untuk mengembangkannya bakal butuh usaha lebih besar.

Sebaliknya, jika orangtua peka dan mendukung anak di periode sensitifnya, pengembangan kemahiran anak tidak perlu banyak usaha. Anak akan mencari dan melakukan secara berulang dan tidak pernah capek untuk mencoba sampai mahir.

Catatan: Tulisan ini disarikan dari bahan dan percakapan Ngobrol Daring PHI sesi #13 tentang Metode Montessori.

Sumber foto: mmhcguwahati.org, wikipedia, isms.nsw.edu.au

Waldorf school

Mengenal Metode Pendidikan Waldorf

Di dunia, sekolah Waldorf sudah eksis sejak seabad lalu dan tersebar di puluhan negara. Belakangan malah viral berita bahwa para petinggi perusahaan teknologi papan atas – seperti Google, Apple, Yaho, Hewlett-Packard, juga e-Bay – memilih menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah Waldorf yang justru menjauhkan anak dari perangkat komputer.

Namun di Indonesia, pendidikan Waldorf terbilang baru berkembang. Belum banyak yang pernah mendengarnya, meski gaungnya mulai meluas di kalangan orangtua peminat pendidikan alternatif. Sudah ada juga sebagian keluarga homeschooler yang merasa cocok dengan metode ini dan memutuskan untuk menjadi praktisinya.

Seperti apa konsep-konsep dasar pendidikan Waldorf? Orangtua mana yang cocok untuk menjalaninya? Seperti apa praktik keseharian penerapannya dalam keluarga homeschooler? Berikut kurang lebihnya.

***

Metode pendidikan Waldorf digagas oleh Rudolf Steiner (1861-1925), seorang filsuf, arsitek, dan spiritualis berkebangsaan Austria. Steiner berangkat dari premis bahwa manusia sejatinya adalah makhluk spiritual dan harus dididik secara holistik supaya bisa menjalankan amanatnya selama hidupnya di bumi saat ini.

Steiner menjelaskan bahwa manusia itu punya tiga poros yang harus dikembangkan, yakni tangan, hati, dan kepala (hand, heart, head). Istilahnya, threefold human being.

  • Tangan dan kaki ada di poros bawah, melambangkan aktivitas, berkegiatan, dan bekerja yang dipimpin oleh kehendak (willing).
  • Hati ada di poros tengah, merjuk pada sistem ritmik, pernapasan, peredaran darah, juga pencernaan, tempatnya kegiatan mengolah rasa berlangsung (feeling).
  • Kepala atau sistem syaraf-indra ada di poros atas, melambangkan aktivitas berpikir (thinking).

Konsepnya tentang manusia itu Steiner jabarkan lebih lanjut menjadi tahap perkembangan manusia, yang kemudian akan menjadi landasan kurikulum pendidikan Waldorf.

***

Menurut metode Waldorf, masa hidup seorang anak terbagi menjadi tiga tahap yang terpilah, tiap tahap panjangnya sekitar tujuh tahun. Semua kurikula dan metode belajar-mengajar harus disesuaikan dengan kekhasan tiap tahap perkembangan ini.

Tahap Pertama: Usia 0-7 Tahun

Anak baru saja lahir dan tiba di Bumi, rohnya baru saja tiba di raga yang dimilikinya, maka aktivitas utamanya adalah mengenali dan mengeksplorasi lingkungan dengan semua indranya. Yang sangat dibutuhkan anak pada fase ini adalah keyakinan tentang “dunia yang baik”. Keyakinan bahwa dunia itu aman akan membuat anak berani menjelajah bebas, mengenali dunia barunya ini.

Pada tahap ini, anak belajar paling efektif melalui cara meniru (imitasi) dan belajar sambil bermain. Apa yang diulang-ulang kerjakan oleh orangtua, anak otomatis ingin menirukannya. Oleh karena itu, penting orangtua berusaha memberi teladan yang baik, yang layak dicontoh oleh anak, menyemangatinya untuk menyelidiki alam sekitar, berelasi dengan sesama makhluk dan sesama manusia, serta mengembangkan daya imajinasi.

Pembelajaran anak di fase pertama perlu ditata dalam ritme yang teratur (harian, mingguan dan tahunan). Ritme rutin akan membantu anak merasa aman. Kemudian anak juga butuh waktu untuk bermain bebas yang melimpah, baik di dalam ruangan dan di luar.

Dari adanya ritme keseharian plus adanya teladan dari orangtua, maka anak tidak perlu diberi banyak instruksi lagi. Sesedikit mungkin memberikan instruksi pada anak di masa awal kanak-kanak ini penting untuk memberi ruang bagi kehendaknya (will) untuk untuk tumbuh kuat. Semua proses ini akan menjadi fondasi penting untuk perkembangan intelektual, emosional, dan fisik anak di tahap-tahap selanjutnya.

Tahap Kedua: Usia 7-14 Tahun

Anak mulai siap masuk kegiatan terstruktur. Jika di tahap sebelumnya anak menumbuhkan kehendak (will), maka pada tahap ini anak mengenal dan mengolah rasa (feeling). Dengan demikian penting bagi anak untuk mengalami “dunia yang indah”.

Selama periode ini, diyakini anak belajar paling efektif jika perasaannya disentuh dan daya kreatifnya dihidupkan. Itu sebabnya pembelajaran diantarkan melalui pendekatan yang imajinatif dan artistik sehingga anak terbiasa menghasilkan keindahan.

Kurikulum Waldorf untuk periode ini kaya dengan kisah dongeng, fabel, mitologi, dan biografi menggugah para tokoh sejarah. Orangtua perlu mengintegrasikan kegiatan mendongeng (storytelling), drama, gerak, warna-warni, dan musik, sehingga setiap materi pelajaran terasa hidup di hati anak.

Di tahap ini, proses belajar anak masih dipandu oleh orangtua. Selain membimbing anak dalam proses akademis formal, orangtua juga bertugas membangkitkan kesadaran moral anak dan apa perannya di dunia ini.

Tahap Ketiga: Usia 14-21 Tahun

Periode ini menandai berkembangnya kemandirian intelektual anak. Setelah imajinasinya terpupuk dan terolah matang, anak mengembangkan akal (thinking) yang kreatif. Di tahap ini, penting bagi anak dihadapkan pada pemikiran tentang “dunia yang benar/jujur”.

Anak didorong untuk belajar dari kisah hidup orang-orang yang memiliki renjana (passion) di bidangnya, mendekat pada sosok-sosok yang memiliki buah pikiran yang otentik sebagai sumber inspirasi. Informasi yang didapatkan itu akan jadi bahan olahan di kepala ana, memberinya pertimbangan-pertimbangan dalam hidup.

Di usia ini, anak makin diberikan banyak otonomi atas arah pendidikan mereka sendiri sambil terus dibimbing oleh orang-orang dewasa yang punya kepakaran di bidangnya.

***

Dalam setiap fase pertumbuhan anak (manusia), Steiner meyakini bahwa pembelajaran diperoleh dari pengalaman indrawi, mulai masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa.

Pembelajaran dalam pendidikan Waldorf dilakukan dengan menyelaraskan 3 R (Ritme, Repetisi, Rasa Takzim).

  • Ritme berarti kegiatan dilakukan selaras sesuai ritme kehidupan.
  • Repetisi berarti kegiatan dilaksanakan berulang-ulang selama rentang waktu tertentu sehingga menjadi sesuatu yang melekat.
  • Rasa takzim berarti membangun respek dan memberi makna pada yang sedang dikerjakan; respek juga ditujukan pada makhluk hidup serta lingkungan, sehingga tumbuh syukur, belas kasih, juga empati dalam diri anak.

Seperti bernapas, dalam kehidupan keseharian maupun di fase belajar terstruktur, ada saatnya anak harus fokus (breathing in) dan ada saatnya anak rileks dan melepas (breathing out). Misalnya, awali hari dengan kegiatan bebas (breathing out), lalu masuk ke pelajaran utama (breathing in), setelah itu bermain bebas lagi (breathing out), dst.

Orangtua menata ritme rutinitas keseharian anak sesuai dengan konteks kehidupan keluarga. Tentukan mana yang ritme harian, ritme mingguan, ritme bulanan, atau ritme tahunan.

Contoh ritme harian:

  • pagi hari: bangun pagi, sarapan, mandi, circle time, bermain bebas di luar rumah.
  • siang hari: main bebas di dalam rumah, mendongeng, tidur siang
  • sore hari: les, mandi, waktu kumpul keluarga
  • malam hari: mendongeng, tidur malam

Contoh ritme mingguan (untuk anak prasekolah):

  • Senin: modelling clay
  • Selasa: nature walk
  • Rabu: merajut/menjahit
  • Kamis: melukis
  • Jumat: menggambar
  • Sabtu:memasak
  • Minggu: bebas

Untuk transisi ke fase belajar akademis, orangtua harus melihat tanda-tanda kesiapan anak, misalnya kematangan motoriknya. Itu sebabnya di fase tujuh tahun pertama, anak harus dibuat leluasa bermain bebas.

Setelah masuk fase terstruktur, anak akan belajar akademis dengan konsep “blok pembelajaran”. Dialokasikan rentang waktu yang cukup panjang (antara 2-5 minggu) dengan durasi sesi belajar utama (main lesson) sepanjang sekitar 2 jam tiap hari. Main lesson yang panjang ini untuk memudahkan anak berproses melalui setiap tahapan dengan perlahan, sehingga hal yang awalnya sulit pun lama-lama jadi terasa mudah.

***

Pendidikan Waldorf sangat menekankan proses pembelajaran dilakukan melalui seni dan bercerita. Proses pembelajaran akan selalu diawali dengan storytelling. Lalu nanti pengenalan huruf akan dimulai dengan menggambar bentuk dan menggunakan cerita-cerita untuk memberi ank gambaran huruf, sebelum akhirnya anak dikenalkan dengan simbol huruf.

Karenanya, orangtua praktisi Waldorf juga perlu berlatih untuk bisa bercerita tanpa membaca buku, terutama saat sudah masuk sesi belajar utama (main lesson). Selain belajar mendongeng, orangtua juga nantinya mesti belajar aneka prakarya seperti merajut, olah kayu, melukis, menggambar, dll.

Yang cocok menjadi praktisi Waldorf adalah keluarga pemelajar yang meyakini bahwa setiap manusia itu unik, punya misinya masing-masing di Bumi; keluarga yang ingin ada pembelajaran terstruktur, sekaligus ruang bebas untuk eksplorasi diri; keluarga yang meyakini bahwa manusia itu makhluk spiritual berporos tiga, yang harus dikembangkan bukan hanya raganya melainkan juga dipelihara jiwanya, dan perlu diseimbangkan antara kehendak, perasaan, dan pikirannya.

Catatan: Tulisan ini disarikan dari bahan dan percakapan Ngobrol Daring PHI sesi #12 tentang Waldorf Education.

Sumber foto: Waldorf School of Peninsula, wikipedia

kids-playing-outside-left

Mengenal Metode Charlotte Mason

Meski di dunia pendidikan namanya tidak setenar Montessori, tapi metode Charlotte Mason relatif populer dan cukup banyak praktisinya di kalangan homeschooler, baik di luar negeri maupun di Indonesia.

Jika anda bertamu ke rumah keluarga homeschooler dan melihat ada banyak koleksi buku di sana, lalu mereka mulai menyebut-nyebut istilah atmosfer, habit training, living book, atau nature walk, kemungkinan besar anda sedang berhadapan dengan praktisi metode CM.

Seperti apa konsep-konsep kunci dalam metode CM? Bagaimana mempraktikkan metode ini dalam proses homeschooling? Yuk kita baca lebih lanjut di artikel ini.

***

Charlotte Mason (1842-1923), biasa disingkat CM, adalah pemikir pendidikan Inggris yang pernah sangat terkemuka pada masanya.  Setelah wafat, nama CM tenggelam seiring menguatnya gelombang sekularisme Eropa. Baru ketika gerakan homeschooling (HS) menguat di Amerika Serikat, ide-idenya digali kembali dan melejit menjadi salah satu metode HS paling populer – khususnya di kalangan orangtua yang menghasrati konsep pendidikan yang progresif tapi tetap religius.

Fokus metode CM adalah meluhurkan watak anak. Semua aspek pendidikan, termasuk pelajaran akademis dipandang sebagai sarana “terapi” agar karakter anak bertumbuh. Misalnya, dari belajar membaca, anak melatih kebiasaan memperhatikan; dari latihan menulis, anak melatih kebiasaan mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya; dari matematika, anak melatih kebiasan berpikir logis dan presisi.

Dengan kata lain, metode CM adalah metode pendidikan karakter, tapi karakter yang dimaksud  di sini sifatnya luas. CM meminta orangtua menggembleng anak baik dari segi jasmani, mental-intelektual, emosional, spiritual, maupun profesional.

***

Ada tiga hal yang CM anggap penting dalam proses menumbuhkan karakter anak secara menyeluruh:

Pertama, atmosfer.

Yang dimaksud atmosfer adalah teladan hidup orangtua. Karena anak adalah pengamat jeli dan peniru ulung, maka pikiran, kata-kata dan perilaku yang dipancarkan orangtua akan tertransfer ke diri anak. Jika orangtua suka membaca, maka anak cenderung ikut suka membaca. Jika orangtua khusyuk sembahyang, maka anak pun respek pada kegiatan ibadah. Dan sebaliknya.

Ini berarti, orangtua praktisi CM bukan hanya harus menyusun kurikulum belajar untuk anak, tapi juga kurikulum untuk dirinya sendiri. Dalam metode CM, orangtua dan anak adalah kawan seperjalanan dalam proses belajar. Jadi, sembari mendampingi anak, orangtua juga harus terus memperkaya bacaan, wawasan, pengalaman, juga memperbaiki kepribadiannya.

Kedua, disiplin.

Yang dimaksud disiplin adalah latihan kebiasaan-kebiasaan baik. CM memberi petunjuk tentang aneka kebiasaan baik yang perlu dilatihkan pada anak-anak sedini mungkin. Dua kebiasaan yang paling mendasar adalah habit of obedience dan habit of attention. Jika kedua kebiasaan ini telah mapan, maka baik proses akademis maupun kehidupan sehari-hari anak akan berjalan lancar.

Habit of obedience berarti anak dilatih menundukkan rasa suka tidak sukanya pada hati nurani, hukum alam, dan petunjuk ilahi. Anak dididik untuk membuat pilihan atas dasar benar atau tidak benar, bukan suka atau tidak suka; terbiasa untuk langsung mengerjakan kewajiban tanpa banyak alasan.

Habit of attention berarti anak dilatih untuk terbiasa berkonsentrasi pada apa pun yang sedang dia kerjakan sampai tuntas. Orangtua praktisi CM umumnya berhati-hati dengan apa pun yang membuat anak mudah terdistraksi. Konsumsi layar dan gawai cenderung sangat dibatasi sampai anak dianggap sudah bisa mengendalikan diri.

Ketiga, ide hidup.

Bagi praktisi CM, memberi makan pikiran itu sama pentingnya dengan memberi makan badan. Dan sama seperti tubuh perlu makanan yang bergizi, begitu pula pikiran manusia butuh ide-ide hidup. Sajian idenya pun harus cukup, beragam, dan teratur.

Ide-ide hidup itu khususnya tersaji dalam bentuk buku-buku. Anak-anak praktisi CM setiap hari diwajibkan dan didorong untuk membaca buku-buku bermutu – istilahnya, living books. Praktisi CM umumnya tidak memakai buku teks garing ala sekolahan, tapi buku-buku utuh yang ditulis oleh pengarang-pengarang terbaik.

Setelah membaca, anak diminta menceritakan kembali isi bacaannya – istilahnya, narasi. Praktisi CM menganggap narasi adalah metode evaluasi terbaik, jauh lebih unggul dibanding soal-soal pilihan ganda, isilah titik-titik, dan tes komprehensi lainnya.

***

Dalam hal akademis, praktisi CM mengenal dua fase belajar, yakni fase prasekolah dan fase belajar terstruktur.

Fase prasekolah (0 s/d 6-7 tahun)

Selama fase ini, yang diutamakan adalah pelatihan kebiasaan baik dan pengembangan minat belajar alamiah anak. Sama sekali tidak dijadwalkan pelajaran akademis apa pun. Di luar kewajiban sehari-harinya, anak merdeka melakukan apa saja, asal tidak melanggar prinsip kesehatan dan moralitas – istilahnya, masterly inactivity.

CM juga sangat menekankan pentingnya mendekatkan anak ke alam dan buku. Sedari dini, anak praktisi CM dibiasakan untuk banyak menghabiskan waktu di ruang terbuka, terutama di tempat-tempat yang masih alami, sesering dan selama mungkin.

Anak-anak juga setiap hari diekspos pada buku-buku berkualitas. Kalau anak sudah terbiasa dibacakan buku-buku bagus, kosakata dan keterampilan berbahasa mereka nantinya akan meningkat dan mereka akan mudah diajari belajar membaca, menulis, dan mencerna pelajaran akademis di tahap berikutnya.

Fase belajar terstruktur (paling cepat mulai usia 6 tahun)

Metode CM memakai konsep generous curriculum dan short lessons. Artinya, anak diberi banyak mata pelajaran, tetapi durasinya pendek-pendek. Dengan demikian wawasan anak akan luas, tapi dalam belajar ia tidak kelelahan.

Sebagai gambaran: di tahun pertama (setara kelas 1 SD), anak homeschooler praktisi CM biasanya hanya sesi akademis selama kurang lebih 1 jam dalam sehari, setelah itu ia bebas melakukan yang lain-lain, asalkan kewajibannya sudah selesai. Sesi berdurasi 1 jam itu sudah bisa meliputi:

  • Belajar membaca 5 menit
  • Belajar menulis 5 menit
  • Belajar matematika 10-15 menit
  • Mendengar bacaan dan memberikan narasi 15 menit (subjeknya bisa sejarah, geografi, sastra, agama, sains)
  • Membaca puisi 5 menit
  • Menghafalkan ayat kitab suci 5 menit
  • Subjek mingguan 10-15 menit (bisa hasta karya, studi lukisan, studi musik, atau studi alam)

Setelah sesi akademis berakhir, tidak ada PR lagi. Konsep short lessons dan tidak ada PR ini memungkinkan anak punya banyak waktu untuk menekuni apa pun yang ia minati.

Durasi, jumlah subjek, dan bobot kesulitan buku bacaan akan terus meningkat seiring bertambahnya usia anak. CM selalu menekankan pendidik bersifat lemah lembut, menyesuaikan target belajar dengan kepribadian dan kapasitas riil anak – jangan terlalu mudah sehingga ia bosan, tapi juga jangan terlalu sulit sehingga ia frustrasi.

***

Metode CM sangat menekankan pentingnya memahami filosofi (why) sebelum mulai menyusun materi apa saja yang perlu masuk ke kurikulum (what) dan cara mempelajari yang paling tepat (how). Teknis bisa berubah-ubah, prinsipnya tetap.

Penekanan pada penyelarasan antara filosofi dan praktik ini bisa terasa berat awalnya, terutama buat orangtua yang selama ini terbiasa dengan yang praktis-praktis dan tidak terbiasa berpikir filosofis. Namun, keuntungannya adalah: begitu sudah paham filosofinya, maka kendala apa pun yang orangtua hadapi di lapangan, ia akan cepat menemukan solusi yang tepat, karena paham prinsip-prinsip dasarnya.

Catatan: Tulisan ini disarikan dari bahan dan percakapan Ngobrol Daring PHI sesi #11 tentang Metode Charlotte Mason.

free kids

Mengenal Metode Unschooling

Metode yang paling awal muncul dalam sejarah gerakan homeschooling modern adalah unschooling. Di Indonesia, istilah ini belakangan sepertinya makin populer, meski kadang pemahaman orang-orang atasnya masih kabur dan tidak berbasis kajian historis.

Misalnya, ada anggapan bahwa praktisi unschooling pasti tidak akan mencari ijazah. Atau anggapan bahwa orangtua bisa tetap menyekolahkan anak sambil unschooling di rumah. Pemahaman ini kurang tepat menjelaskan esensi dan karakteristik unschooling.

Karena itu, penting orangtua belajar sendiri sejarah dari istilah tertentu, dan tidak sekadar mengikuti wacana yang beredar. Mengecek riwayat kemunculan suatu ide akan membuat kita bisa lebih pas memahami dan menjelaskan ide tersebut.

***

Unschooling berasal dari kata un dan schooling. Dalam bahasa Inggris, awalan un- mengandung arti “bertentangan” atau “kontra”. Misalnya, undo (membatalkan tindakan) adalah kebalikan dari do (melakukan tindakan), dan undress (melepas baju) adalah kebalikan dari dress (memakai baju).

Demikian pula unschooling secara harafiah punya makna kebalikan atau kontra dengan persekolahan. Bukan hanya berkebalikan dari sekolah, UN-schooling juga secara harafiah berarti mengembalikan ke situasi seperti saat belum ada sekolah.

Pencetus unschooling adalah pelopor gerakan homeschooling di Amerika. Namanya John Holt (1923-1985). Yang ingin ia tolak dan lawan dari nilai dan praktik persekolahan adalah proses belajar yang disetir oleh sistem, alih-alih oleh anak sebagai si pemelajar.

Menurut Holt, anak secara alamiah adalah pemelajar. Ia tahu cara terbaik untuk belajar tentang hal-hal yang paling ia butuhkan. Jadi, Holt bersikap bahwa proses belajar anak tidak perlu disetir oleh orang dewasa. Biarkan anak yang jadi pemimpin proses belajarnya sendiri.

***

Yang jadi model belajar ideal acuan orangtua unschooler adalah model belajar saat anak masih bebas dari segala macam kewajiban persekolahan. Anak merdeka untuk menentukan mau belajar apa saja dengan cara suka-suka dia sejauh dia rasa efektif. Semua pembelajarannya bersifat nyata dan relevan.

Misalnya, seorang anak berumur 5 tahun. Dia biasa menerima paket dari kurir yang ditujukan pada ayahnya. Lama-lama dia tahu bahwa rangkaian huruf di paket itu adalah nama ayahnya dan alamat rumahnya – akhirnya dia bisa baca sendiri dan tahu konteks bacaannya.

Cara belajar merdeka yang bermakna inilah yang orangtua unschooler ingin terus pertahankan ada dalam diri anak sesudah ia memasuki periode usia sekolahnya. Dan ini bukan proses yang mudah, karena begitu orangtua mulai mengarah-arahkan anak berdasar agenda mereka sendiri, kapasitas belajar mandiri anak itu bakal terkikis dan terdistraksi. “Alarm” kebutuhan belajarnya akan terganggu.

Itu sebabnya, dalam konsep unschooling, orangtua justru harus berusaha untuk tidak mengajar. Biarkan anak menjadi penentu sendiri dia mau belajar apa, kapan, di mana, berapa lama, dengan siapa. Orangtua unschooler tidak perlu merancangkan kurikulum, karena anak bisa menyusun sendiri kurikulum belajarnya.

Orangtua sama sekali tidak perlu memerintahkan anak belajar apa pun. Dan anak tidak perlu dites-tes juga untuk hasil belajarnya. Ia yang belajar, dan ia yang paling tahu apa capaian yang ingin ia raih dalam proses belajarnya. Tugas orangtua adalah mendukung penuh agenda belajar yang anak pilih.

***

Sampai di sini, orang yang dibesarkan dalam tradisi sekolahan mungkin syok. Kalau tidak ada kurikulum, tidak ada jadwal belajar, tidak ada tes, bagaimana kamu bisa memastikan bahwa anak betul-betul belajar dan mengalami kemajuan dalam belajar?

Orangtua unschooler akan menjawab bahwa itu bahkan tidak perlu dikhawatirkan, karena mereka percaya betul bahwa anak mampu belajar mandiri (learning on their own). Setiap detik dalam hidupnya, anak sedang belajar, dengan cara yang tidak selalu sama dengan yang orangtua pikirkan.

Orangtua unschooler woles saja kalaupun anaknya belum mau baca tulis hitung di usia sekolah – seperti yang dituntut masyarakat sekitar. Mereka rileks karena mereka percaya, nanti kalau anak sudah butuh baca tulis hitung, dia pasti akan belajar dengan caranya sendiri. Yang penting mereka terus memantau dan peka pada isyarat-isyarat ketertarikan anak, lalu bersiaga mendukung dan mendampingi prosesnya kapan pun ketertarikan itu muncul.

***

Bukan berarti orangtua unschooler hanya pasif dan tidak melakukan stimulasi apa pun untuk anak. Jangan pula dianggap orangtua unschooler tidak mendisiplin anaknya. Hanya saja, metode disiplinnya adalah lewat menumbuhkan motivasi dan kesadaran dari dalam diri anak.

Unschooling itu bukan unparenting, sebaliknya justru active parenting. Orangtua unschooler sangat rajin mengajak anak berkomunikasi dan berdialog. Perbincangan intim ini akan menjadi bahan anak menimbang apa yang harusnya ia lakukan. Jadi, ketika anak melakukan sesuatu yang benar, itu betul-betul hasil putusannya sendiri secara sadar.

Orangtua unschooler bersikap rileks soal target-target akademis, tapi mereka tetap memberikan stimulasi dan pancingan. Kalau ayah ibu unschooler ingin anaknya suka membaca, mereka bisa menunjukkan teladan ke anak bahwa mereka juga suka membaca, bercerita soal asyiknya membaca.

Yang menyalahi prinsip unschooling adalah kalau ayah-ibu sudah mulai mewajibkan, mengharuskan, memaksakan agenda akademis mereka sendiri, meski anak tidak setuju atau sebetulnya belum merasa perlu.

***

Yang akan cocok menerapkan unschooling adalah orangtua yang betul-betul mengimani 100% bahwa secara alamiah anak pasti suka belajar. Orangtua unschooler berketetapan bahwa belajar adalah agenda si anak, bukan agendanya. Mereka merasa tidak punya agenda pribadi tentang proses belajar anaknya selain menemani, mendampingi, dan menghantarkan anaknya untuk menemukan panggilan hidupnya dan menjalani pilihan hidup pribadinya.

Dalam praktik, unschooling relatif mudah dikerjakan saat anak masih usia prasekolah. Kadar unschooling orangtua baru akan diuji benar-benar pada saat anak sudah masuk usia sekolah, ketika tuntutan sekitar soal kemajuan akademis anak menguat. Orangtua unschooler butuh mental baja untuk menghadapi komentar negatif orang sekitar.

Catatan: Tulisan ini disarikan dari bahan dan percakapan Ngobrol Daring PHI sesi #10 tentang Unschooling.

Sumber foto: johnholtgws.com

diversity

Mengapa Perlu Belajar Aneka Metode Homeschooling?

Anda tertarik homeschooling (HS)? Apakah anda sudah memutuskan mau ber-HS dengan metode yang mana?

Pertanyaan kedua itu mungkin mengagetkan buat para peminat dan pemula homeschooling. Karena kebanyakan kita adalah produk sekolahan, jadi konsep pendidikan dan konsep belajar yang kita kenal adalah ala sekolahan – yang di Indonesia serba seragam.

Jadi, di pikiran para peminat ini, homeschooling pun dibayangkan sebagai sesuatu yang seragam praktiknya. Seolah-olah ada standar teknis baku yang harus diikuti semua keluarga – seperti sekolah.

Tak heran, ketika bertemu praktisi homeschooling, para peminat ini fokus langsung bertanya urusan-urusan teknis, seperti kurikulum HS itu seperti apa, buku apa yang harus dipakai, jadwal belajarnya bagaimana, dst. Lalu jawaban si praktisi dipukul rata: oh, homeschooling itu begitu yaaaa …

***

… padahal kenyataannya jauh dari itu!

Praktik homeschooling itu sangat beragam dan tidak bisa dipukul rata. Homeschooling adalah model belajar yang sangat fleksibel. Tiap keluarga bisa pakai kurikulum yang berbeda, buku yang berbeda, jadwal belajar yang berbeda.

Praktisi homeschooling boleh memilih metode pendidikan mana saja yang dianggap cocok untuk anak dan keluarganya. Ada beragam pilihan tersedia: mulai dari yang paling bebas sampai yang paling teratur atau ketat secara akademis.

Di ujung spektrum kebebasan ada metode unschooling, di ujung spektrum keteraturan ada metode school-at-home. Di tengah-tengahnya terdapat berbagai metode lain, seperti Charlotte Mason, Waldorf, Montessori, pendidikan klasik, juga eklektik (campuran). Daftar opsi metode ini semakin lama semakin panjang ketika orangtua homeschooler menciptakan sendiri ramuan metode mereka.

Semua metode sebetulnya menarik, masing-masing memiliki cerita sukses. Karena itulah, orangtua yang terbiasa apa-apa diatur dan diseragamkan malah bisa jadi bingung harus memilih yang mana.

***

Jadi, bagaimana kita memilih metode homeschooling yang paling cocok, paling tepat, buat anak-anak kita?

Langkah pertamanya, tentu saja, adalah belajar. Menjadi homeschooler adalah perjalanan panjang kita dan anak-anak menjadi pemelajar sepanjang hayat. Maka, mari awali perjalanan homeschooling kita dengan banyak-banyak membaca, menyimak, dan merenung tentang pilihan-pilihan metode pendidikan yang beragam.

Yang penting dari belajar metode HS adalah memahami konsep-konsep dasarnya. Ini akan jadi alternatif atau pembanding atau kritik buat konsep pendidikan ala sekolahan yang selama ini kita serap. Setelah memahami konsep-konsep dasarnya, baru kemudian kita “turun” ke soal cara mempraktikkannya.

***

Kita bisa susun semacam check list poin-poin penting apa yang perlu kita ajukan saat membaca atau menyimak penjelasan tentang metode homeschooling tertentu.

Pertama, sejarahnya. Siapakah pelopor pemikiran metode ini? Apakah ide-ide dalam metodenya lahir dari pengamatan mendalam terhadap anak-anak? Apakah metode ini didapati menghasilkan anak-anak dengan kualitas kepribadian yang dicita-citakan?

Kedua, visinya. Metode ini cita-citanya ingin anak menjadi seperti apa ya? Karena pada dasarnya metode adalah pengejawantahan dari visi tertentu tentang anak itu idealnya bertumbuh seperti apa.

Ketiga, nilai-nilainya. Apa muatan spiritual atau moral dalam metode ini? Adakah misi sosialnya? Apakah nilai-nilainya universal atau hanya cocok untuk kalangan tertentu?

Keempat, penjabarannya ke praktik. Apakah metode ini memberi panduan tentang tahap-tahap mencapai visi yang dipatoknya? Apa yang harus dipelajari sehari-hari oleh anak untuk berkembang menurut metode ini? Seperti apa garis besar kurikulumnya?

***

Belajar aneka metode ini penting banget buat keluarga homeschooler, terutama yang masih baru, yang belum punya alternatif konsep pendidikan selain ala sekolahan. Buat yang sudah punya pilihan metode pun, belajar metode-metode lain akan berguna untuk memperkaya konsep dan praktik homeschooling keluarganya.

Mana metode yang akan kita pilih, penentunya terutama adalah faktor kecocokan dengan konteks keluarga kita. Paskah semua asumsi, visi, nilai, dan petunjuk praktis dari metode itu buat keluarga kita? Memungkinkan atau tidak kita melaksanakannya bersama anak-anak?

Buat yang belum terbiasa membandingkan ide, karena dulu di sekolah biasanya apa-apa terima jadi, menelusuri aneka metode dan membuat pilihan ini memang awalnya tampak merepotkan. Tapi lebih baik repot di awal, tapi ke depannya langkah kita jelas dan yakin, kan?

Satu catatan lagi: dalam praktiknya, memilih metode tidak harus sekali jadi. Kadang malah lebih efektif untuk nyebur dulu, langsung praktik metodenya sambil belajar, agar kita bisa mendapatkan feel-nya. Gonta-ganti metode selama proses HS itu sah-sah saja. Pada akhirnya kita bakal ketemu sendiri (ramuan) metode mana yang paling cocok buat keluarga kita.

STARTING-LINE

Homeschooling, Bagaimana Harus Memulainya?

Ayah-ibu pemula homeschooling rata-rata punya satu pertanyaan yang sama: bagaimana harus memulainya? Mungkin anda termasuk yang begitu.

Apakah anda sudah punya kemauan besar untuk jadi homeschooler, tapi masih bingung langkah apa yang harus dilakukan duluan?

Apakah anda sudah menghadiri aneka acara sosialisasi homeschooling, entah luring (offline) maupun daring (online), untuk mencari jawaban pertanyan itu, tetapi tetap merasa gamang?

Apakah anda sudah membaca aneka artikel tentang homeschooling dan rasanya belum mantap?

Apakah anda sudah coba bertanya pada keluarga-keluarga praktisi tentang proses mereka dulu memulai homeschooling, tapi belum juga terbayang jelas cara menjalankan homeschooling buat anak-anak anda?

Artikel ini ditulis untuk membantu teman-teman punya gambaran sedikit soal cara memulai homeschooling. Semoga bisa memunculkansedikit titik terang. Semoga.

***

Yang pertama anda perlu terima adalah: kebingungan anda itu wajar. Merasa tak tahu arah ketika mau berpindah dari sekolah formal ke homeschooling – itu sama sekali tidak aneh! Kami yang sekarang terlihat seperti homeschooler “senior” pun dulu mengalaminya.

Telah ditulis di artikel terdahulu (soal bedanya homeschooling dan school from home), menjadi homeschooler itu ibarat karyawan yang hendak mulai berbisnis sendiri. Anda mau pindah dari dunia yang serba dikendali dan ditatakan, menuju dunia yang serba merdeka dan fleksibel.

Dengan menjadi homeschooler, anda dan anak-anak menjadi tuan atas proses pendidikan kalian sendiri. Kalian bebas menyusun kurikulum. Kalian bebas mengatur jam belajar yang cocok. Kalian bebas memilih materi pelajaran yang tepat. Kalian bebas merekrut guru atau tidak merekrut guru. Kalian bebas.

Persoalannya: siapa bilang menjadi bebas itu gampang?

Konsekuensi dari kebebasan adalah harus berani membuat keputusan-keputusan mandiri. Makanya, buat orang yang seumur hidupnya selalu diatur-atur orang lain, kebebasan malah bisa bikin bingung. “Dari titik ini, aku harus ke mana?”

Jadi, super wajar sekali kalau ada orangtua yang bingung cara menjadi homeschooler, karena dari dulu terbiasa memasrahkan pengaturan proses pendidikan pada lembaga. Terima saja realitas bahwa status anda sekarang adalah pemula.

Sungguh tidak realistis kalau seorang pendatang baru menuntut wawasan atau keterampilannya setara dengan pelaku lama, bukan? Berharap semua langkah anda sebagai newbie langsung tepat, mantap, dan pasti sejak semula adalah tuntutan yang ketinggian buat diri sendiri.

***

Oh ya, meskipun rasanya tidak enak, bingung itu sebetulnya pertanda baik. Bingung adalah suatu isyarat bahwa akalbudi anda sedang terpantik untuk berpikir. Bingung adalah gejala umum yang dialami seseorang saat ia keluar dari zona nyaman.

Zona nyaman, sesuai namanya, memang nyaman. Ada pijakan pasti. Temannya banyak. Risiko relatif terprediksi, tidak mendebarkan lagi. Namun problemnya, terus-menerus tinggal di zona nyaman bisa membuat kita stagnan. Kalau semuanya selalu serba rutin, kita berhenti belajar, kita berhenti bertumbuh.

Mempelajari hal yang sama sekali baru akan melucuti kita dari segala rasa aman dan percaya diri. Kita mulai dari nol dan merasa jadi bodoh lagi. Berada di zona belajar rasanya mungkin sangat tidak nyaman, tapi, para ahli bilang, membuka peluang maju pesat.

Mendiang Steve Jobs punya pengalaman menarik soal ini. Pada usia 30 tahun, ia dipecat dari Apple, perusahaan yang ia dirikan sendiri, saat Apple sedang jaya-jayanya. Ia linglung selama berbulan-bulan, tak tahu harus berbuat apa.

Namun setelah berefleksi, Jobs memutuskan untuk “memulai dari nol lagi”. Begitu mengubah cara pikir, ia bisa melihat bahwa status newbie ini justru melegakan. Sebagai pemula, ia tidak lagi harus selalu benar dan sempurna. Pemula dimaklumi kalau masih mencoba-coba, dan sangat boleh keliru.

Begitulah, dalam kondisi serba kurang pasti tentang segala sesuatu, Jobs justru memasuki salah satu periode paling kreatif dalam hidupnya. Ia lantas mendirikan Pixar, perusahaan animasi yang fenomenal. Karena mendirikan Pixar, ia bertemu jodoh yang setia mendampinginya sampai ia mati. “Dipecat dari Apple adalah peristiwa terbaik dalam hidup saya,” refleksinya sebelum meninggal.

Apakah pengalaman batin anda meninggalkan zona nyaman persekolahan mirip seperti Jobs saat meninggalkan Apple? Nah, berarti mungkin juga, kelak kegalauan anda akan berubah jadi syukur. Ada peluang homeschooling membuat anda mengalami salah satu periode hidup paling kreatif dan bergairah bersama anak-anak. Namun, pertama-tama, ubah dulu sudut pandang anda agar bisa merayakan masa ketidakpastian ini.

***

Kini kita kembali ke pertanyaan awal. Apa yang harus anda lakukan untuk memulai proses homeschooling bersama anak-anak?

Jika kita sudah menangkap esensi dari homeschooling, kita akan sadar bahwa pertanyaan ini sebetulnya bermasalah. Ingatlah selalu, sebagai homeschooler, kita bebas. Dalam praktik homeschooling, kita boleh memilih cara mana saja yang paling tepat untuk situasi dan kebutuhan keluarga kita. Tidak ada kata “harus”.

Jadi, kalau muncul pertanyaan: “apa yang harus saya lakukan untuk memulai proses homeschooling?” dalam benak anda, alih-alih panik mencari jawaban, duduklah dulu dan pertanyakan pertanyaan itu.

Mengapa anda berpikir bahwa ada cara tertentu yang “harus” dilakukan untuk memulai homeschooling? Jangan-jangan itu pertanda anda masih terbelenggu oleh paradigma ala sekolahan, yang terlalu banyak harus ini harus itu, jangan ini jangan itu?

Bertanya seperti itu, jangan-jangan anda masih dikuasai oleh mentalitas serba menunggu diberi petunjuk? Atau pertanyaan itu dimotivasi oleh rasa takut salah – karena memang selama ini sistem pendidikan mendidik kita untuk sangat takut salah?

***

Kepada siapa pun pemula homeschooling yang didera oleh rasa takut salah, saya ingin sadurkan di sini kisah seorang profesor fotografi di Universitas Florida bernama Jerry Uelsmann (sumbernya: buku Atomic Habits karya James Clear).

Suatu semester, Jerry membuka kuliahnya dengan membagi para mahasiswa menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dinamai kelompok “kuantitas”. Kelompok kedua dinamai kelompok “kualitas”.

Pada kelompok pertama, Jerry bilang: “Kalian akan dinilai semata-mata dari jumlah karya yang kalian hasilkan.” Di akhir semester nanti, Jerry akan menghitung karya mereka. Mahasiswa yang menghasilkan 100 foto dapat nilai A, yang 90 foto nilai B, yang 80 foto nilai C, dst.

Pada kelompok kedua, Jerry bilang: “Kalian akan dinilai semata-mata dari bagusnya karya yang kalian hasilkan.” Mahasiswa di kelompok kualitas ini cukup menyerahkan satu foto di akhir semester, tapi untuk mendapatkan nilai A, imaji foto itu haruslah mendekati keindahan sempurna.

Di akhir semester, Jerry kaget mendapati karya-karya foto terbaik di kelasnya berasal kelompok “kuantitas”, bukan kelompok “kualitas”. Kok bisa?

Sepanjang semester, para mahasiswa di kelompok kuantitas terus memotret. Lewat ratusan trial and error, mereka jadi paham soal komposisi, pencahayaan, metode pengolahan film di kamar gelap, dsb. Keterampilan mereka lambat laun meningkat, hasil jepretan kamera mereka makin bagus.

Pada saat yang sama, para mahasiswa di kelompok kualitas lebih banyak disibukkan berpikir dan berdebat tentang bagaimana menghasilkan imaji potret yang sempurna. Di akhir semester, mereka punya banyak teori – yang belum terbukti – dan hanya beberapa lembar foto dengan mutu rata-rata.

Pesan moralnya: mudah sekali kita terperangkap oleh kegalauan merumuskan rencana paling optimal untuk mencapai hasil; kita terlalu sibuk menimbang mana pendekatan yang terbaik, hingga akhirnya tidak pernah beraksi – dan tidak pernah sampai ke mana-mana.

***

Bertanya: “Bagaimana saya harus memulai homeschooling?” tak akan pernah memberi anda jawaban memuaskan. Soalnya, tak satu narasumber pun mampu menjawabnya. Bagaimana mereka tahu cara apa yang paling tepat untuk anda?

Jika berjumpa dengan praktisi senior, lebih baik tanyakanlah, “Bagaimana anda dulu memulai homeschooling?” – kumpulkan cerita sebanyak-banyaknya sebagai bahan rujukan. Anda akan dapati bahwa variasi cara memulai homeschooling banyak sekali:

  • Ada yang memulai dengan banyak ngobrol dengan anak.
  • Ada yang memulai dengan riset aneka filosofi dan metode pendidikan.
  • Ada yang memulai dengan mendisiplin anak melakukan tugas domestik sehari-hari (chores).
  • Ada yang memulai dengan melanjutkan materi sekolah.
  • Ada yang memulai dengan mencontek kurikulum keluarga homeschooler lain.
  • Ada yang tidak ngapa-ngapain, anak dibebaskan melakukan apa saja yang mereka suka.
  • Dlsb.

Dengarkan semuanya, tapi tak harus meniru plek siapa-siapa. Cara yang tepat buat keluarga lain belum tentu tepat buat keluarga anda. Anda menyimak untuk mencari inspirasi.

Apa pun yang anda rasa bagus buat dijalankan bersama anak-anak, dan memungkinkan untuk kalian kerjakan, jalankan saja. Metode A sepertinya keren? Kurikulum B sepertinya cocok? Teknik C sepertinya menarik? Terapkan saja. Kalaupun belakangan anda dapati itu tidak pas, anda bebas memodifikasinya, menggantinya, atau meramunya dengan metode, kurikulum, atau teknik yang lain. Tidak masalah. Bebas.

Saat ini anda berada di zona belajar. Ini zonanya bereksperimen, coba dan ralat, trial and error. Salah? Tidak masalah. Keliru? Tak perlu malu. Yang penting anda punya kerendahan hati untuk terus belajar dari semua kesalahan dan kekeliruan itu. Percayalah, dari coba ralat dan jatuh bangun, anda dan anak-anak bakal banyak belajar dan bertumbuh di jalan pendidikan berbasis keluarga.

Tekuni terus saja petualangan belajar ini, maka beberapa tahun dari sekarang, kalian akan meninggalkan status homeschooler pemula. Kalian akan menjelma jadi homeschooler berpengalaman yang bisa tersenyum penuh arti kalau ada yang bertanya: “Apa yang harus saya lakukan untuk memulai homeschooling?”.

insecurity

Tertarik Homeschooling tapi Ragu Mampu atau Tidak?

Ada ayah-ibu yang sebetulnya sangat tertarik pada gagasan homeschooling, tapi terus ragu untuk memutuskan menjalaninya. Satu pertanyaan yang selalu menghantui adalah, “Apakah aku/kami mampu?”.

Ada yang merasa tidak cukup pintar. Ada yang merasa tidak cukup sabar. Ada yang cemas tidak bisa membagi waktu dengan baik antara kerjaan dan anak. Ada yang takut pada kata orang, terutama kakek-neneknya anak-anak. Dst.

Jika anda termasuk golongan yang “maju mundur cantik” tiap kali hendak memutuskan jadi homeschooling atau tidak, artikel ini untuk anda.

***

Pertama-tama, kita sadari bersama dulu bahwa homeschooling memang bukan pilihan yang tepat untuk semua keluarga. Karena itu, kami tak pernah bilang bahwa semua keluarga bisa atau harus menjadi homeschooler.

Jika merujuk pada riset Barnett (1995), manfaat homeschooling atau sekolah itu bersifat relatif. Kalau lingkungan keluarganya sangat mendukung tumbuh kembang anak, homeschooling bisa lebih bermanfaat dibanding bersekolah. Sebaliknya, kalau lingkungan keluarganya justru menghambat tumbuh kembang anak, bersekolah lebih baik dibanding homeschooling.

Barnett mendapati, anak dari keluarga miskin jauh lebih diuntungkan dengan opsi bersekolah. Sebaliknya, anak-anak dari kelompok menengah atas justru akan lebih maju jika menjalani pendidikan berbasis keluarga dibanding kalau dititipkan ke lembaga, terutama di tahun-tahun awal kehidupan mereka.

“Pendidikan institusional tidak sama menguntungkan atau merugikan semua siswa, namun hanya relatif menguntungkan atau merugikan dibandingkan dengan kualitas perawatan di rumah,” demikian simpul Barnett. Kesimpulan ini didukung oleh studi Universitas Durham (2007).

***

Dengan kata lain, ada keluarga yang secara objektif memang nyaris mustahil menjalani homeschooling. Untuk keluarga-keluarga semacam ini pendidikan berbasis lembaga tetap dibutuhkan demi kepentingan terbaik anak.

Yang tidak cocok untuk homeschooling pertama-tama, tentu saja, adalah orangtua yang terganggu kejiwaannya dan tidak ada niat memperbaiki diri.

Orangtua yang suka melakukan kekerasan (abusive) tapi merasa dirinya benar dan tak perlu  berubah, jangan sampai homeschooling. Orangtua yang punya mentalitas mengabaikan anak (child-neglect), jangan sampai homeschooling. Orangtua yang benci pada anaknya sendiri, jangan sampai homeschooling. Orangtua yang mengidap gangguan jiwa berat, jangan sampai homeschooling.

Buat kategori orangtua seperti ini, pemerintah justru harus punya kebijakan yang mencegah mereka menjalankan homeschooling. Kalau tidak akan muncul kasus-kasus kejahatan terhadap anak yang disembunyikan di balik label homeschooling.

***

Kedua, yang tidak cocok untuk homeschooling adalah orangtua yang tidak menganggap homeschooling itu prioritas hidupnya.

Orangtua yang (saat ini) merasa meniti karir atau mengembangkan bisnisnya lebih penting dibanding mengurusi pendidikan anak, maka janganlah homeschooling (dulu). Orangtua yang (saat ini) merasa me time-nya jauh lebih penting dibanding mendampingi anak bertumbuh kembang, janganlah homeschooling (dulu).

Dan kategori orangtua ini biasanya memang tidak akan serius memikirkan opsi homeschooling. Jadi tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

***

Situasi objektif ketiga yang tidak cocok untuk homeschooling adalah kalau orangtua secara ekonomi begitu tertekan, sehingga tak tersisa lagi waktu dan energi untuk memikirkan atau menjalankan program pendidikan buat anak.

Suami istri yang dua-duanya sibuk bekerja dari pagi sampai malam, dan kalau tidak bekerja satu rumah tidak bisa makan, jangan homeschooling. Seperti temuan Barnett, kemiskinan adalah penghalang besar untuk memilih homeschooling.

***

Situasi objektif keempat yang tidak cocok untuk homeschooling adalah kalau pasangan suami-istri tidak sepakat menjalani homeschooling.

Karena homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga, prosesnya akan sulit berjalan kalau si ayah pro homeschooling tapi ibu kontra, atau sebaliknya. Suami-istri mesti sepakat dulu bahwa ini pilihan mereka bersama, baru menjalankan.

Tidak masalah kalau sehari-hari yang bisa mendampingi proses belajarnya hanya ibu, asal si ayah mendukung; atau sebaliknya. Ada keluarga-keluarga yang suami bekerja di luar kota/pulau, istri single fighter menjadi fasilitator homeschooling anak-anaknya, dan ternyata itu bisa berjalan baik.

Sebaiknya tidak memaksakan diri homeschooling kalau pasangan belum setuju. Nanti kalau ada apa-apa, pihak yang tidak setuju akan menyalahkan pihak yang berinisiatif homescholing. Situasi seperti inilah yang membuat sejumlah keluarga gagal homeschooling, berhenti setelah 1-2 tahun menjalani. Ini hanya akan merugikan anak-anak.

***

Selain beberapa situasi objektif di atas, halangan untuk homeschooling pada umumnya subjektif. Merasa tidak mampu.

Subjektivitas ini sama sekali bukan urusan sepele, malah sering lebih menentukan hasil dibanding situasi objektif. Psikolog kondang Martin Seligman bilang perasaan tak berdaya (helplessness) akan mewujud jadi ketidakberdayaan sungguhan.

Sebaliknya, manusia selalu bisa cari cara melepaskan diri dari belenggu keadaan objektif asal punya tekad subjektif yang kuat. Sangat sering terjadi, yang semula merasa tidak mampu, setelah terjun dan mencoba ternyata mampu

Jika anda telah luas berkenalan dengan keluarga homeschooler, akan terlihat banyak ayah-ibu yang kondisinya sangat sulit, tapi ternyata bisa homeschooling.

Ada orangtua homeschooler yang single parent, yang bekerja full time, yang anaknya banyak, yang ekonominya pas-pasan, yang tidak punya gelar sarjana, yang masa lalunya kelam, dan aneka tantangan yang sering dikira membuat mereka tidak mungkin homeschooling. Kenyataannya, mereka bisa menjalani dan anak-anak mereka pun tumbuh dengan baik.

***

Ragu cukup pintar atau tidak? Ragu cukup sabar atau tidak? Ragu mampu mengelola waktu atau tidak? Ragu cukup tangguh atau tidak menghadapi tekanan lingkungan? Ini lebih ke soal rasa percaya diri, terutama soal keberanian mengambil risiko.

Menurut film dokumenter BBC serial The Human Body, keberanian mengambil risiko dibentuk terutama pada masa remaja. Kalau selama masa remaja, anda terbiasa bereksperimen dengan hidup, membuat pilihan-pilihan secara mandiri, setelah dewasa tidak akan susah bagi anda untuk membuat pilihan “berisiko” dan anti-mainstream seperti homeschooling.

Sebaliknya, kalau seumur hidup anda terbiasa apa-apa diatur dan dipilihkan orang lain, ikut-ikutan tren, mentalitas kerumunan, tentu saja akan ketar-ketir kalau dihadapkan pilihan keluar dari zona nyaman, menjadi kaum minoritas seperti homeschooler, mendidik anak tanpa diarahkan lagi oleh lembaga.

Selain pengalaman, tipe kepribadian juga akan menentukan kecepatan anda memilih. Pribadi orangtua yang optimis sering lebih “nekad” mengambil keputusan. Mottonya: “jalan dulu, masalah diurus belakangan!”. Sementara, pribadi orangtua yang pesimis perlu berpikir beribu-ribu kali karena menimbang semua potensi kesulitan secara detil.

Ada orangtua yang butuh 10 menit saja untuk mantap memutuskan homeschooling. Ada orangtua yang butuh bertahun-tahun sebelum bisa memutuskan. Tidak masalah. Yang penting akhirnya bisa memutuskan. Proses mengambil keputusan ini sendiri adalah bagian dari pendewasaan kepribadian kita sebagai orangtua.

***

Ringkasnya, kalau anda ragu, “Aku mampu atau tidak ya?” – coba dianalisis dulu keraguan itu bersumber dari hambatan objektif (betul-betul tidak mampu) atau subjektif (merasa tidak mampu).

Kalau yang menghalangi anda adalah situasi objektif, sepertinya memang lebih baik melepas niat untuk homeschooling. Tunggu sampai keadaannya memungkinkan, baru timbang ulang opsi ini.

Namun, kalau halangannya lebih bersifat subjektif, soal perasaan dan kepercayaan diri dan keberanian mengambil risiko, berarti yang lebih perlu diklarifikasi adalah: “Seberapa saya meyakini homeschooling ini baik dan benar untuk keluarga saya?”.

Berpusatlah pada ide, bukan pada kemampuan saat ini. Kata Stephen Covey: begin with the end in mind. Mulailah dari tujuannya, baru kemudian mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu.

***

Mari bandingkan dengan proses kita memutuskan untuk menikah. Apakah pada saat menikah kita sudah punya semua kualitas untuk menjadi istri atau suami yang baik? Kemungkinan besar belum. Tapi kita tetap menikah karena menurut kita menikah itu bagus dan penting.

Nanti setelah menikah akan kelihatan bahwa kita banyak kekurangan. Kita mungkin kurang sabar menghadapi pasangan, atau kurang pintar masak, atau kurang rajin bekerja. Tak apa. Selama kita masih menganggap pernikahan itu penting, kita bakal belajar untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan itu.

Nanti setelah menikah, kita bakal menghadapi banyak masalah. Beberapa masalah bahkan begitu besar, krisis-krisis yang tak terbayangkan saat dulu kita memutuskan untuk menikah. Tapi selama kita masih menganggap pernikahan itu penting, kita akan berjuang mengatasi semua masalah itu.

***

Homeschooling pun demikian. Sama seperti anda semua, tidak ada orangtua homeschooler yang sempurna. Dulu waktu memutuskan homeschooling, kami tidak sempurna. Sekarang setelah jadi homeschooler, kami masih juga belum sempurna. Tapi kami memutuskan untuk homeschooling karena buat kami ini adalah ide yang bagus dan penting.

Siapa bilang untuk menjadi orangtua homeschooler kita harus jadi pribadi yang sempurna dulu? Harus sesabar malaikat? Harus sepintar profesor? Itu jelas mitos. Orang yang bicara seperti itu tujuannya kemungkinan besar adalah untuk mengintimidasi, entah untuk mengintimidasi orang lain, atau untuk mengintimidasi diri sendiri.

Yang anak-anak homeschooler butuhkan bukan orangtua yang serba tahu dan tanpa cacat cela, melainkan ayah-ibu yang punya komitmen dan tekad untuk terus memperbaiki diri, untuk belajar dan bertumbuh bersama anak-anak.

Saat ini kurang sabar? Ya nanti sambil jalan kita latihan biar lebih sabar. Saat ini kurang pintar? Ya nanti sambil jalan kita belajar supaya lebih tahu banyak hal. Saat ini belum mahir manajemen waktu? Ya nanti sambil jalan trial and error cari pengaturan yang paling pas. Saat ini kurang tangguh menghadapi tekanan lingkungan? Ya justru ini kesempatan kita untuk mendapat ketangguhan yang pada masa lalu belum tergembleng dalam diri kita.

Asal mau, kemampuan manusia itu bisa berkembang! Kalau tidak percaya hal ini, berarti anda memang tidak cocok untuk homeschooling.

===

Sumber Bacaan:

Barnett, W. S. 1995. Long-term effects of early childhood education on cognitive and school outcomes. The Future of Children 5 (3): 25–50.

Durham University. 2007. Government’s early education measures yet to make an impact. 28 Sept.

right left

Pilih Sekolah atau Homeschooling, Bagaimana Memutuskannya?

Kata orang, hidup itu pilihan. Tiap pilihan punya konsekuensi. Tiap pilihan ada plus dan minusnya. Begitu pula soal memilih antara menyekolahkan anak dan homeschooling.

Sekolah formal ada kelebihannya, tapi tak sedikit kekurangannya. Homeschooling ada enaknya, tapi banyak juga tantangannya.

Apalagi setelah orangtua paham bedanya homeschooling sungguhan dengan lembaga berlabel homeschooling, bisa jadi muncul rasa keder, beranikah menjalani pendidikan yang betul-betul berbasis keluarga, tanpa tergantung lagi pada lembaga.

Dalam kebimbangan, bagaimana orangtua harus memutuskan pilihan, sekolah atau homeschooling?

***

Rumus dasarnya sebetulnya sesederhana ini: kalau anda merasa sekolah sudah memenuhi semua idealisme dan kebutuhan anda soal pendidikan anak, anda tidak perlu menimbang-nimbang ingin homeschooling.

Sebaliknya, kalau anda merasa ada yang tidak pas dengan praktik persekolahan, atau anda menganggap sekolah yang ada di sekeliling anda belum bisa memuaskan idealisme dan kebutuhan pendidikan keluarga anda, tentu saja anda berhak untuk menimbang-nimbang homeschooling.

Rumus ini didasari pemahaman bahwa sekolah atau homeschooling adalah sarana saja. Sarana diciptakan supaya manusia bisa mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan yang berbeda, sangat mungkin butuh sarana yang berbeda.

Mau makan butuhnya ya sendok, bukan bolpen. Mau menulis butuhnya ya bolpen, bukan sendok. Konyol sekali kalau ada orang yang memaksakan diri memakai satu alat yang jelas-jelas tidak cocok untuk tujuannya. Ibarat makan dengan bolpen, menulis dengan sendok.

***

Problemnya, sepanjang sejarah, manusia itu suka aneh. Kita menciptakan sarana, tapi lalu bingung sendiri, gagal membedakan yang mana sarana dan yang mana tujuan. Sarana malah dianggap sebagai tujuan. Alhasil, sarana merajalela, memperbudak kita.

Dulu manusia menciptakan uang sebagai alat tukar untuk memudahkan perdagangan. Tapi sekarang berapa banyak orang diperbudak uang? Sampai tubuh rusak, sampai tak ada waktu untuk pasangan dan anak, sampai merusak alam dan menindas sesama, demi uang.

Dulu manusia menciptakan telepon genggam untuk memudahkan komunikasi. Tapi sekarang berapa banyak orang merasa tak bisa hidup tanpa telepon genggam? Dari bangun tidur sampai tidur lagi, menempel ke HP. Makin terkoneksi (internet) malah makin soliter.

Begitu pula manusia menciptakan sekolah sebagai sarana mendidik. Tapi sekarang berapa banyak orang yang jadi mendewakan sekolah, mendewakan ijazah? Anak paham tidak paham ilmunya dianggap bukan masalah, selama rapor bagus dan ijazah di tangan. Alhasil, muncul praktik jual beli kunci jawaban ujian dan beli ijazah.

***

Homeschooling hadir sebagai perlawanan terhadap paradigma yang merancukan alat dengan tujuan. Homeschooling memunculkan kembali percakapan tentang hakikat pendidikan.

Apa arti pendidikan bagi keluarga anda? Apa visi pendidikan keluarga anda? Pribadi anak macam apa yang anda dan pasangan cita-citakan akan terwujud kelak di ujung proses pendidikan?

Kalau buat kami homeschooler “pendidikan” lebih luas dibanding “persekolahan”. Kami menentang kalau keduanya dianggap identik. Siapa bilang pendidikan hanya bisa terjadi di sekolah? Itu keliru besar.

Bebas dari belenggu mitos bahwa “pendidikan = persekolahan” ini membuat kami homeschooler tidak takut  memilih opsi pendidikan selain persekolahan. Karena kami berpusat pada tujuan, bukan alat.

Di mata homeschooler, sekolah itu alat saja, harusnya dipakai oleh orang-orang yang merasa alat itu cocok dengan tujuan mereka.

Namun, kalau ternyata alat bernama “sekolah” itu tidak memenuhi tujuan dan kebutuhan pendidikan keluarga anda, buat apa repot-repot sekolah? Apa salahnya cari alat yang lain?

Ijazah itu juga alat saja. Kalau butuh ya diusahakan. Kalau tidak butuh ya tidak perlu dipikirkan. Atau kalau butuhnya tidak buru-buru, ya santai-santai saja mengejarnya (artikel tentang cara homeschooler mendapat ijazah menyusul).

***

Dari logika di atas, untuk memutuskan pilih sekolah atau homeschooling, anda butuh melakukan tiga langkah.

Pertama, merumuskan secara jelas visi, cita-cita, atau tujuan pendidikan keluarga anda.

Kalau anda butuhnya ijazah bonafid, saran kami, jangan homeschooling. Anda akan rugi kalau homeschooling tapi cita-citanya sebatas dapat ijazah. Lebih baik berjuang masuk sekolah favorit yang ijazahnya punya citra mentereng.

Namun, kalau anda mencita-citakan anak yang dewasa secara emosional, otentik kepribadiannya, cepat mengenali minat-bakatnya, intim relasinya dengan orangtua, paham cara hidup dan bekerja di dunia nyata, punya etos belajar sepanjang hayat – homeschooling bisa jadi sarana yang bagus.

Semangat homeschooling adalah meminta setiap orangtua untuk menjadi pemikir mandiri soal cita-cita pendidikan mereka sendiri, memilih satu opsi bukan sekadar karena “semua orang juga begitu”.

Orang yang tidak punya tujuan jelas ditakdirkan untuk menghamba pada agenda orang lain. Orangtua yang tidak punya cita-cita pendidikan yang jernih adalah mangsa empuk para pebisnis pendidikan.

***

Setelah paham tujuan, untuk memilih antara sekolah atau homeschooling, langkah anda selanjutnya adalah mengenali karakteristik dari masing-masing opsi.

Umpamakanlah memilih sekolah atau homeschooling itu seperti anda hendak memilih produk investasi.

Kita orangtua ini kan berperan sebagai manajer kehidupan anak-anak. Di tangan kita dipercayakan ke mana waktu dan energi anak akan diinvestasikan.

Saat hendak menginvestasikan uang, biasanya kita sangat hati-hati.

Seandainya datang agen asuransi atau reksadana ke tempat kita, lalu promosi produk investasi mereka, “Dengan premi sekian setiap bulan, dalam sekian tahun anda akan dapat keuntungan sekian kali lipat, Pak, Bu!” Tak mungkin kita langsung percaya.

Pasti kita cek dulu kredibilitas perusahaan asuransi atau reksadana itu. Tawarannya masuk akal tidak? Kok bisa premi sekian menghasilkan keuntungan sejumlah berapa kali lipat? Logikanya bagaimana? Cara kerjanya seperti apa? Sudah ada buktinya atau belum bahwa return produknya betul seperti yang dijanjikan? Dst.

Kita tak akan investasikan uang kita ke produk yang meragukan. Kita pikir dan kalkulasi dulu bolak-balik sebelum tanda tangan.

***

Jika soal uang saja kita hati-hati, bukankah soal waktu kita mesti lebih hati-hati lagi?

Hakikatnya, waktu adalah modal yang jauh lebih berharga daripada uang. Uang hilang masih bisa dicari, tapi waktu yang lewat tidak akan pernah kembali.

Apalagi ini waktu bukan milik kita sendiri, tapi milik anak-anak. Untung rugi, anaklah yang paling merasakannya.

Berarti harusnya pilihan pendidikan juga dihitung lebih sungguhan dibanding investasi asuransi atau reksadana, karena ini proses yang akan memakan banyak sekali waktu dan energi anak.

Anak sekolah – berapa jam sehari dia habiskan untuk menjalani prosesnya?

Dari mulai siap-siap berangkat sekolah, berkegiatan di sekolah, pulang sekolah, sampai les pelajaran dan mengerjakan PR, durasinya dalam sehari bahkan bisa lebih panjang dibanding pegawai kantoran. Dan itu mereka jalani 5-6 hari dalam seminggu, selama belasan tahun.

Selama jam sekolah yang panjang bertahun-tahun itu, waktu dan energi anak dihabiskan untuk apa? Apakah manfaat yang anak peroleh setimpal dengan investasi itu? Saat lulus sekolah, apakah terbukti anak-anak mendapat keterampilan yang dia butuhkan, menjadi pribadi seperti yang dicita-citakan?

Anak homeschooling – waktu dan energi anak akan diinvestasikan untuk kegiatan apa saja? Dan itu semua akan menghasilkan anak yang seperti apa?

Kalau anda belum punya gambaran yang jelas, coba cari tahu dulu sampai betul-betul paham. Pelajari berbagai filosofi, metode, dan kurikulum homeschooling (ini nanti juga akan kami buatkan artikel-artikelnya).

Kenalan dan ngobrollah dengan keluarga-keluarga homeschooler sungguhan supaya tahu praktik keseharian mereka. Ikutilah acara komunitas-komunitas homeschooler. Pantau berita-berita dan baca riset-riset soal sepak terjang atau prestasi anak homeschooler.

Setelah paham, baru anda bandingkan, di antara semua “produk investasi” yang ditawarkan, mana yang paling menguntungkan buat anda dan anak-anak? Pilih secara rasional, bukan emosional.

***

Kita ulangi lagi ya. Untuk memutuskan pilih sekolah atau homeschooling, pertama-tama perjelas dulu: apa yang keluarga anda inginkan dan butuhkan dalam proses pendidikan?

Setelah itu, lakukanlah riset serius. Ada baiknya anda bikin inventarisasi aspek plus-minus masing-masing opsi. Mana yang lebih banyak manfaatnya daripada mudharat-nya. Mana yang secara prinsipiil lebih dekat dengan visi pendidikan keluarga anda tadi?

Kalau perbandingannya sudah terlihat, langkah terakhir adalah melangkah, beranilah ambil risiko. Jangan sampai terjebak pada analysis paralysis, menganalisaaaaa terus, tapi tidak ke mana-mana.

Yang namanya memilih itu sedikit banyak selalu ada risiko salah, tapi kebanyakan menimbang dan tak pernah berani memilih itu justru kesalahan terbesar dalam hidup ini.

stone age

Ide-ide Penting dalam Sejarah Homeschooling

Sama seperti segala hal yang ada di bawah kolong langit, homeschooling juga ada sejarahnya. Kayaknya klise banget ya kalau dibilang bahwa belajar sejarah itu penting. Tapi ternyata memang beneran penting lho!

Dengan belajar sejarah, kita bakal lebih paham ide-ide utama yang terkandung dalam konsep homeschooling. Kalau sudah paham, nggak bakalan lagi deh kita terkecoh oleh lembaga-lembaga yang pakai label homeschooling lalu menarik biaya mahal.

Dengan belajar sejarah juga, ketika sedang menimbang homeschooling, kita tidak akan terpaku pada urusan kurikulum dan teknis, tetapi refleksi dulu tentang perlu tidaknya homeschooling itu buat anak. Setujukah kita dengan ide-ide yang melatari model pendidikan ini?

Jadi, hari ini, ayo kita mundur ke masa lalu, melacak awal munculnya gerakan homeschooling, para pemikir dan perintisnya serta gagasan-gagasan mereka.

***

Gerakan homeschooling muncul dan menguat lewat paruh abad ke-20, mulai tahun 1960-an, sebagai respons terhadap schooling atau persekolahan.

Dari perspektif sejarah, sekolah itu institusi yang umurnya masih muda dibanding pendidikan berbasis keluarga. Ya iyalah, Zaman Batu dulu mana ada sekolah! Semua anak begitu lahir tentu saja langsung diasuh oleh orangtua dan komunitasnya.

Inisiatif mendirikan sekolah muncul pelan-pelan di berbagai bangsa. Namun awalnya, bersekolah itu tidak wajib. Cuma buat yang mau saja. Biasanya malah bersekolah itu privilese, khusus untuk putra-putri kaum elit. Format sekolahnya juga beda-beda, sesuai kultur masing-masing. Banyak yang konsepnya “nyantrik”.

Baru pada abad ke-16, di Jerman, oleh dorongan reformator Protestan yang bernama Martin Luther, Gereja mengeluarkan kebijakan wajib sekolah bagi semua anak. Tujuannya untuk menyeragamkan sudut pandang warga negara, waktu itu khususnya sudut pandang soal agama.

Dengan adanya kebijakan wajib sekolah atau compulsory education itu, orangtua yang tidak menyekolahkan anak akan dihukum, bisa didenda atau bahkan dipenjara. Sistem persekolahan pun makin ketat diklasifikasi per jenjang dan per kelas.

Kebijakan compulsory education ini ditiru oleh negara-negara Eropa lainnya, sampai kemudian juga dibawa ke Amerika. Nantinya bangsa Eropa akan memperkenalkan sistem persekolahan ini ke negara-negara jajahannya, termasuk Indonesia.

Ketika Eropa mengalami sekularisasi dan industrialisasi di era modern, sekolah pun beradaptasi dengan corak baru. Pendidikan jadi lebih bersifat utilitarian. Sekolah menjadi mesin besar untuk mencetak tenaga kerja siap pakai. Kurikulum dan spesialisasi dikembangkan agar sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar.

Tes terstandar dengan sistem penilaian baku dan sertifikasi menjadi penting sebagai alat penjamin mutu (quality control) lulusan sekolah. Lulus tes dengan nilai tinggi artinya siswa itu hebat.

***

Para pionir homeschooling adalah mereka yang gelisah melihat cara kerja sistem persekolahan modern. Konseptor besar gerakan homeschooling justru datang dari kalangan guru.

Yang pertama namanya John Holt (1923-1985).

Holt bukan guru ecek-ecek. Dia sangat berdedikasi dalam bekerja dan sepenuh hati ingin melihat murid-muridnya berkembang optimal. Bentuk dedikasinya antara lain dengan tekun melakukan observasi terhadap perilaku mereka. Hasil observasi Holt nantinya diterbitkan sebagai buku dengan judul How Children Fail (1964) dan How Children Learn (1967).

Dari observasinya itu, Holt merasa kecewa karena dia mendapati bahwa para siswanya ternyata di sekolah tidak belajar! Eh, tapi kalau tidak belajar, ngapain mereka di sekolah seharian?

Kata John Holt: mereka di sekolah bukan belajar, melainkan mengejar nilai. Bagi Holt, belajar dan mengejar nilai itu adalah dua aktivitas yang jauh berbeda. Anak bisa dapat nilai tinggi meski tidak belajar. Dan di sekolah, para siswa mengembangkan 1001 siasat supaya bisa dapat nilai tinggi tanpa harus belajar.

Holt merasa sangat kecewa karenanya. Dia yakin sebetulnya anak itu terlahir sebagai pemelajar. Sejak bayi, semua anak suka belajar. Namun, alih-alih merawat semangat belajar alami itu, sekolah malah melumpuhkan, bahkan mematikannya. Anak-anak tidak lagi belajar karena senang belajar. Mereka hanya mau “belajar” kalau diancam nilai jelek atau diimingi-imingi nilai bagus.

Belum lagi lingkungan sekolah juga membuat anak rentan dirundung (bullying). Anak yang banyak gerak dibilang nakal. Anak yang belum paham dibilang bodoh. Label ini diserap oleh anak. Anak jadi percaya bahwa dia betul-betul nakal, bodoh, dan predikat negatif lainnya.

Holt sempat berusaha mereformasi sekolahnya, tapi gagal. Akhirnya dengan kecewa, dia memilih berhenti dari posisi guru, dan menjadi advokat gerakan homeschooling. Dia bilang, “Bersekolah itu hak anak, tapi kalau bersekolah malah menyakiti entah tubuh atau jiwa anak, tidak bersekolah itu juga hak anak!”

***

Konseptor penting gerakan homeschooling berikutnya adalah guru reformis bernama Raymond Moore (1916-2007).

Berbeda dengan Holt yang liberal, Moore sosok religius. Dia melihat pentingnya peran orangtua sebagai pihak yang diberi otoritas oleh Tuhan sebagai pendidik pertama dan utama.

Karena itulah Moore sedih melihat tren anak dikirim ke sekolah pada usia yang makin lama makin muda. Itu berarti mereka makin cepat dipisahkan dari orangtua, yang seharusnya jadi role model utama mereka di tahun-tahun pertama kehidupan.

Dari risetnya, Moore juga mendapati, keyakinan bahwa anak harus disosialisasikan dengan teman-teman seumuran itu adalah mitos. Justru Moore melihat bahwa bergaul terlalu intens dengan teman sebaya itu bisa merusak anak, karena adanya peer pressure.

Moore juga melihat bahwa pendidikan di sekolah itu terlalu berat di aspek akademis. Padahal, menurutnya, hidup anak itu harusnya seimbang antara belajar akademis, bekerja, dan berkontribusi buat masyarakat.

Karena itu, Moore menolak tren jam belajar di sekolah yang makin panjang, PR yang begitu banyak, sampai anak tidak sempat dilatih untuk kerja riil sehari-hari dan mengabdi pada masyarakat.

Sama seperti Holt, Moore sempat berusaha mereformasi sistem sekolah, tetapi frustrasi karena tak kunjung berhasil, dan akhirnya memilih jadi advokat gerakan homeschooling.

***

Nantinya akan muncul beberapa tokoh lagi dalam gerakan homeschooling, tapi ide-ide pokoknya tetap berkisar di pemikiran Holt dan Moore, yakni:

  • Bahwa anak punya kodrat alami sebagai pemelajar
  • Bahwa anak harus diberi otonomi untuk menentukan agenda belajarnya sendiri
  • Bahwa sistem nilai, ranking, dan iming-iming (extrinsic rewards) hanya akan melumpuhkan rasa cinta belajar anak
  • Bahwa tujuan pendidikan itu harusnya holistik dan humanis, bukan menjadikan anak sebagai objek, komoditas, atau instrumen untuk kepentingan politik-ekonomi penguasa
  • Bahwa otoritas untuk menentukan arah pendidikan anak terutama ada di tangan orangtua, bukan lembaga sekolah
  • Bahwa belajar dan pendidikan itu tidak identik dengan persekolahan
  • Bahwa bersekolah itu hak, bukan kewajiban
  • Bahwa jika sistem persekolahan utilitarian dan menindas, demi kepentingan terbaik anak, sebaiknya anak tidak usah sekolah
  • Bahwa jika orangtua berkomitmen mendampingi, anak bisa bertumbuh kembang dengan baik tanpa harus bersekolah

***

Sejarah homeschooling selanjutnya berisi kisah-kisah perjuangan para orangtua yang meyakini ide-ide tersebut.

Demi melawan kebijakan “wajib sekolah”, para pionir homeschooling berani berkorban banyak hal. Mereka sampai rela ditangkap polisi dan masuk penjara demi mempertahankan hak mendidik sendiri anak-anak, tanpa tergantung pada lembaga sekolah.

Agar hak keluarga menjalankan homeschooling dilegalkan, para homeschooler lantas mengorganisir diri dan melakukan advokasi kebijakan. Terjadi perdebatan sengit dengan pihak yang anti-homeschooling (tidak setuju kalau orangtua tidak mengirim anak ke sekolah).

Di Amerika, butuh waktu lumayan panjang dan kegigihan berjuang sebelum akhirnya homeschooling dianggap legal. Kebijakan melegalkan homeschooling ini lalu meluas ke seantero dunia. Meski di beberapa negara masih dianggap ilegal, homeschooling kini mulai jadi pilihan pendidikan mainstream buat jutaan anak.

“Gelombang pasang homeschooling adalah salah satu tren sosial paling signifikan di paruh akhir abad ini.” Begitu kata Patricia M Lines, editor jurnal Humanitas dan pengajar di Harvard University.

***

Sampai di sini, semoga teman-teman makin paham tentang konsep dan semangat dasar homeschooling. Belajar itu penting, pendidikan terbaik untuk anak itu harus, tapi bersekolah? Tidak wajib.

Dari sejarah itu terlihat juga bahwa memutuskan untuk homeschooling di tengah masyarakat yang dibelenggu paradigma sekolahan berarti memilih jadi kaum minoritas. Tentangan, cibiran, bahkan diskriminasi bukan hal yang aneh bagi homeschooler.

Tapi mengapa kita maju terus sekalipun mengalami banyak kesulitan? Untuk apa kita meninggalkan kenyamanan sistem sekolah yang mapan, dan “cari penyakit” bersusah-susah di jalur homeschooling? Karena hati kita tertambat pada ide-ide penting yang melandasinya.

Kita bersyukur hukum di Indonesia cukup progresif dan melegalkan homeschooling, tapi itu bukan berarti homeschooler tinggal leha-leha. Kita pun perlu gigih berjuang, melakukan advokasi, supaya kebijakan dan praktik yang masih diskriminatif pada anak homeschooler bisa dihapuskan.

***

Untuk tujuan advokasi pulalah PHI berdiri. Visi keluarga-keluarga homeschooler yang bergabung di PHI adalah agar semua anak Indonesia, termasuk anak homeschooler, dilindungi haknya untuk belajar secara merdeka, setara, dan berkualitas. Masih banyak PR kita agar visi itu tercapai.

Sampai di sini, semoga teman-teman juga lebih mafhum mengapa secara prinsipiil PHI menolak pemakaian istilah homeschooling untuk nama lembaga. Itu adalah praktik yang ahistoris dan merugikan kepentingan homeschooler.

Yang kami mau adalah orangtua makin berdaya dan anak makin merdeka dalam menentukan pilihan pendidikan mereka, bukannya malah dikondisikan kembali tergantung pada lembaga.

Yang kami mau adalah publik makin terbuka matanya dan mendukung pilihan pendidikan berbasis keluarga, bukannya bingung arti homeschooling yang sebenarnya.

===

Sumber bacaan:

Lines, Patricia M. 2000. “Homeschooling Comes of Age”. The Public Interest, 140, hlm. 74-85.

Murphy, Joseph. 2012. Homeschooling in America: Capturing and Assessing the Movement. New York: Corwin Press.

Rothbard, Murray N. 1999. Education: Free and Compulsory. Alabama: Ludwig von Mises Institute.

Stevens, Mitchell. 2001. Kingdom of Children: Culture and Controversy in the Homeschooling Movement. New Jersey: Princeton University Press.

===

Foto: history.com