Anda di sini
Beranda > Artikel > Mengenal Metode Charlotte Mason

Mengenal Metode Charlotte Mason

Meski di dunia pendidikan namanya tidak setenar Montessori, tapi metode Charlotte Mason relatif populer dan cukup banyak praktisinya di kalangan homeschooler, baik di luar negeri maupun di Indonesia.

Jika anda bertamu ke rumah keluarga homeschooler dan melihat ada banyak koleksi buku di sana, lalu mereka mulai menyebut-nyebut istilah atmosfer, habit training, living book, atau nature walk, kemungkinan besar anda sedang berhadapan dengan praktisi metode CM.

Seperti apa konsep-konsep kunci dalam metode CM? Bagaimana mempraktikkan metode ini dalam proses homeschooling? Yuk kita baca lebih lanjut di artikel ini.

***

Charlotte Mason (1842-1923), biasa disingkat CM, adalah pemikir pendidikan Inggris yang pernah sangat terkemuka pada masanya.  Setelah wafat, nama CM tenggelam seiring menguatnya gelombang sekularisme Eropa. Baru ketika gerakan homeschooling (HS) menguat di Amerika Serikat, ide-idenya digali kembali dan melejit menjadi salah satu metode HS paling populer – khususnya di kalangan orangtua yang menghasrati konsep pendidikan yang progresif tapi tetap religius.

Fokus metode CM adalah meluhurkan watak anak. Semua aspek pendidikan, termasuk pelajaran akademis dipandang sebagai sarana “terapi” agar karakter anak bertumbuh. Misalnya, dari belajar membaca, anak melatih kebiasaan memperhatikan; dari latihan menulis, anak melatih kebiasaan mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya; dari matematika, anak melatih kebiasan berpikir logis dan presisi.

Dengan kata lain, metode CM adalah metode pendidikan karakter, tapi karakter yang dimaksud  di sini sifatnya luas. CM meminta orangtua menggembleng anak baik dari segi jasmani, mental-intelektual, emosional, spiritual, maupun profesional.

***

Ada tiga hal yang CM anggap penting dalam proses menumbuhkan karakter anak secara menyeluruh:

Pertama, atmosfer.

Yang dimaksud atmosfer adalah teladan hidup orangtua. Karena anak adalah pengamat jeli dan peniru ulung, maka pikiran, kata-kata dan perilaku yang dipancarkan orangtua akan tertransfer ke diri anak. Jika orangtua suka membaca, maka anak cenderung ikut suka membaca. Jika orangtua khusyuk sembahyang, maka anak pun respek pada kegiatan ibadah. Dan sebaliknya.

Ini berarti, orangtua praktisi CM bukan hanya harus menyusun kurikulum belajar untuk anak, tapi juga kurikulum untuk dirinya sendiri. Dalam metode CM, orangtua dan anak adalah kawan seperjalanan dalam proses belajar. Jadi, sembari mendampingi anak, orangtua juga harus terus memperkaya bacaan, wawasan, pengalaman, juga memperbaiki kepribadiannya.

Kedua, disiplin.

Yang dimaksud disiplin adalah latihan kebiasaan-kebiasaan baik. CM memberi petunjuk tentang aneka kebiasaan baik yang perlu dilatihkan pada anak-anak sedini mungkin. Dua kebiasaan yang paling mendasar adalah habit of obedience dan habit of attention. Jika kedua kebiasaan ini telah mapan, maka baik proses akademis maupun kehidupan sehari-hari anak akan berjalan lancar.

Habit of obedience berarti anak dilatih menundukkan rasa suka tidak sukanya pada hati nurani, hukum alam, dan petunjuk ilahi. Anak dididik untuk membuat pilihan atas dasar benar atau tidak benar, bukan suka atau tidak suka; terbiasa untuk langsung mengerjakan kewajiban tanpa banyak alasan.

Habit of attention berarti anak dilatih untuk terbiasa berkonsentrasi pada apa pun yang sedang dia kerjakan sampai tuntas. Orangtua praktisi CM umumnya berhati-hati dengan apa pun yang membuat anak mudah terdistraksi. Konsumsi layar dan gawai cenderung sangat dibatasi sampai anak dianggap sudah bisa mengendalikan diri.

Ketiga, ide hidup.

Bagi praktisi CM, memberi makan pikiran itu sama pentingnya dengan memberi makan badan. Dan sama seperti tubuh perlu makanan yang bergizi, begitu pula pikiran manusia butuh ide-ide hidup. Sajian idenya pun harus cukup, beragam, dan teratur.

Ide-ide hidup itu khususnya tersaji dalam bentuk buku-buku. Anak-anak praktisi CM setiap hari diwajibkan dan didorong untuk membaca buku-buku bermutu – istilahnya, living books. Praktisi CM umumnya tidak memakai buku teks garing ala sekolahan, tapi buku-buku utuh yang ditulis oleh pengarang-pengarang terbaik.

Setelah membaca, anak diminta menceritakan kembali isi bacaannya – istilahnya, narasi. Praktisi CM menganggap narasi adalah metode evaluasi terbaik, jauh lebih unggul dibanding soal-soal pilihan ganda, isilah titik-titik, dan tes komprehensi lainnya.

***

Dalam hal akademis, praktisi CM mengenal dua fase belajar, yakni fase prasekolah dan fase belajar terstruktur.

Fase prasekolah (0 s/d 6-7 tahun)

Selama fase ini, yang diutamakan adalah pelatihan kebiasaan baik dan pengembangan minat belajar alamiah anak. Sama sekali tidak dijadwalkan pelajaran akademis apa pun. Di luar kewajiban sehari-harinya, anak merdeka melakukan apa saja, asal tidak melanggar prinsip kesehatan dan moralitas – istilahnya, masterly inactivity.

CM juga sangat menekankan pentingnya mendekatkan anak ke alam dan buku. Sedari dini, anak praktisi CM dibiasakan untuk banyak menghabiskan waktu di ruang terbuka, terutama di tempat-tempat yang masih alami, sesering dan selama mungkin.

Anak-anak juga setiap hari diekspos pada buku-buku berkualitas. Kalau anak sudah terbiasa dibacakan buku-buku bagus, kosakata dan keterampilan berbahasa mereka nantinya akan meningkat dan mereka akan mudah diajari belajar membaca, menulis, dan mencerna pelajaran akademis di tahap berikutnya.

Fase belajar terstruktur (paling cepat mulai usia 6 tahun)

Metode CM memakai konsep generous curriculum dan short lessons. Artinya, anak diberi banyak mata pelajaran, tetapi durasinya pendek-pendek. Dengan demikian wawasan anak akan luas, tapi dalam belajar ia tidak kelelahan.

Sebagai gambaran: di tahun pertama (setara kelas 1 SD), anak homeschooler praktisi CM biasanya hanya sesi akademis selama kurang lebih 1 jam dalam sehari, setelah itu ia bebas melakukan yang lain-lain, asalkan kewajibannya sudah selesai. Sesi berdurasi 1 jam itu sudah bisa meliputi:

  • Belajar membaca 5 menit
  • Belajar menulis 5 menit
  • Belajar matematika 10-15 menit
  • Mendengar bacaan dan memberikan narasi 15 menit (subjeknya bisa sejarah, geografi, sastra, agama, sains)
  • Membaca puisi 5 menit
  • Menghafalkan ayat kitab suci 5 menit
  • Subjek mingguan 10-15 menit (bisa hasta karya, studi lukisan, studi musik, atau studi alam)

Setelah sesi akademis berakhir, tidak ada PR lagi. Konsep short lessons dan tidak ada PR ini memungkinkan anak punya banyak waktu untuk menekuni apa pun yang ia minati.

Durasi, jumlah subjek, dan bobot kesulitan buku bacaan akan terus meningkat seiring bertambahnya usia anak. CM selalu menekankan pendidik bersifat lemah lembut, menyesuaikan target belajar dengan kepribadian dan kapasitas riil anak – jangan terlalu mudah sehingga ia bosan, tapi juga jangan terlalu sulit sehingga ia frustrasi.

***

Metode CM sangat menekankan pentingnya memahami filosofi (why) sebelum mulai menyusun materi apa saja yang perlu masuk ke kurikulum (what) dan cara mempelajari yang paling tepat (how). Teknis bisa berubah-ubah, prinsipnya tetap.

Penekanan pada penyelarasan antara filosofi dan praktik ini bisa terasa berat awalnya, terutama buat orangtua yang selama ini terbiasa dengan yang praktis-praktis dan tidak terbiasa berpikir filosofis. Namun, keuntungannya adalah: begitu sudah paham filosofinya, maka kendala apa pun yang orangtua hadapi di lapangan, ia akan cepat menemukan solusi yang tepat, karena paham prinsip-prinsip dasarnya.

Catatan: Tulisan ini disarikan dari bahan dan percakapan Ngobrol Daring PHI sesi #11 tentang Metode Charlotte Mason.

Share it:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Top