Anda di sini
Beranda > Artikel > Pilih Sekolah atau Homeschooling, Bagaimana Memutuskannya?

Pilih Sekolah atau Homeschooling, Bagaimana Memutuskannya?

Kata orang, hidup itu pilihan. Tiap pilihan punya konsekuensi. Tiap pilihan ada plus dan minusnya. Begitu pula soal memilih antara menyekolahkan anak dan homeschooling.

Sekolah formal ada kelebihannya, tapi tak sedikit kekurangannya. Homeschooling ada enaknya, tapi banyak juga tantangannya.

Apalagi setelah orangtua paham bedanya homeschooling sungguhan dengan lembaga berlabel homeschooling, bisa jadi muncul rasa keder, beranikah menjalani pendidikan yang betul-betul berbasis keluarga, tanpa tergantung lagi pada lembaga.

Dalam kebimbangan, bagaimana orangtua harus memutuskan pilihan, sekolah atau homeschooling?

***

Rumus dasarnya sebetulnya sesederhana ini: kalau anda merasa sekolah sudah memenuhi semua idealisme dan kebutuhan anda soal pendidikan anak, anda tidak perlu menimbang-nimbang ingin homeschooling.

Sebaliknya, kalau anda merasa ada yang tidak pas dengan praktik persekolahan, atau anda menganggap sekolah yang ada di sekeliling anda belum bisa memuaskan idealisme dan kebutuhan pendidikan keluarga anda, tentu saja anda berhak untuk menimbang-nimbang homeschooling.

Rumus ini didasari pemahaman bahwa sekolah atau homeschooling adalah sarana saja. Sarana diciptakan supaya manusia bisa mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan yang berbeda, sangat mungkin butuh sarana yang berbeda.

Mau makan butuhnya ya sendok, bukan bolpen. Mau menulis butuhnya ya bolpen, bukan sendok. Konyol sekali kalau ada orang yang memaksakan diri memakai satu alat yang jelas-jelas tidak cocok untuk tujuannya. Ibarat makan dengan bolpen, menulis dengan sendok.

***

Problemnya, sepanjang sejarah, manusia itu suka aneh. Kita menciptakan sarana, tapi lalu bingung sendiri, gagal membedakan yang mana sarana dan yang mana tujuan. Sarana malah dianggap sebagai tujuan. Alhasil, sarana merajalela, memperbudak kita.

Dulu manusia menciptakan uang sebagai alat tukar untuk memudahkan perdagangan. Tapi sekarang berapa banyak orang diperbudak uang? Sampai tubuh rusak, sampai tak ada waktu untuk pasangan dan anak, sampai merusak alam dan menindas sesama, demi uang.

Dulu manusia menciptakan telepon genggam untuk memudahkan komunikasi. Tapi sekarang berapa banyak orang merasa tak bisa hidup tanpa telepon genggam? Dari bangun tidur sampai tidur lagi, menempel ke HP. Makin terkoneksi (internet) malah makin soliter.

Begitu pula manusia menciptakan sekolah sebagai sarana mendidik. Tapi sekarang berapa banyak orang yang jadi mendewakan sekolah, mendewakan ijazah? Anak paham tidak paham ilmunya dianggap bukan masalah, selama rapor bagus dan ijazah di tangan. Alhasil, muncul praktik jual beli kunci jawaban ujian dan beli ijazah.

***

Homeschooling hadir sebagai perlawanan terhadap paradigma yang merancukan alat dengan tujuan. Homeschooling memunculkan kembali percakapan tentang hakikat pendidikan.

Apa arti pendidikan bagi keluarga anda? Apa visi pendidikan keluarga anda? Pribadi anak macam apa yang anda dan pasangan cita-citakan akan terwujud kelak di ujung proses pendidikan?

Kalau buat kami homeschooler “pendidikan” lebih luas dibanding “persekolahan”. Kami menentang kalau keduanya dianggap identik. Siapa bilang pendidikan hanya bisa terjadi di sekolah? Itu keliru besar.

Bebas dari belenggu mitos bahwa “pendidikan = persekolahan” ini membuat kami homeschooler tidak takut  memilih opsi pendidikan selain persekolahan. Karena kami berpusat pada tujuan, bukan alat.

Di mata homeschooler, sekolah itu alat saja, harusnya dipakai oleh orang-orang yang merasa alat itu cocok dengan tujuan mereka.

Namun, kalau ternyata alat bernama “sekolah” itu tidak memenuhi tujuan dan kebutuhan pendidikan keluarga anda, buat apa repot-repot sekolah? Apa salahnya cari alat yang lain?

Ijazah itu juga alat saja. Kalau butuh ya diusahakan. Kalau tidak butuh ya tidak perlu dipikirkan. Atau kalau butuhnya tidak buru-buru, ya santai-santai saja mengejarnya (artikel tentang cara homeschooler mendapat ijazah menyusul).

***

Dari logika di atas, untuk memutuskan pilih sekolah atau homeschooling, anda butuh melakukan tiga langkah.

Pertama, merumuskan secara jelas visi, cita-cita, atau tujuan pendidikan keluarga anda.

Kalau anda butuhnya ijazah bonafid, saran kami, jangan homeschooling. Anda akan rugi kalau homeschooling tapi cita-citanya sebatas dapat ijazah. Lebih baik berjuang masuk sekolah favorit yang ijazahnya punya citra mentereng.

Namun, kalau anda mencita-citakan anak yang dewasa secara emosional, otentik kepribadiannya, cepat mengenali minat-bakatnya, intim relasinya dengan orangtua, paham cara hidup dan bekerja di dunia nyata, punya etos belajar sepanjang hayat – homeschooling bisa jadi sarana yang bagus.

Semangat homeschooling adalah meminta setiap orangtua untuk menjadi pemikir mandiri soal cita-cita pendidikan mereka sendiri, memilih satu opsi bukan sekadar karena “semua orang juga begitu”.

Orang yang tidak punya tujuan jelas ditakdirkan untuk menghamba pada agenda orang lain. Orangtua yang tidak punya cita-cita pendidikan yang jernih adalah mangsa empuk para pebisnis pendidikan.

***

Setelah paham tujuan, untuk memilih antara sekolah atau homeschooling, langkah anda selanjutnya adalah mengenali karakteristik dari masing-masing opsi.

Umpamakanlah memilih sekolah atau homeschooling itu seperti anda hendak memilih produk investasi.

Kita orangtua ini kan berperan sebagai manajer kehidupan anak-anak. Di tangan kita dipercayakan ke mana waktu dan energi anak akan diinvestasikan.

Saat hendak menginvestasikan uang, biasanya kita sangat hati-hati.

Seandainya datang agen asuransi atau reksadana ke tempat kita, lalu promosi produk investasi mereka, “Dengan premi sekian setiap bulan, dalam sekian tahun anda akan dapat keuntungan sekian kali lipat, Pak, Bu!” Tak mungkin kita langsung percaya.

Pasti kita cek dulu kredibilitas perusahaan asuransi atau reksadana itu. Tawarannya masuk akal tidak? Kok bisa premi sekian menghasilkan keuntungan sejumlah berapa kali lipat? Logikanya bagaimana? Cara kerjanya seperti apa? Sudah ada buktinya atau belum bahwa return produknya betul seperti yang dijanjikan? Dst.

Kita tak akan investasikan uang kita ke produk yang meragukan. Kita pikir dan kalkulasi dulu bolak-balik sebelum tanda tangan.

***

Jika soal uang saja kita hati-hati, bukankah soal waktu kita mesti lebih hati-hati lagi?

Hakikatnya, waktu adalah modal yang jauh lebih berharga daripada uang. Uang hilang masih bisa dicari, tapi waktu yang lewat tidak akan pernah kembali.

Apalagi ini waktu bukan milik kita sendiri, tapi milik anak-anak. Untung rugi, anaklah yang paling merasakannya.

Berarti harusnya pilihan pendidikan juga dihitung lebih sungguhan dibanding investasi asuransi atau reksadana, karena ini proses yang akan memakan banyak sekali waktu dan energi anak.

Anak sekolah – berapa jam sehari dia habiskan untuk menjalani prosesnya?

Dari mulai siap-siap berangkat sekolah, berkegiatan di sekolah, pulang sekolah, sampai les pelajaran dan mengerjakan PR, durasinya dalam sehari bahkan bisa lebih panjang dibanding pegawai kantoran. Dan itu mereka jalani 5-6 hari dalam seminggu, selama belasan tahun.

Selama jam sekolah yang panjang bertahun-tahun itu, waktu dan energi anak dihabiskan untuk apa? Apakah manfaat yang anak peroleh setimpal dengan investasi itu? Saat lulus sekolah, apakah terbukti anak-anak mendapat keterampilan yang dia butuhkan, menjadi pribadi seperti yang dicita-citakan?

Anak homeschooling – waktu dan energi anak akan diinvestasikan untuk kegiatan apa saja? Dan itu semua akan menghasilkan anak yang seperti apa?

Kalau anda belum punya gambaran yang jelas, coba cari tahu dulu sampai betul-betul paham. Pelajari berbagai filosofi, metode, dan kurikulum homeschooling (ini nanti juga akan kami buatkan artikel-artikelnya).

Kenalan dan ngobrollah dengan keluarga-keluarga homeschooler sungguhan supaya tahu praktik keseharian mereka. Ikutilah acara komunitas-komunitas homeschooler. Pantau berita-berita dan baca riset-riset soal sepak terjang atau prestasi anak homeschooler.

Setelah paham, baru anda bandingkan, di antara semua “produk investasi” yang ditawarkan, mana yang paling menguntungkan buat anda dan anak-anak? Pilih secara rasional, bukan emosional.

***

Kita ulangi lagi ya. Untuk memutuskan pilih sekolah atau homeschooling, pertama-tama perjelas dulu: apa yang keluarga anda inginkan dan butuhkan dalam proses pendidikan?

Setelah itu, lakukanlah riset serius. Ada baiknya anda bikin inventarisasi aspek plus-minus masing-masing opsi. Mana yang lebih banyak manfaatnya daripada mudharat-nya. Mana yang secara prinsipiil lebih dekat dengan visi pendidikan keluarga anda tadi?

Kalau perbandingannya sudah terlihat, langkah terakhir adalah melangkah, beranilah ambil risiko. Jangan sampai terjebak pada analysis paralysis, menganalisaaaaa terus, tapi tidak ke mana-mana.

Yang namanya memilih itu sedikit banyak selalu ada risiko salah, tapi kebanyakan menimbang dan tak pernah berani memilih itu justru kesalahan terbesar dalam hidup ini.

Leave a Reply

Top