Anda di sini
Beranda > Tentang PHI

DASAR PEMIKIRAN

Mendidik anak berbasis keluarga dan lingkungan menjadi praktik yang berusia sama tuanya dengan sejarah manusia itu sendiri. Secara alami anak butuh pendidikan. Secara alami pula, orangtua memiliki hak asasi sekaligus memikul tanggung jawab sebagai pendidik pertama dan utama dari anak-anaknya.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 menyebutkan, “Orangtua memiliki hak utama untuk menentukan jenis pendidikan yang akan diberikan kepada anak-anak mereka.” Pasal 18 ayat (1) Konvensi Hak Anak 1989 juga menyatakan, tanggung jawab utama soal pengasuhan dan perkembangan anak ada pada orangtua, dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik anak.

Ada banyak alasan konseptual maupun praktis yang membuat orangtua memilih homeschooling, yaitu mendidik anak-anaknya di luar sistem persekolahan. Riset membuktikan, anak-anak homeschooler berprestasi sama baik, bahkan bisa jauh lebih baik dibanding anak-anak lulusan sekolah formal.

Di Indonesia, secara yuridis formal, Pemerintah sudah mengakui legalitas homeschooling (HS) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 20 Th. 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, berbagai Peraturan Pemerintah pelaksananya, serta khususnya Permendikbud No. 129 Th. 2014 tentang Sekolahrumah.

Pengakuan terhadap legalitas ini masih harus dilanjutkan dengan edukasi publik tentang homeschooling sebagai pilihan pendidikan yang sah bagi orangtua Indonesia di luar opsi persekolahan, serta advokasi kebijakan yang didukung oleh riset dan kajian, sehingga anak-anak homeschooler bisa menikmati seluruh hak pendidikannya setara dengan siswa jalur formal dan nonformal tanpa diskriminasi.


LATAR BELAKANG PEMBENTUKAN PHI

Sudah bertahun-tahun sebetulnya, para praktisi HS merasa adanya kebutuhan untuk berorganisasi untuk memperjuangkan kepentingan homeschooler di hadapan pemerintah dan masyarakat.

Tanpa organisasi, homeschooler akan sulit memperbaiki realitas yang tidak ideal di Indonesia berikut ini:

  • Paradigma masyarakat bahwa pendidikan identik dengan persekolahan, yang menghasilkan respons negatif dan tekanan sosial-psikologis pada para praktisi HS.
  • Pejabat atau aparat pendidikan belum paham/memihak kepada praktisi pendidikan alternatif, termasuk HS, yang memunculkan tindak administratif kebijakan yang menyulitkan, membatasi, atau mendiskriminasi anak atau keluarga homeschooler sebagai tidak setara dengan siswa pendidikan formal atau keluarganya.
  • Isi peraturan perundangan belum sesuai dengan aspirasi praktisi, yang membatasi upaya keluarga untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak homeschooler.
  • Adanya lembaga-lembaga pendidikan yang memakai “merk” homeschooling, yang membuat masyarakat dan Pemerintah rancu antara praktisi homeschooler sejati dengan lembaga pendidikan berlabel homeschooling.

Bulan Oktober 2016, beberapa homeschooler lintas daerah menginisiasi Kelas Analisis Sosial Bagi Homeschooler. Dari kelas ini, disadari masih banyak PR yang harus digarap oleh homescholer, baik di ranah edukasi, riset, maupun advokasi.

Dengan bekal pemahaman yang lebih kritis tersebut, pada tanggal 20 Desember 2016, sepuluh orang homeschooler berkomitmen untuk menjadi Tim Inti dan pendiri dari Perserikatan Homeschooler Indonesia (PHI).

Adapun sepuluh orang tersebut adalah:

  1. Ellen Kristi (Semarang)
  2. Anggrahenny C Putri (Semarang)
  3. Sapta Nugraha (Yogyakarta)
  4. Dominika Oktavira Arumdati (Yogyakarta)
  5. Noor Aini Prasetyawati (Solo)
  6. Moi Kusman (Cilegon)
  7. Annette Mau (Jakarta)
  8. Idaul HS (Malang)
  9. Lyly Freshty (Surabaya)
  10. Rebecca Laiya (Nias)

Terinspirasi dari nama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), nama Perserikatan menunjukkan kita adalah keluarga-keluarga yang otonom tetapi sepakat bergabung untuk mewujudkan kebijakan dan kualitas pendidikan yang lebih baik di Indonesia melalui praktik homeschooling.

PHI mengapresiasi perjalanan panjang semua insiatif dan upaya terdahulu untuk menyatukan kekuatan homeschooler lewat organisasi, komunitas lokal, event dan festival. PHI berharap kita bisa bersama-sama bergerak lebih progresif sebagai HOMESCHOOLER INDONESIA, melampaui batas wilayah dan sekat-sekat primordial apa pun.

Mari kita bantu pemerintah dan masyarakat untuk lebih paham apa esensi dari kemerdekaan belajar, pentingnya keluarga sebagai basis pendidikan. Mari kita yakinkan pemerintah bahwa keluarga kita siap dan mampu  bertanggung jawab penuh atas pendidikan anak-anak kita sendiri tanpa harus menitipkan di satuan pendidikan formal.


VISI, MISI, DAN PROGRAM UTAMA PHI

Visi:

Terjaminnya hak homeschooler Indonesia untuk merdeka belajar secara legal, setara, dan berkualitas

Misi:
  1. Memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada homeschooler
  2. Membangun kesadaran kritis homeschooler Indonesia
  3. Mengedukasi masyarakat tentang esensi dan legalitas sekolahrumah (homeschooling)
Kegiatan:
  1. Menggalang solidaritas dan membangun jaringan homeschooler di seluruh Indonesia
  2. Melibatkan diri dalam penyusunan, pemantauan, evaluasi, dan revisi kebijakan yang terkait kepentingan homeschooler
  3. Menyediakan informasi, edukasi, konsultasi, advokasi, dan layanan lain terkait homeschooling yang dibutuhkan homeschooler, masyarakat, atau aparat pemerintah
  4. Melakukan riset dan kajian terkait homeschooling
  5. Bekerja sama dengan pihak lain untuk mewujudkan pendidikan berkualitas bagi seluruh anak Indonesia

 

Jika Anda berminat untuk mendaftarkan diri silakan klik tautan di bawah:

Informasi Pendaftaran

 

Top