Anda di sini
Beranda > Artikel > Mengenal Metode Montessori

Mengenal Metode Montessori

Nama Montessori sepertinya sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Sekolah berlabel Montessori bertebaran di berbagai kota, kebanyakan untuk jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar, dan seringkali harga SPP-nya mahal.

Yang belum banyak diketahui publik adalah bahwa metode Montessori sebetulnya tidak harus dipraktikkan dalam wujud institusi sekolah. Keluarga homeschooler juga bisa mengadopsi prinsip-prinsipnya untuk praktik belajar bersama anak-anak dalam pendidikan berbasis keluarga.

Dan ternyata, menurut para keluarga homeschooler praktisi Montessori, menerapkan metode ini tidak harus mahal. Asalkan paham prinsip-prinsipnya, orangtua bisa mengupayakan sumberdaya belajar dengan biaya yang terjangkau.

***

Metode Montessori dikembangkan oleh Maria Montessori (1870-1952), seorang perempuan berkebangsaan Italia. Sejak kecil, Montessori terkenal cerdas dan berkemauan kuat. Dia menerobos tembok tradisi akademis kedokteran Italia yang didominasi oleh laki-laki sampai akhirnya berhasil menjadi dokter.

Setelah lulus sebagai dokter, Montessori mendalami ilmu kesehatan jiwa (psikiatri). Dalam kerjanya, dia banyak mengunjungi rumah sakit jiwa (asylum) dan mengamati anak-anak yang terbelakang secara mental atau berkebutuhan khusus. Pada waktu itu, anak-anak dengan kondisi macam ini disebut “idiot”, dianggap sampah dan diasingkan dari masyarakat.

Montessori kemudian mengembangkan metode belajar yang terbukti sangat efektif untuk membantu anak-anak yang berada di asylum untuk bisa membaca dan menulis layaknya anak normal. Ketika dites, kemampuan mereka bahkan bisa menandingi anak-anak sekolah umum.

Fakta ini membuat Montessori berkomentar, “Sementara semua orang mengagumi anak-anak idiot saya, saya malah sedang mencari tahu apa sebabnya anak-anak yang sehat dan gembira di sekolah-sekolah umum berprestasi begitu rendah, sehingga mereka bisa disejajari dalam tes inteligensia oleh siswa-siswa saya yang kurang beruntung itu?”

Dari situ, Montessori lantas menyempurnakan metodenya agar bisa diterapkan juga untuk anak-anak pada umumnya. Bulan Januari 1907, dia mendirikan PAUD-nya sendiri dengan nama Casa dei Bambini (artinya, rumah anak-anak). Animo masyarakat sangat tinggi, dan segera sekolah ala Montessori ini meluas ke seluruh Italia, bahkan ke dunia.

***

Pendidikan Montessori berangkat dari keyakinan bahwa tiap anak itu unik, sehingga tidak perlu dikompetisikan satu sama lain. Tujuan akhir pendidikan Montessori adalah agar anak mengalami “normalisasi”, yakni ketika anak bisa hidup harmonis dan seimbang dengan lingkungan sekitarnya, menjadi warga dunia pencipta damai (peacemaker).

Metode Montessori sangat mendorong anak-anak untuk menjelajah lingkungan dan alat-alat di sekitarnya. Mereka diarahkan untuk bekerja secara individual, mandiri, tenang, kooperatif, dan sistematis. Anak didorong untuk mampu membuat keputusan sediri, cerdik menghadapi masalahnya, disiplin mengerjakan tugas, hidup secara teratur, punya inisiatif, realistis, mau berbagi, dan berjiwa pemimpin.

Yang khas pada sekolah Montessori adalah ruang-ruang kelasnya yang berperabot ukuran kecil, seukuran anak-anak. Mulai dari meja dan kursi, toilet, tempat cuci tangan, sampai peralatan sehari-hari seperti sapu dan pengki dirancang sesuai proporsi tubuh anak.

Selain itu sekolah Montessori juga menyediakan berbagai alat peraga (apparatus). Semua alat peraga ini disusun secara teratur, mulai dari sederhana sampai kompleks, di rak-rak rendah yang bisa dijangkau oleh anak-anak.

***

Konsep kunci dalam metode Montessori adalah teori tentang periode sensitif (sensitive period). Periode sensitif adalah masa saat anak terbuka, tertarik, termotivasi dan mampu belajar area perkembangan dengan motivasi dari dalam dirinya sendiri.

Motivasi dari dalam diri untuk belajar ini akan terlihat dari kegigihan anak melakukan sesuatu tanpa henti, tanpa capek, berulang-ulang dalam waktu lama, seperti bermain air atau menulis di papan tulis atau kertas, sampai dia mahir melakukannya.

Menurut Montessori, ada 4 (empat) fase perkembangan anak dan setiap fase memiliki ciri-ciri khusus yang disebut sensitive period.

Fase perkembangan I (usia 0-6 tahun). Fase ini disebut sebagai fase benak yang menyerap seperti spons (absorbent mind), terdiri dari tahap penyerapan yang bersifat bawah sadar atau unconscious pada usia 0-3 tahun, dan tahap penyerapan sadar atau conscious pada usia 3-6 tahun. Semboyan di fase ini adalah “bantu aku bisa melakukannya sendiri”.

Periode sensitif dalam fase ini meliputi:

  • Ketertarikan pada keteraturan (usia 1-5 tahun)
  • Ketertarikan untuk bergerak (usia 0 s/d menjelang 4 tahun)
  • Ketertarikan untuk menjelajah (usia 2 s/d 3,5 tahun)
  • Ketertarikan dan mengembangkan panca indera (usia 3,5 s/d 6 tahun)
  • Ketertarikan pada benda kecil (usia 1,5 s/d sekitar 4 tahun)
  • Ketertarikan pada kegiatan yang bermakna (usia 2,5 s/d 5 tahun)
  • Ketertarikan pada bahasa (awal beberapa bulan setelah lahir s/d menjelang 6 tahun)
  • Ketertarikan pada musik (usia 2-6 tahun)
  • Ketertarikan pada matematika (usia 4-6 tahun)
  • Ketertarikan pada ruang atau spatial relationship (usia 4-8 tahun)
  • Ketertarikan pada etika dan sopan santun (usia 2,5 s/d 6 tahun)

Fase perkembangan II (usia 6-12 tahun). Fase ini disebut sebagai fase berpikir (reasoning mind), masa ketika anak mulai berlatih berpikir mandiri. Semboyannya adalah “bantu aku berpikir”.

Periode sensitif dalam fase ini meliputi:

  • Ketertarikan pada moralitas dan keadilan
  • Ketertarikan pada hubungan sosial
  • Ketertarikan pada nilai uang dan ekonomi
  • Ketertarikan pada imajinasi dan pemikiran yang abstrak
  • Ketertarikan pada pemakaian alat dan mesin
  • Ketertarikan pada sejarah dan waktu
  • Ketertarikan pada budaya, masyarakat dan keluarga.

Fase perkembangan III (usia 12-18 tahun). Fase ini disebut sebagai fase benak manusiawi (humanist mind) dan merupakan transisi kehidupan anak dari konteks keluarga ke masyarakat, menjadi independen secara sosial, ekonomi, dan emosional dari orangtuanya. Semboyannya adalah “bantu aku berpikir bersamamu”.

Periode sensitif dalam fase ini meliputi:

  • Ketertarikan pada martabat personal
  • Ketertarikan pada keadilan (baik dan tidak baik)
  • Ketertarikan yang bersifat emosional pada kerja bermakna untuk berkontribusi bagi komunitas, beraktivitas, membuat keputusan, menjadi pemimpin, dan bereksperimen/membuat kesalahan
  • Ketertarikan yang bersifat intelektual untuk berpikir kritis, berkreasi dan mengekspresikan diri
  • Ketertarikan pada hubungan sosial

Fase perkembangan IV (usia 18-24 tahun). Fase ini disebut sebagai fase benak yang mendalami bidang khusus (specialist mind). Semboyannya adalah “bagaimana aku bisa membantumu”.

Periode sensitif dalam fase ini meliputi:

  • Ketertarikan pada pengetahuan tentang diri sendiri (self-knowledge) dan aktualisasi diri (self-realization)
  • Ketertarikan untuk menjadi independen dalam hal moral dan spirtual.

***

Tugas orangtua praktisi Montessori adalah bersikap peka terhadap isyarat-isyarat periode sensitif anak. Contohnya, di usia 0-6 tahun, anak suka yang kongkrit-kongkrit dan tertarik pada benda-benda kecil, maka orangtua menyediakan aparatus yang dibuat serba mini sesuai dengan periode sensitif anak. Kemudian saat belajar matematika, konsep-konsep yang abstrak mesti dikongkritkan, misalnya dengan menggunakan alat peraga (manipulatives) yang menstimulasi panca indera anak.

Orangtua homeschooler yang ingin menerapkan metode ini harus berlatih menjadi pengamat yang objektif dan cermat, lalu bisa menanggapi isyarat dari anak secara kreatif dan fleksibel. Misalnya, kalau melihat anak sedang suka musik, orangtua perlu mendukung dengan menyiapkan lingkungan yang membantu anak mengeksplorasi musik, misalnya mengenalkan alat musik, memainkan alat musik, bernyanyi, membuat alat musik sendiri, dll. – ini tidak harus mahal, asal orangtua bisa memanfaatkan benda atau bahan di lingkungan sekitar.

Menurut metode Montessori, orangtua harus peka terhadap isyarat periode sensitif anak dan lekas mendukung, sebab kalau periode sensitifnya terlanjur lewat tapi anak tidak distimulasi dengan sesuai, nantinya bisa “terlambat” dalam arti untuk mengembangkannya bakal butuh usaha lebih besar.

Sebaliknya, jika orangtua peka dan mendukung anak di periode sensitifnya, pengembangan kemahiran anak tidak perlu banyak usaha. Anak akan mencari dan melakukan secara berulang dan tidak pernah capek untuk mencoba sampai mahir.

Catatan: Tulisan ini disarikan dari bahan dan percakapan Ngobrol Daring PHI sesi #13 tentang Metode Montessori.

Sumber foto: mmhcguwahati.org, wikipedia, isms.nsw.edu.au

Share it:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Top