Anda di sini
Beranda > Berita > PHI ke Solo Pos, Redaktur: Kami Jadi Lebih Paham Homeschooling

PHI ke Solo Pos, Redaktur: Kami Jadi Lebih Paham Homeschooling

Surakarta, phi.or.id – Redaksi Solo Pos menyambut hangat tim Perkumpulan Homeschooler Indonesia (PHI) di Griya Solo Pos pada hari Minggu (9/2) sore. Selama sekitar satu setengah jam, tim PHI bertukar pikiran dengan Redaktur Pelaksana Solo Pos Syifaul Arifin, redaktur Ahmad Mufid Aryono dan Ayu Prawitasari, serta jurnalis Ahmad Baihaqi.

Koordinator Nasional PHI Ellen Nugroho menjelaskan tentang fenomena masih salah kaprahnya pemahaman masyarakat, pemerintah, dan media tentang istilah homeschooling. Banyak yang mengira homeschooling itu berarti nama lembaga pendidikan nonformal, bukannya pendidikan berbasis keluarga. “Jadi ternyata berbeda ya? Soalnya selama ini yang saya tahu juga seperti itu,” komentar Ayu sambil tertawa ringan.

“Tapi memangnya apa perbedaan mendasar antara homeschooling yang sesungguhnya dengan belajar di lembaga berlabel homeschooling? Seperti apa cara belajarnya sehari-hari? Supaya kami ada gambaran,” tanya Syifaul lebih lanjut.

Ellen lantas menjelaskan ringkas sejarah munculnya gerakan homeschooling (HS) yang sejak semula dilandasi semangat merdeka belajar. Agar proses belajar bisa fleksibel dan terkustomisasi, orangtua homeschooler mengambil kembali peran sebagai penanggung jawab utama pendidikan anak dari tangan lembaga persekolahan. “Kalau kemudian orangtua berpikir homeschooling itu sekadar memindahkan anak dari sekolah formal ke lembaga berlabel homeschooling, berarti hakikatnya tidak berubah, kendalinya tetap di tangan lembaga, keluarga tidak menjadi lebih berdaya,” kata ibu tiga anak ini.

[Foto: Solopos.com/Ahmad Baihaqi]

Untuk memberi gambaran tentang keberagaman praktik homeschooling masing-masing keluarga, tim PHI bergantian memberi contoh. Anggota Tim Inti PHI Noor Aini Prasetyawati menceritakan praktik keseharian belajar anaknya yang berbasis metode Charlotte Mason. Koordinator Simpul PHI Kota Surakarta Rina Megawati berbagi tentang keseharian belajarnya dengan anak-anak berbasis metode Waldorf. Koordinator Simpul PHI Kabupaten Klaten Risca Ayu Maranita dan suaminya Anang Setyo Nugroho berbagi tentang konsep pendidikan wirausaha yang mereka jalankan.

Suasana lebih segar ketika Roetji Noor Soepono (9), putra Noor Aini, angkat bicara untuk menceritakan pengalamannya sebagai anak homeschooler mulai dari bangun pagi sampai tidur lagi. Semua tergelak ketika Roetji menyebut bahwa salah satu agenda hariannya adalah “kruntelan dengan Bapak dan Ibu”.

Suasana jadi serius ketika Roetji cerita bahwa dia juga pernah di-bully karena tidak sekolah. “Teman-temanku di les bahasa Inggris bilang kalau tidak sekolah itu berarti bodoh, akhirnya aku bawa saja mikroskop miniku ke tempat les, lalu aku tanya mereka, ‘Kalian tahu tidak caranya pakai ini?’ Ternyata mereka tidak bisa, jadi aku buktikan ke mereka bahwa aku ini tidak bodoh. Ada yang aku tahu, mereka nggak tahu,” Roetji berkisah, kembali disambut tawa oleh redaksi Solo Pos.

“Kami senang sekali mendapat informasi dari keluarga homeschooler seperti ini. Kami harapkan ke depannya, PHI bisa mengirimkan tulisan-tulisan opini tentang pendidikan dari sudut pandang homeschooler. Kalau keluarga homeschooler punya kegiatan, tolong kami dikabari supaya kami bisa meliput. Dan kapan-kapan kami juga akan berkunjung untuk melihat seperti apa kegiatan anak homeschooler,” ujar Syifaul menjelang akhir pertemuan.

Pasca audiensi ini, tim redaksi Solo Pos langsung menayangkan dua berita tentangnya di media online mereka: cuplikan cerita yang disampaikan Roetji dan siaran pers PHI tentang kebijakan merdeka belajar.

Leave a Reply

Top