Anda di sini
Beranda > Artikel > Tertarik Homeschooling tapi Ragu Mampu atau Tidak?

Tertarik Homeschooling tapi Ragu Mampu atau Tidak?

Ada ayah-ibu yang sebetulnya sangat tertarik pada gagasan homeschooling, tapi terus ragu untuk memutuskan menjalaninya. Satu pertanyaan yang selalu menghantui adalah, “Apakah aku/kami mampu?”.

Ada yang merasa tidak cukup pintar. Ada yang merasa tidak cukup sabar. Ada yang cemas tidak bisa membagi waktu dengan baik antara kerjaan dan anak. Ada yang takut pada kata orang, terutama kakek-neneknya anak-anak. Dst.

Jika anda termasuk golongan yang “maju mundur cantik” tiap kali hendak memutuskan jadi homeschooling atau tidak, artikel ini untuk anda.

***

Pertama-tama, kita sadari bersama dulu bahwa homeschooling memang bukan pilihan yang tepat untuk semua keluarga. Karena itu, kami tak pernah bilang bahwa semua keluarga bisa atau harus menjadi homeschooler.

Jika merujuk pada riset Barnett (1995), manfaat homeschooling atau sekolah itu bersifat relatif. Kalau lingkungan keluarganya sangat mendukung tumbuh kembang anak, homeschooling bisa lebih bermanfaat dibanding bersekolah. Sebaliknya, kalau lingkungan keluarganya justru menghambat tumbuh kembang anak, bersekolah lebih baik dibanding homeschooling.

Barnett mendapati, anak dari keluarga miskin jauh lebih diuntungkan dengan opsi bersekolah. Sebaliknya, anak-anak dari kelompok menengah atas justru akan lebih maju jika menjalani pendidikan berbasis keluarga dibanding kalau dititipkan ke lembaga, terutama di tahun-tahun awal kehidupan mereka.

“Pendidikan institusional tidak sama menguntungkan atau merugikan semua siswa, namun hanya relatif menguntungkan atau merugikan dibandingkan dengan kualitas perawatan di rumah,” demikian simpul Barnett. Kesimpulan ini didukung oleh studi Universitas Durham (2007).

***

Dengan kata lain, ada keluarga yang secara objektif memang nyaris mustahil menjalani homeschooling. Untuk keluarga-keluarga semacam ini pendidikan berbasis lembaga tetap dibutuhkan demi kepentingan terbaik anak.

Yang tidak cocok untuk homeschooling pertama-tama, tentu saja, adalah orangtua yang terganggu kejiwaannya dan tidak ada niat memperbaiki diri.

Orangtua yang suka melakukan kekerasan (abusive) tapi merasa dirinya benar dan tak perlu  berubah, jangan sampai homeschooling. Orangtua yang punya mentalitas mengabaikan anak (child-neglect), jangan sampai homeschooling. Orangtua yang benci pada anaknya sendiri, jangan sampai homeschooling. Orangtua yang mengidap gangguan jiwa berat, jangan sampai homeschooling.

Buat kategori orangtua seperti ini, pemerintah justru harus punya kebijakan yang mencegah mereka menjalankan homeschooling. Kalau tidak akan muncul kasus-kasus kejahatan terhadap anak yang disembunyikan di balik label homeschooling.

***

Kedua, yang tidak cocok untuk homeschooling adalah orangtua yang tidak menganggap homeschooling itu prioritas hidupnya.

Orangtua yang (saat ini) merasa meniti karir atau mengembangkan bisnisnya lebih penting dibanding mengurusi pendidikan anak, maka janganlah homeschooling (dulu). Orangtua yang (saat ini) merasa me time-nya jauh lebih penting dibanding mendampingi anak bertumbuh kembang, janganlah homeschooling (dulu).

Dan kategori orangtua ini biasanya memang tidak akan serius memikirkan opsi homeschooling. Jadi tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

***

Situasi objektif ketiga yang tidak cocok untuk homeschooling adalah kalau orangtua secara ekonomi begitu tertekan, sehingga tak tersisa lagi waktu dan energi untuk memikirkan atau menjalankan program pendidikan buat anak.

Suami istri yang dua-duanya sibuk bekerja dari pagi sampai malam, dan kalau tidak bekerja satu rumah tidak bisa makan, jangan homeschooling. Seperti temuan Barnett, kemiskinan adalah penghalang besar untuk memilih homeschooling.

***

Situasi objektif keempat yang tidak cocok untuk homeschooling adalah kalau pasangan suami-istri tidak sepakat menjalani homeschooling.

Karena homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga, prosesnya akan sulit berjalan kalau si ayah pro homeschooling tapi ibu kontra, atau sebaliknya. Suami-istri mesti sepakat dulu bahwa ini pilihan mereka bersama, baru menjalankan.

Tidak masalah kalau sehari-hari yang bisa mendampingi proses belajarnya hanya ibu, asal si ayah mendukung; atau sebaliknya. Ada keluarga-keluarga yang suami bekerja di luar kota/pulau, istri single fighter menjadi fasilitator homeschooling anak-anaknya, dan ternyata itu bisa berjalan baik.

Sebaiknya tidak memaksakan diri homeschooling kalau pasangan belum setuju. Nanti kalau ada apa-apa, pihak yang tidak setuju akan menyalahkan pihak yang berinisiatif homescholing. Situasi seperti inilah yang membuat sejumlah keluarga gagal homeschooling, berhenti setelah 1-2 tahun menjalani. Ini hanya akan merugikan anak-anak.

***

Selain beberapa situasi objektif di atas, halangan untuk homeschooling pada umumnya subjektif. Merasa tidak mampu.

Subjektivitas ini sama sekali bukan urusan sepele, malah sering lebih menentukan hasil dibanding situasi objektif. Psikolog kondang Martin Seligman bilang perasaan tak berdaya (helplessness) akan mewujud jadi ketidakberdayaan sungguhan.

Sebaliknya, manusia selalu bisa cari cara melepaskan diri dari belenggu keadaan objektif asal punya tekad subjektif yang kuat. Sangat sering terjadi, yang semula merasa tidak mampu, setelah terjun dan mencoba ternyata mampu

Jika anda telah luas berkenalan dengan keluarga homeschooler, akan terlihat banyak ayah-ibu yang kondisinya sangat sulit, tapi ternyata bisa homeschooling.

Ada orangtua homeschooler yang single parent, yang bekerja full time, yang anaknya banyak, yang ekonominya pas-pasan, yang tidak punya gelar sarjana, yang masa lalunya kelam, dan aneka tantangan yang sering dikira membuat mereka tidak mungkin homeschooling. Kenyataannya, mereka bisa menjalani dan anak-anak mereka pun tumbuh dengan baik.

***

Ragu cukup pintar atau tidak? Ragu cukup sabar atau tidak? Ragu mampu mengelola waktu atau tidak? Ragu cukup tangguh atau tidak menghadapi tekanan lingkungan? Ini lebih ke soal rasa percaya diri, terutama soal keberanian mengambil risiko.

Menurut film dokumenter BBC serial The Human Body, keberanian mengambil risiko dibentuk terutama pada masa remaja. Kalau selama masa remaja, anda terbiasa bereksperimen dengan hidup, membuat pilihan-pilihan secara mandiri, setelah dewasa tidak akan susah bagi anda untuk membuat pilihan “berisiko” dan anti-mainstream seperti homeschooling.

Sebaliknya, kalau seumur hidup anda terbiasa apa-apa diatur dan dipilihkan orang lain, ikut-ikutan tren, mentalitas kerumunan, tentu saja akan ketar-ketir kalau dihadapkan pilihan keluar dari zona nyaman, menjadi kaum minoritas seperti homeschooler, mendidik anak tanpa diarahkan lagi oleh lembaga.

Selain pengalaman, tipe kepribadian juga akan menentukan kecepatan anda memilih. Pribadi orangtua yang optimis sering lebih “nekad” mengambil keputusan. Mottonya: “jalan dulu, masalah diurus belakangan!”. Sementara, pribadi orangtua yang pesimis perlu berpikir beribu-ribu kali karena menimbang semua potensi kesulitan secara detil.

Ada orangtua yang butuh 10 menit saja untuk mantap memutuskan homeschooling. Ada orangtua yang butuh bertahun-tahun sebelum bisa memutuskan. Tidak masalah. Yang penting akhirnya bisa memutuskan. Proses mengambil keputusan ini sendiri adalah bagian dari pendewasaan kepribadian kita sebagai orangtua.

***

Ringkasnya, kalau anda ragu, “Aku mampu atau tidak ya?” – coba dianalisis dulu keraguan itu bersumber dari hambatan objektif (betul-betul tidak mampu) atau subjektif (merasa tidak mampu).

Kalau yang menghalangi anda adalah situasi objektif, sepertinya memang lebih baik melepas niat untuk homeschooling. Tunggu sampai keadaannya memungkinkan, baru timbang ulang opsi ini.

Namun, kalau halangannya lebih bersifat subjektif, soal perasaan dan kepercayaan diri dan keberanian mengambil risiko, berarti yang lebih perlu diklarifikasi adalah: “Seberapa saya meyakini homeschooling ini baik dan benar untuk keluarga saya?”.

Berpusatlah pada ide, bukan pada kemampuan saat ini. Kata Stephen Covey: begin with the end in mind. Mulailah dari tujuannya, baru kemudian mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu.

***

Mari bandingkan dengan proses kita memutuskan untuk menikah. Apakah pada saat menikah kita sudah punya semua kualitas untuk menjadi istri atau suami yang baik? Kemungkinan besar belum. Tapi kita tetap menikah karena menurut kita menikah itu bagus dan penting.

Nanti setelah menikah akan kelihatan bahwa kita banyak kekurangan. Kita mungkin kurang sabar menghadapi pasangan, atau kurang pintar masak, atau kurang rajin bekerja. Tak apa. Selama kita masih menganggap pernikahan itu penting, kita bakal belajar untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan itu.

Nanti setelah menikah, kita bakal menghadapi banyak masalah. Beberapa masalah bahkan begitu besar, krisis-krisis yang tak terbayangkan saat dulu kita memutuskan untuk menikah. Tapi selama kita masih menganggap pernikahan itu penting, kita akan berjuang mengatasi semua masalah itu.

***

Homeschooling pun demikian. Sama seperti anda semua, tidak ada orangtua homeschooler yang sempurna. Dulu waktu memutuskan homeschooling, kami tidak sempurna. Sekarang setelah jadi homeschooler, kami masih juga belum sempurna. Tapi kami memutuskan untuk homeschooling karena buat kami ini adalah ide yang bagus dan penting.

Siapa bilang untuk menjadi orangtua homeschooler kita harus jadi pribadi yang sempurna dulu? Harus sesabar malaikat? Harus sepintar profesor? Itu jelas mitos. Orang yang bicara seperti itu tujuannya kemungkinan besar adalah untuk mengintimidasi, entah untuk mengintimidasi orang lain, atau untuk mengintimidasi diri sendiri.

Yang anak-anak homeschooler butuhkan bukan orangtua yang serba tahu dan tanpa cacat cela, melainkan ayah-ibu yang punya komitmen dan tekad untuk terus memperbaiki diri, untuk belajar dan bertumbuh bersama anak-anak.

Saat ini kurang sabar? Ya nanti sambil jalan kita latihan biar lebih sabar. Saat ini kurang pintar? Ya nanti sambil jalan kita belajar supaya lebih tahu banyak hal. Saat ini belum mahir manajemen waktu? Ya nanti sambil jalan trial and error cari pengaturan yang paling pas. Saat ini kurang tangguh menghadapi tekanan lingkungan? Ya justru ini kesempatan kita untuk mendapat ketangguhan yang pada masa lalu belum tergembleng dalam diri kita.

Asal mau, kemampuan manusia itu bisa berkembang! Kalau tidak percaya hal ini, berarti anda memang tidak cocok untuk homeschooling.

===

Sumber Bacaan:

Barnett, W. S. 1995. Long-term effects of early childhood education on cognitive and school outcomes. The Future of Children 5 (3): 25–50.

Durham University. 2007. Government’s early education measures yet to make an impact. 28 Sept.

12 thoughts on “Tertarik Homeschooling tapi Ragu Mampu atau Tidak?

  1. Artikel yang saya perlukan. Saya selalu merasa bingung mau mulai dari mana. Saya gak mau cuman modal semangat aja. Ini menjawab keraguan maju mundur syantik. Makasih ya mba. ^^

  2. Dalam sehari sy mendapat pencerahan dr live chat di rumah inspirasi dan kemudian artikel ini. Kok ya terasa semakin cocok dg sistem homeschooling ini mom. Untuk level SD saya sgt PD tapi membayangkan level SMP dan SMA rasanya ngeri-ngeri sedap.

  3. Terima kasih artikel nya, karena selama ini saya kesulitan menjawab pertanyaan dari teman dan saudara ttg homeschooling, sy sulit menjelaskan nya. Beberapa tahun yg lalu putri sulung saya, homeschool di kls 9 s/d 12 karena masa pemulihan nya dari kemoterapi. Betul bhw komitmen orang tua sangat diperlukan, krn kami bukan org tua yg berlatar belakang di dunia pendidikan. Namun karena komitmen kami itu, putri kami berhasil mengejar ketertinggalan nya dan lulus bersamaan dgn teman – teman seangkatan nya yg di sekolah dulu. Dan dia sudah kuliah di tingkat 2 sekarang.

    1. Selamat ya buat putrinya, salut juga buat orangtua yang gigih mendampingi. Sukses terus buat ananda!

  4. Thank youuuuu bangeettt bangeeett sharing nya
    Sharing is caring.. Caring is love muaacchh ( ga bs emo kiss)
    Sharing nya sgt membuka sudut pandang n makin memantapkan langkah kedepan. Thank you

Leave a Reply

Top