Keluarga Idaul2

Kisah Kami Mengatasi Keraguan Memilih Homeschooling

“Anakmu kelas berapa?” Ini pertanyaan yang jamak dilontarkan teman atau kerabat pada saya dan suami.

Ketika saya menjawab anak-anak belajar di rumah, pertanyaan berlanjut, “Mengapa memilih homeschooling?”

Wah, jawabannya tidak bisa satu dua kata. Bagi kami, memilih homeschooling adalah hasil dari suatu proses panjang memantapkan keyakinan tentang visi pendidikan keluarga kami.

Bikin Sekolah Sendiri

Saya dan suami sejak dulu cocok karena kami sama-sama suka belajar, suka membaca (boros kalau belanja buku), dan suka ngobrol bareng. Kami juga sama-sama ingin memberi pendidikan yang terbaik bagi anak-anak.

Semula, waktu anak masih kecil-kecil, kami lebih pilih bersama teman-teman mendirikan PAUD. Pikir kami, kalau punya PAUD sendiri, anak-anak kami terjamin kualitas pendidikannya dan sekolahnya tidak jauh dari rumah.

Begitulah dua anak pertama kami full bersekolah di PAUD. Lalu dari PAUD mereka melanjutkan ke sekolah dasar. Anak-anak tampak suka bersekolah.

Tidak Yakin Mampu Homeschooling

Ketika pertama kali kenal internet, sebelum anak-anak lahir, saya berselancar masuk ke beberapa grup diskusi daring (mailing list). Salah satunya milis Sekolah Rumah. Dari milis itulah saya berkenalan dengan konsep pendidikan berbasis keluarga, homeschooling.

Sebetulnya dalam hati saya muncul rasa tertarik tapi saya pikir: sepertinya sulit diwujudkan, saya dan suami sama-sama kerja. Jadi saya tidak memikirkannya lebih serius. Interaksi dengan para homeschooler pun sempat terhenti, karena kesibukan saya bekerja dan lahirnya anak-anak.

Bertahun-tahun kemudian, saat hamil anak ketiga sembari menyelesaikan tesis yang molor, saya mulai memakai Facebook. Ternyata di FB saya jumpa lagi dengan para homeschooler yang dulu aktif di milis. Minat saya tumbuh lagi.

Ikutlah saya di webinar tentang homeschooling dari Rumah Inspirasi-nya Mas Aar Sumardiono. Webinar itu dilaksanakan beberapa sesi selama beberapa pekan. Gairah saya semakin naik dalam mempelajari persekolahrumahan. Namun dalam hati saya masih pesimis, apakah kami mampu menyekolahrumahkan anak-anak?

Anak-anak yang Minta

Selama mengikuti webinar, setiap usai satu sesi, saya selalu diskusi dengan suami. Materi webinar saya sampaikan ke suami. Karena memang tertarik isu pendidikan, setiap topik menjadi diskusi yang intens.

Ketika diskusi, tidak jarang anak-anak ikut menyimak, terutama si sulung Azmi. Sesekali ketika saya berselancar di Facebook, saya perlihatkan ke Azmi kegiatan anak-anak homeschooler yang diunggah oleh teman-teman praktisi.

Tak dinyana, memasuki sesi-sesi akhir webinar, tiba-tiba-tiba suatu pagi suami berkata, “Tahu nggak apa yang Azmi bilang? Dia ingin homeschooling.” Mendengarnya saya merasa senang bercampur tegang, tertantang.

Mengambil Keputusan

Kami tanyai lagi Azmi, kami ingin dia menegaskan: apakah benar-benar ingin homeschooling? Ternyata dia serius. Eh, kejutan lagi, si adik Zahra, yang sepertinya suka sekolah, juga bilang ingin homeschooling kalau kakaknya homeschooling.

Setelah sekian ronde lagi berdiskusi baik antara saya dan suami maupun kami dan anak-anak, akhirnya kami mantap dengan keputusan untuk menjalani homeschooling. Ini terjadi pada bulan Juli tahun 2011, menjelang tahun ajaran baru. Azmi saat itu duduk di kelas 2 SD, Zahra kelas 1 SD.

Saya dan suami ke sekolah anak-anak, pamit dengan baik-baik, serta menjelaskan bahwa anak-anak akan belajar di rumah. Kami “resmi” menjadi keluarga homeschooler. Termasuk nanti si bungsu Arunia pun mengikuti jejak kakak-kakaknya.

Sumber Belajar Online

Kalau dikenang kembali, fase awal homeschooling kami penuh kenekatan, tapi justru seru. Saya yang sibuk dengan penyelesaian tesis, ditambah suami yang baru memulai bisnisnya, klop dengan konsep homeschooling kami yang belum matang.

Saat itu di Malang, belum ada komunitas homeschooling, jadi kami bergerak sendiri. Kami lebih banyak mencari jejaring dan berkomunikasi dengan praktisi HS di berbagai kota lainnya melalui media sosial.

Media sosial banyak membantu saya dalam belajar tentang persekolahrumahan. Berteman dengan para praktisi homeschooling yang beragam, memunculkan banyak inspirasi untuk proses belajar anak-anak.

Bereksperimen Sampai Ketemu

Pada awalnya, kami menerapkan metode school at home di rumah. Suami yang mengajar anak-anak. Namun itu tidak bertahan lama. Kami capek, anak-anak juga capek.

Sempat mengalami deschooling cukup lama, kami dan anak-anak bereksperimen dengan kemerdekaan belajar. Untungnya, kontrakan rumah berada di dekat sawah dan berdekatan dengan kaplingan kosong, lingkungan tetangga juga mendukung, jadi anak-anak bisa berproses dengan tenang.

Akhirnya Azmi dan Zahra menemukan bidang yang mereka ingin tekuni. Zahra menekuni dunia literasi, didukung oleh banyak buku di rumah. Sementara Azmi menekuni komputer dengan segala hal ihwalnya, berbekal perangkat yang kami punya.

Merefleksikan Hakikat Belajar

Saat ini kami semakin sadar bahwa belajar adalah hak bagi anak manusia. Sejak lahir, manusia telah diberi karunia Tuhan dengan perangkat yang memungkinkan manusia untuk belajar. Dalam bahasa kerennya, manusia diberikan kemampuan curiosity atau fitrah belajar.

Ketika kecil, anak-anak suka bertanya, menanyakan hal-hal yang menggugah rasa ingin tahu mereka melihat dunia. Sayangnya, curiosity seringkali menghilang karena orang tua seringkali mengabaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dan ketika anak-anak tumbuh besar, pertanyaan-pertanyaan itu sudah tidak lagi muncul dari mereka.

Kami merasa bersyukur dulu sudah berani memutuskan untuk homeschooling. Lewat homeschooling kami bisa memenuhi hak anak kami untuk belajar dan memelihara rasa ingin tahu mereka.

Bagaimana Agar Mantap Memilih Homeschooling?

Nah, berdasarkan pengalaman, menurut kami ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar orang tua mantap menjalani homeschooling.

Pertama, siap belajar.

Menjadi orang tua merupakan amanah sekaligus anugerah. Membangun gedung saja manusia butuh perencanaan yang matang, apalagi membangun generasi masa depan. Perkenankan saya mengambil satu perkataan Ali bin Abi Thalib, menantu Nabi Muhammad SAW yang mengatakan,

Didiklah anakmu karena dia akan hidup di masa yang berbeda dengan kamu.

Ungkapan tersebut memberi pesan bahwa orang tua harus terus belajar agar bisa menyiapkan anak-anaknya mengarungi kehidupan yang berbeda dengan dunia orang tuanya.

Kesediaan untuk terus belajar ini semakin penting ketika orang tua memilih homeschooling sebagai jalur pendidikan bagi anak-anaknya. Homeschooling adalah proses belajar di mana kendali berada di tangan orang tua sepenuhnya, mulai dari masalah kurikulum, proses, keseharian, sampai evaluasi. Mau mendatangkan guru untuk materi-materi tertentu, atau mengirim anak ke lembaga kursus tertentu? Semuanya jadi kewenangan orang tua.

Kedua, lakukan riset.

Risetlah kecil-kecilan. Kami merasa penting sekali belajar pada para praktisi homeschooling, keluarga-keluarga yang telah lebih dulu mendidik sendiri anak-anak mereka. Saya dulu mulai dari stalking media sosial atau blog para mastah, itu membantu membuka cakrawala saya tentang persekolahrumahan.

Pilihan lain, ikut bergabung dengan komunitas keluarga homeschooler di daerah kita, jika sudah ada.

Untuk memantapkan hati, mengikuti kelas-kelas khusus yang sekarang ini banyak tersedia di internet bisa membantu. Hal yang perlu diperhatikan adalah penyelenggaranya merupakan praktisi homeschooling langsung, bukan lembaga berlabel homeschooling. Kroscek betul siapa pemateri dan penyelenggaranya.

Dari mengikuti kelas-kelas para praktisi, seperti webinar dari Mas Aar Sumardiono (Rumah Inspirasi), selain mendapatkan materi teoritis, saya juga bisa berjejaring dengan keluarga-keluarga yang memiliki visi dan keinginan yang sama. Jaringan ini penting bagi keberlanjutan homeschooling keluarga kami, yang saat itu belum memiliki komunitas offline.

Kelas parenting pun kini telah banyak tersedia. Saya dulu banyak belajar dari kelas-kelas online Bu Septi Peni Wulandani tentang bagaimana menjadi orang tua.

Ketiga, baca buku-buku.

Buku-buku membukakan wawasan tentang berbagai metode homeschooling. Salah satu buku yang mempengaruhi proses homeschooling saya adalah “Cinta yang Berpikir” (Ellen Kristi) yang merangkum metode Charlotte Mason. Meski saya tidak menerapkan secara penuh, metode Charlotte Mason sangat memberikan pengaruh pada proses homeschooling kami.

Sementara untuk konsep-konsep pendidikan, tulisan-tulisan Harry Santosa yang memaparkan konsep pendidikan berbasis fitrah juga memberikan pengaruh pada konsep pendidikan kami.

Keempat, rumuskan visi keluarga.

Setiap manusia mungkin punya visi masing-masing yang bersifat personal, tapi ketika menikah, perlu dibangun visi bersama agar sinergi antar suami dan istri, terutama terkait arah pendidikan bagi anak-anak ke depannya.

Saya dan suami sudah sering mengobrol siang malam, tapi visi keluarga kami secara verbal baru terumuskan pada tahun 2016, ketika mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Padepokan Margasari yang dilaksanakan di kaki bukit Menoreh. Sampai sekarang kami masih menggunakan tagline “Rumah Belajar Idaman” sebagai visi keluarga kami.

Terakhir, nekat.

Nekat di sini dalam arti keberanian bertindak kalau sudah memiliki pengetahuan cukup, bukan asal nekat, terjun tanpa ada pengetahuan sama sekali. Seperti kata iklan, buat anak kok coba-coba.

Setelah belajar dan berproses, azam (tujuan) harus diwujudkan. Dengan bismillah, wujudkan niat dengan berbuat, sambil belajar dan berproses terus.

==

Ditulis oleh Idaul Hasanah, ibu dari tiga anak homeschooler, bermukim di Malang.

Yemmi

Mantra yang Menguatkanku Menjalani Homeschooling

Oleh: Yemmi Liu

Aku adalah orangtua tunggal. Aku memiliki dua anak: satu putri kelahiran tahun 2010 dan satu putra kelahiran tahun 2012. Kami tinggal di kecamatan Parungkuda di kabupaten Sukabumi, tempat yang terkenal adem. Aku pun sudah adem tinggal di sini, merasa tempat ini zona nyamanku.

Dengan bantuan modal dari keluarga, aku memulai usaha sendiri. Aku membuka toko kecil di jalan raya yang menjual kebutuhan para pekerja pabrik. Pabrik-pabrik sudah menjamur di kabupaten Sukabumi ini. Pelanggan setiaku adalah para pekerjanya yang kebanyakan menggunakan bahasa Sunda untuk keseharian mereka.

Galau Pilih Sekolah

Keputusan untuk menjalankan homeschooling bagi kedua anakku kuambil melalui proses yang panjang. Seperti kebanyakan orang, semula paradigmaku masih menganggap sekolah itu satu-satunya tempat belajar.

Saat putriku berumur 4 tahun aku mulai kebingungan mencari sekolah untuk dia. Soalnya kulihat semua anak seumurannya yang datang ke toko sudah masuk PAUD dan dileskan baca tulis.

Aku kuatir anakku telat bisa baca, jadi aku daftarkan dia ke les baca tulis, les matematika, dan PAUD. Tapi setelah kulihat prosesnya, aku merasa tak tega melihat putriku kecapekan. Kasihan.

Lalu aku mendengar istilah homeschooling. Istilah yang asing banget di telinga bahkan di hatiku. Aku sempat menganggap homeschooling itu cuma sensasi para selebritis, homeschooling menghambat sosialisasi anak-anak, homeschooling itu mahal.

Penasaran dan Cari Tahu

Meski banyak prasangka negatifku pada homeschooling, ada yang terasa mengganjal di hati, mendesakku untuk cari tahu lebih dalam tentang homeschooling.

Aku lalu cari info di media sosial. Aku juga ikut webinar tentang homeschooling. Komunitas-komunitas homeschooler yang dekat dan jauh pun aku sambangi. Ketemulah aku dengan tokoh-tokoh homeschooler. Aku belajar dari mereka yang lebih berpengalaman.

Dari melihat dan menyimak, aku jadi tahu kalau ternyata memilih homeschooling itu repot! Orangtuanya harus mau capek. Para orangtua homeschooler tidak menyekolahkan anak bukan cuma supaya enak bisa jalan-jalan ke mana-mana kapan saja.

Aku juga jadi tahu bahwa keberhasilan homeschooling selalu terkait dengan memperbaki pola mengasuh (parenting). Artinya, kalau mau homeschooling, aku sendiri juga harus berubah, harus belajar lagi. Tidak boleh jadi orangtua yang asal perintah sana sini, asal melarang ini itu.

Namun di sisi lain, aku makin tertarik pada homeschooling.

Pada dasarnya aku ingin anakku belajar di tempat yang aman, yaitu rumah. Aku ingin anak-anakku bisa bebas mengekspresikan diri, diperhatikan secara penuh, terlindungi dari bullying. Aku ingin bisa memantau terus tumbuh kembang mereka. Aku ingin mereka punya karakter positif. Rasanya homeschooling bisa memenuhi harapan-harapan itu. 

Awal yang Berat

Setelah berpikir-pikir panjang, pertengahan tahun 2016, aku memutuskan: putriku tidak akan melanjutkan ke jenjang SD. Kami akan homeschooling.

Aku langsung mendapatkan penolakan, terutama dari keluargaku. Mereka tidak percaya aku sanggup mendidik anak-anakku sendiri. Kata mereka: “Kamu kan bukan guru, kamu kan cuma lulusan SMU, anak-anakmu nanti tidak punya masa depan.”

Omongan itu menurunkan mentalku. Aku sempat merasa tidak percaya diri bisa homeschooling. Tapi, karena dalam hati aku tetap yakin bahwa homeschooling itu pilihan yang tepat untuk anak-anakku, aku tidak menyerah.

Justru aku ingin mengubah pandangan orang-orang sekitar. Aku mau membuktikan bahwa homeschooling itu hasilnya bagus. “Maju dulu, apa pun yang terjadi!” Itu sikapku.

Perbaiki Sambil Jalan

Sebagai “anak baru” di dunia homeschooling, semula aku masih mudah terpengaruh. Pemahaman yang belum pas membuatku terbawa arus gelombang ke sana-sini.

Karena termakan iklan, aku ikut-ikutan mendaftarkan anak ke lembaga homeschooling. Baru kemudian aku tahu ternyata lembaga seperti itu sebetulnya mirip sekolah tapi lebih fleksibel (flexi schooling), bukan homeschooling dalam arti sebenarnya.

Paradigma lama bahwa anak harus jenius juga masih mengakar di pikiranku. Jadilah putriku kudaftarkan kursus-kursus aneka rupa. Pokoknya aku semangat ’45, ingin anak cepat pintar seperti ukuran orang-orang lain.

Karena belum jelas di tujuan, jadinya jalanku compang-camping, apalagi aku sendirian mengurus anak-anak sambil mengelola toko. Sempat tokoku terbengkalai karena tidak konsisten buka.

Baru seiring makin paham tentang homeschooling, aku makin bisa menata agenda, kursus mana yang betul-betul perlu, kegiatan mana yang harus lebih didahulukan.

Bergabung dengan PHI

Bulan April 2017, aku dengar Perkumpulan Homeschooler Indonesia (PHI) akan mengadakan sosialisasi di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Aku tidak percaya dengan jodoh, tapi aku percaya dengan pencarian. Biarpun lokasinya jauh dari Sukabumi, aku bulatkan tekad untuk ikut. Pada hari H, aku bangun pagi-pagi, menyiapkan anak-anak, lalu berangkat.

Dari sosialisasi PHI, aku dapat info tentang kebijakan-kebijakan pemerintah tentang legalitas homeschooling. Waktu itu ada juga dibahas rumor bahwa  pemerintah akan mensyaratkan gelar sarjana bagi orang tua yang menjalankan HS.

Pusing kepalaku mendengarnya, seperti dihantam ombak besar. Kupikir, aku ini sudah ribet mengatur jadwal belajar anak-anak, susah menghadapi tentangan keluarga, ada pula problem dari kebijakan pemerintah. Tapi sudah terlanjur basah, aku tidak akan move on dari homeschooling.

Aku paling tercerahkan oleh bahasan di sesi “Sudah Waktunya Homeschooler Bergerak Bersama.” Ternyata masih banyak PR para homeschooler Indonesia untuk membuat negeri ini ramah homeschooler.

Aku suka pada slogan “mari bergerak bersama!”. Itu keren menurutku. Meski belum terlalu paham arah perjuangan PHI, aku iya saja waktu diminta jadi koordinator simpul PHI Sukabumi.

Tumbuh Bersama PHI

Setiap memilih sesuatu, aku selalu punya prinsip: jangan setengah-setengah. Meskipun aku homeschooler baru, dengan senang hati aku terima seabrek tugas dan tanggung jawab sebagai koordinator simpul PHI Sukabumi.

Bulan Agustus 2017, aku bawa anak-anakku berangkat ke Semarang untuk mengikuti pelatihan analisis sosial PHI. Sebelum ikut, pesertanya diberi tugas “menulis esai”. Aku googling dulu arti kata “esai”. Aku tidak paham, karena aku cuma lulusan SMU.

Di Semarang, aku bertemu dengan teman-teman homeschooler yang serius memikirkan pemenuhan hak anak-anak mereka. Aku mulai mengerti arah visi PHI ini. Aku diajak untuk bergerak melawan arus sungai. Tujuanku memilih homeschooling jadi terasa makin jelas.

Lebih lagi, di PHI aku bertemu kumpulan yang menjaga semangat belajarku. Tadinya aku sering cemas dan tidak percaya diri. Tiap hari aku berjuang supaya hati dan pikiranku jangan ditarik oleh kutub negatif.

Di tengah kawan-kawan PHI, aku merasa bisa menjadi diri sendiri seutuhnya. Aku suka humor, serius, dan tulusnya kawan-kawan. Karena sikap mereka positif, sedikit demi sedikit aku mulai membuka diri. Secara tidak langsung, itu menumbuhkan rasa percaya diriku dalam menjalankan homeschooling.

Hasilnya, bukan hanya anak, aku pun berkembang. Aku makin mengenali kekuatanku dan menggarap kelemahanku. Aku seperti menemukan “magnet hidup” yang menarik hadirnya orang-orang positif di sekitarku. Fondasiku diperkuat. Aku didewasakan.

Mantra Penguat

Di Sukabumi belum banyak homeschooler. Untuk mengikuti kegiatan homeschooling atau pertemuan PHI, aku sering harus mengajak dua anakku ke kota-kota lain. Kami berangkat pagi-pagi, pulang malam-malam, gonta-ganti bis dan omprengan.

Memperjuangkan hak pendidikan anak-anak agar mereka menikmati kemerdekaan belajar, oh ini betul capek! Ini betul repot!

Namun setiap kulihat kedua anakku tertidur lelap di pangkuanku di perjalanan pulang kami, senyum terus tergambar di mulutku. Ada satu kalimat dari anak-anak yang selalu terngiang dalam kepalaku:

“Aku sayang Mama!”

Mantra dari anak-anak inilah peganganku saat menghadapi masa sulit dalam menjalani homeschooling, bahkan menjalani hidup. Aku yakin semua yang kuperjuangkan buat mereka tidak ada yang sia-sia.

===

Foto: Koleksi pribadi keluarga Yemmi, saat pameran lukisan si sulung.

Foto Keluarga Moi

Anak SMP/SMA Ingin Homeschooling? Tentu Bisa!

Karena beragam alasan, anak yang sudah duduk di bangku SMP atau SMA bisa saja ingin keluar dari pendidikan formal (sekolah) ke pendidikan informal (homeschooling). Keluarga kami mengalaminya. Anak kami ada tiga orang. Si Tengah Amira berhenti sekolah saat SMP. Dua tahun kemudian, Si Sulung Fari yang SMA juga minta berhenti sekolah. Beginilah cerita perjalanan homeschooling mereka berdua.

Amira, Mulai Homeschooling di Kelas VII

Saat lulus SD, Amira menyatakan dirinya tidak ingin melanjutkan ke jenjang SMP. Kalau saya kilas balik lagi ke belakang, alasan selalu sakit kepala di pagi hari sebelum sekolah adalah caranya untuk mengatakan pada kami bahwa sekolah tidak lagi membahagiakannya. Dia ingin belajar di rumah saja.

Saya kala itu belum siap. Kami tetap memasukkannya ke SMP. Dia akhirnya masuk ke salah satu SMP swasta di Cilegon. Belum sampai 6 bulan, saat ulangan semester 1 di kelas VII, dia tak tahan lagi untuk tetap menjadi murid SMP dan betul-betul “ngadat” tidak mau sekolah. Saya yang sudah sedikit lebih percaya diri meluluskan permintaannya. Akhirnya homeschooling “mampir” juga ke rumah kami.

Fari, Mulai Homeschooling di Kelas X

Di sekolah, Fari berjarak satu kelas lebih tinggi dibanding Amira. Setelah ia lulus SMP di Cilegon, kami berniat menyekolahkannya ke SMA di luar kota. Pilihan jatuh ke Bogor, kota tempat orangtua saya tinggal. Kami berpisah kota, tetapi ternyata tidak lama. Baru saja berpisah 6 bulan dari kami, di semester 1 kelas X, Fari mengungkapkan keinginannya menyusul si adik untuk homeschooling.

Ketika ke Bogor untuk mengambil rapor, kesempatan itu sekaligus saya pakai untuk memberitahu pihak sekolah bahwa Fari pamit keluar dari sekolah. Lengkap sudah, tahun itu semua anak kami akhirnya menjalani homeschooling.

Ditantang Belajar Lagi

Menjalani homeschooling bukanlah niat awal saya saat pertama berkeluarga dan merencanakan punya anak. Rencana kami ya seperti orangtua pada umumnya: menyekolahkan anak – kalau pagi mereka ke sekolah umum dan kalau sore ke sekolah agama, seperti yang dikerjakan keluarga-keluarga di sekitar kami.

Semasa anak-anak masih sekolah, saya kebetulan membaca artikel tentang homeschooling. Buat saya yang senang berkegiatan bersama anak, yang tidak pernah melepaskan pengurusan dan pengasuhan anak pada orang lain, ide homeschooling itu sepertinya pas. Tapi harus mulai dari mana? Itu yang pertama harus dicari. Nah, sekarang anak-anak bergantung sepenuhnya pada saya. Bingung! Saya masih belajar menjadi orangtua homeschooler, tertatih-tatih mencari bentuk bagaimana harus menjalaninya.

Masa Transisi

Transisi dari sekolah ke homeschooling saya mulai dengan meminta anak-anak membantu saya mengerjakan tugas rumah tangga. Sebelumnya mereka juga sudah biasa bantu-bantu, tapi karena dulu mereka masih bersekolah, acara bantu-membantu itu tidak terlalu fokus. Kini mengerjakan tugas rumah tangga betul-betul saya sengaja. Saya pastikan yang mereka lakukan menjadi proses belajar, bukan sekadar membantu ibu.

Setiap pagi, anak-anak memulai hari dengan membersihkan rumah. Karena anak-anak terdaftar di klub renang, ada kalanya mereka memulai hari dengan latihan renang setelah subuh di kolam renang yang jaraknya 8 km dari rumah. Mereka bersih-bersih rumah, dilanjutkan dengan membantu saya memasak. Sore diisi dengan latihan renang lagi atau kursus bahasa Inggris di tempat saya mengajar.

Kendala dan Peluang

Salah satu kendala yang saya hadapi ketika pertama anak-anak homeschooling adalah soal menonton TV. Kami berlangganan TV kabel sebagai salah satu investasi pendidikan. Kami suka sekali menonton acara dokumentari dan film-film dengan pesan moral yang sesuai nilai-nilai yang kami anut. Tidak bersekolah menjadi godaan bagi anak-anak untuk banyak menonton TV. Rasanya sulit dihindari, begitu selesai melaksanakan pekerjaan rumah, TV menjadi “sahabat baik”.

Meskipun menonton TV berlebihan tidak bagus, tapi ternyata menonton dokumentari dan film-film yang kami sukai itu makin mempererat kedekatan kami. Saat itu YouTube belum semarak sekarang. YouTube membuat seseorang menonton video yang ia mau di waktu pilihannya, di mana pun, kapan pun, seorang diri. Jarang video-video YouTube ditonton bersama anggota di rumah. Buat keluarga kami, menonton TV jadi acara keluarga untuk dibahas bersama. Anak-anak jadi belajar banyak dari yang mereka tonton. Hal tersebut berguna menambah wawasan saat mereka harus berbicara, berargumentasi, menulis.

Homeschooling memberi kami kesempatan untuk lebih banyak menekuni kesukaan kami. Amira senang praktik memasak, membuat kue, juga bermusik. Fari dan si bungsu Fattah suka otomotif. Saya sendiri – terima kasih pada media sosial – bertambah teman-teman dari seluruh Indonesia dan belahan dunia lain dan banyak belajar dari yang muda-muda, yang jauh lebih banyak ilmunya dari saya.

Homeschooling juga memberi kami kesempatan untuk melakukan “jalan-jalan sambil belajar” (travelschooling). Kami dapat bepergian di saat anak-anak lain bersekolah. Daripada dikunjungi saat libur sekolah, tempat-tempat wisata di hari biasa lebih lengang.

Saya dan Fari melepas Fattah travelschooling dua hari bersama kawan-kawannya. (Foto: dok. pribadi)

Saatnya Ujian Paket

Kala itu tahun 2008. Sudah tiba waktunya bagi Amira untuk mengikuti ujian kesetaraan jenjang SMP (Paket B). Saya berusaha mencari informasi cara ikut ujian kesetaraan di kota kami. Terus terang saya enggan berurusan dengan pihak Dinas Pendidikan, jadi hanya bergantung pada informasi dari seorang kolega di tempat saya mengajar, yang bekerja sebagai wakil kepala sekolah di salah satu SMA Negeri di kota kami. Ia sudah lama malang melintang di dunia pendidikan dan berhubungan dengan pemerintah. Saya ikuti sarannya seperti yang pernah saya ceritakan di blog saya di artikel ini. Kami mendaftarkan Amira ke PKBM. Saya mendatangi orang yang ditunjuk oleh kolega saya di atas, lalu mengikuti prosedur pendaftaran beberapa bulan sebelum ujian Paket. Prosesnya tidak sulit. Amira pun lulus ujian Paket B.

Tahun 2010 giliran saatnya Fari mengambil ujian kesetaraan tingkat SMA (Paket C). Saya pun kembali mencari informasi. Amira ingin juga ikut ujian paket C bersama abangnya. Sudah bosan di rumah, demikian katanya. Pilihan kami jatuh pada sebuah PKBM di Tangerang Selatan yang jaraknya 90 km dari kota kami. Untuk ujian paket C ini, dua anak kami minta didaftarkan di program bimbingan belajar (bimbel) agar mereka tahu materi ujian Paket C. Anak-anak mengambil jurusan IPS dan belajar di bimbel ini 3 bulan lamanya.

Survei Kampus

Sebelum ujian Paket C, kami sudah membawa anak-anak untuk melihat-lihat kampus-kampus yang berada di jangkauan kami. Kami berkunjung ke Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan Universitas Pelita Harapan (UPH). Tujuannya untuk memberi gambaran kegiatan yang berlangsung di universitas-universitas itu.

Saat ke IKJ, Fari tertarik untuk mengambil jurusan seni rupa, dan Amira tertarik mengambil jurusan musik. Amira bahkan sudah mendapat informasi dari pihak IKJ tentang partitur apa-apa saja yang akan dites di jurusan musik IKJ. Di Cilegon juga ada Universitas Tirtayasa (Untirta). Kami sudah pernah berkunjung ke sana, tapi anak-anak tidak meminatinya.

Fari dan Amira juga menjajal ujian Cambridge IGCSE (The International Certificate of Secondary Education). Kami mendaftar di perwakilan Cambridge yang saat itu ada di Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta. Ini adalah proses yang mahal. Harga ujian berbilang “juta” per mata pelajaran yang diambil sangat tinggi buat standar kami. Namun tetap ada pelajaran berharga karena mungkin adik mereka kelak akan mengambil ujian ini.

Mulai Kuliah dan Pindah Jurusan

Begitu Seleksi Masuk UI (SIMAK UI) dibuka tahun 2010, dua anak kami mendaftar. Berturut-turut pilihan 1, 2, dan 3 Fari adalah jurusan Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, dan Kriminologi. Amira mengambil jurusan Arkeologi, Filsafat, dan Sastra Jawa. Amira diterima di Filsafat UI, sementara Fari tidak diterima. Fari akhirnya ikut tes di IKJ dan diterima.

Namun setahun kemudian, Fari minta izin untuk keluar dari IKJ. Dia tidak betah. Buat kami, rasanya berat, karena mengingat biaya yang sudah kami keluarkan, baik uang sekolah mau pun keperluan bulanannya. Di sisi lain, kami sadar bahwa tidak akan mudah bagi anak melanjutkan kuliah kalau memang ternyata ia tidak suka jurusannya. Saya sendiri sadar, sebetulnya IKJ adalah pilihan saya. Saya mengira Fari itu “IKJ banget” dan Fari mematuhi saya. Ternyata dia tidak suka dan ingin ikut SBMPTN lagi. Dia ingin masuk UI.

Fari pun ikut bimbel lagi. Berbeda dengan keikutsertaan bimbel sebelumnya yang dijalani untuk ikut UN, kali ini bimbelnya adalah persiapan untuk ujian masuk PTN. Saat pendaftaran, dia mengambil tiga pilihan: Ilmu Komunikasi (kelas reguler dan paralel), Psikologi, dan Vokasi Komunikasi Periklanan. Dia diterima di pilihan Vokasi.

Senang, bangga, bersyukur, sedikit bumbu sedih, kami mengantar Amira berangkat ke Inggris. (Foto: dok pribadi)

Mendapat Beasiswa dan Lanjut Kuliah

Tahun 2014, Fari dan Amira bersama-sama lulus dari UI. Amira lulus S1 Filsafat, sementara Fari lulus Vokasi UI yang setara D3. Singkat cerita pada tahun 2016 Amira melanjutkan studi S2 ke University College London (UCL) di Inggris karena mendapat beasiswa dari Lembaga Penyedia Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Amira mengambil Program Studi MA di bidang Education, Gender, and International Development. Sementara Fari sempat gagal melanjutkan kuliah ke jenjang S1 karena tidak diterima di UI tahun 2016. Syukurlah, di tahun 2017 ia diterima di S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret (UNS) di Surakarta, Jawa Tengah.

Catatan Penutup

Demikian perjalanan homeschooling dua anak terbesar kami. Perlu digarisbawahi di sini bahwa kebijakan ujian kesetaraan di PKBM kerap berubah dari waktu ke waktu. Dahulu Fari dan Amira bisa mendaftar ujian Paket hanya beberapa bulan sebelum ujian, dan Amira bisa ujian Paket C meski baru berjarak 2 tahun dari Paket B. Sekarang hal-hal itu tidak dapat dilakukan lagi.

Dalam hal ujian kesetaraan, keluarga homeschooler sebaiknya berdiskusi dengan pihak PKBM yang homeschooler-friendly, atau dapat bertanya pada koordinator simpul Perserikatan Homeschooler Indonesia (PHI) terdekat soal ketentuan terbaru. PHI adalah organisasi advokasi yang dibentuk oleh keluarga-keluarga homeschooler se-Indonesia agar praktisi homeschooling didengar suara dan kepentingannya oleh negara. Dengan bergabung di PHI, anggota akan dimudahkan mendapat informasi dan akses mengurus Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) atau Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK), serta menyimak isu-isu terbaru untuk diperjuangkan bersama.

“Keberanian mendatangkan keajaiban”, demikian satu kalimat yang pernah saya baca di komik Si Janggut Merah saat saya kecil dulu. Kalimat itu jadi mantra sampai sekarang buat saya. Homeschooling adalah suatu perjalanan yang sangat menarik buat keluarga saya. Saya dan suami tidak menyangka akan berpetualang sejauh ini. Kami belajar bukan hanya sempit di urusan akademis, tapi tentang banyak hal soal parenting, pendidikan, dan hal-hal lain yang tidak kami dapati ketika kami masih menyekolahkan dua anak tertua kami. Kami sangat merasakan ajaibnya ketika satu keputusan atau keinginan dijalani dengan sungguh-sungguh, ternyata tidak ada yang tidak mungkin.


Wimurti Kusman, ibu tiga anak yang berdomisili di Bogor.