Anda di sini
Beranda > Artikel > Serba-Serbi Kurikulum 2013 yang Perlu Homeschooler Pahami

Serba-Serbi Kurikulum 2013 yang Perlu Homeschooler Pahami

Halo, kawan-kawan homeschooler Indonesia! Hari Minggu tanggal 20 Januari 2019 lalu, sebagian Tim Inti dan koordinator simpul PHI berdiskusi selama kurang lebih 4 jam dengan Fauzi Eko Pranyono. Beliau pamong belajar dari Balai Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD Dikmas) DI Yogyakarta, praktisi dan pemantau kebijakan pendidikan nonformal di Indonesia. Kami menimba ilmu dari Pak Fauzi tentang Kurikulum 2013 alias Kurtilas.

Mengapa homeschooler perlu belajar memahami Kurtilas? Karena per tahun ajaran 2019/2020 ini, semua satuan pendidikan nonformal (baca: SKB dan PKBM) sudah wajib beralih ke Kurtilas. Peralihan ini diatur dalam Permendikbud 160/2014. Ini berarti SKB atau PKBM tempat anak-anak kita menginduk bakal (atau malah sudah) mengubah proses pembelajaran dari kurikulum lama (Kurikulum 2006 atau KTSP) ke Kurtilas.

Nah, artikel ini berusaha untuk merangkum hasil diskusi kami dengan Pak Fauzi dan menarasikannya untuk kawan-kawan. Ada beberapa informasi kunci yang menurut kami perlu diketahui mengenai konsep dan praktik pendidikan kesetaraan berbasis Kurtilas. Gambar-gambar ilustrasi kami pinjam dari materi presentasi Pak Fauzi.

Belajar Berbasis Modul

Berbeda dengan KTSP, cara belajar Kurtilas mirip seperti perkuliahan di kampus. Untuk naik tingkat, siswa harus menyelesaikan sejumlah modul. Per paket kompetensi ada 2-3 modul per mapel yang harus diselesaikan. Modul harus diselesaikan secara berurutan. Siswa hanya boleh lanjut ke modul berikutnya jika modul sebelumnya telah tuntas.

(c) Fauzi EP

Tingkat I Paket A (setara kelas 1-3) fokus pada melek aksara; artinya, yang penting anak lancar membaca dan menulis. Modul baru mulai dikerjakan pada Tingkat II Paket A, atau setara kelas 4. Agar bisa mengkuti ujian kesetaraan, pada jenjang Paket A, total ada 75 modul yang harus anak tuntaskan untuk 5 mapel UNPK (PKn, bahasa Indonesia, matematika, IPA, dan IPS). Pada jenjang Paket B, total ada 90 modul untuk 6 mapel (PKn, bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, dan bahasa Inggris). Pada jenjang paket C, total ada 115 modul untuk 7 mapel (tergantung peminatannya).

Saat ini belum semua modul tersedia. Pemerintah baru merilis modul setara kelas 4, kelas 7, dan kelas 10. Modul-modul kelas 5-6, 8-9, dan 11-12 segera menyusul. Kawan-kawan bisa mengunduh modul yang telah tersedia itu pada tautan berikut:

  1. Modul Kurtilas Paket A
  2. Modul Kurtilas Paket B
  3. Modul Kurtilas Paket C

 

Kecepatan Belajar Bersifat Individual

Dalam Kurtilas pendidikan kesetaraan, tidak ada lagi ujian semester. Hanya ada ujian modul. Ketika semua materi dan tagihan tugas sudah selesai, siswa bisa meminta ujian modul. Dalam perhitungan normal, setahun anak bisa menyelesaikan dua paket kompetensi (5 modul per mapel). Namun ini hanya perkiraan saja. Anak boleh menuntaskan modul-modul itu lebih lambat, boleh juga lebih cepat. Asalkan semua kompetensi tercapai dan tagihan tugas terpenuhi, anak boleh lanjut ke level modul selanjutnya.

Dengan demikian, kecepatan belajar satu anak dengan anak lainnya tidak harus seragam – misalnya, anak A sudah tuntas semua modul IPS, tapi modul IPA baru separuh tercapai, sedangkan anak B kebalikannya (lebih maju di mapel IPA daripada IPS). Bahkan anak yang sama bisa melaju dengan kecepatan berbeda pada mapel berbeda – misalnya, mapel bahasa Indonesia anak sudah modul 4, tapi di mapel matematika dia baru modul 2. Lambat dan cepatnya menyelesaikan jenjang pendidikan menjadi individual. Anak bisa mengatur lajunya sendiri-sendiri.

Empat Kompetensi Inti

Kurtilas memungkinkan anak naik jenjang lebih cepat, dari seharusnya 3 tahun menjadi 2 tahun, misalnya. Namun, untuk melaju secepat itu juga bukan semudah membalik telapak tangan ya. Soalnya, yang dituntut Kurtilas tidak sedikit. Ada empat kompetensi inti (KI) yang akan dinilai: sikap spiritual (KI-1), sikap sosial (KI-2), pengetahuan (KI-3), dan keterampilan (KI-4).

Berbeda dari KTSP, dalam Kurtilas semua pengetahuan (KI-3) harus disertai keterampilan (KI -4). Jadi, anak tidak cukup hanya memahami buku teks dan bisa menggarap soal ujian saja, tetapi mesti mendemonstrasikan keterampilan yang relevan. Sebagai gambarannya, bisa simak contoh pasangan pengetahuan (poin 3.23) dan keterampilan (poin 4.23) mapel bahasa Indonesia di bawah ini.

(c) Fauzi EP

Gambar di atas adalah contoh bahwa anak tidak cukup bisa menjawab soal tentang perbandingan karakteristik teks puisi dan prosa saat ujian (KI-3). Kurtilas juga menuntutnya membuat tugas mengubah teks puisi ke prosa (KI-4). Tagihan tugas-tugas seperti ini harus dipenuhi dan disimpan sebagai bukti anak telah menuntaskan seluruh materi modul tersebut.

Penyederhanaan Mapel

(c) Fauzi EP

Dibanding KTSP, jumlah mapel yang dicantumkan dalam evaluasi pembelajaran Kurtilas lebih sedikit. Subjek-subjek dibedakan ke dalam dua kategori yakni: (1) kelompok umum, yang meliputi pendidikan agama dan budi pekerti plus sejumlah mapel yang akan di-ujian-nasional-kan; (2) kelompok khusus yang isinya pemberdayaan dan keterampilan. Pemberdayaan meliputi olahraga, seni budaya, dan prakarya. Keterampilan bisa hard skills apa saja. Nilai siswa dihitung 70% dari kelompok umum dan 30% dari kelompok khusus.

(c) Fauzi EP

Opsi Pembelajaran Mandiri dan Daring

Sesuai Permendikbud 129/2014 tentang Sekolahrumah, proses pendidikan anak homeschooler tetap dikelola oleh keluarga meskipun secara legal menginduk ke SKB/PKBM. Jadi, apakah anak perlu hadir secara fisik di PKBM? Jawabannya: tergantung PKBM itu masih konvensional atau sudah memiliki learning management system yang memungkinkan pembelajaran online.

(c) Fauzi EP

Alur pembelajaran Kurtilas dimulai dengan homeschooler membuat dulu kontrak belajar dengan tutor SKB/PKBM. Template kontrak belajar bisa diunduh di tautan ini.

Setelah ada kontrak belajar, homeschooler bisa menjalankan pembelajaran mandiri penuh. Setelah materi modul dituntaskan, tagihan-tagihan tugas diserahkan, anak bisa minta ujian modul. Pada PKBM yang masih konvensional, pembuatan kontrak belajar dan pelaksanaan ujian modul dilakukan lewat tatap muka. Sementara, PKBM yang telah punya sistem belajar dalam jaringan (online) semua proses itu bisa dikerjakan dari jarak jauh dan siswa hanya harus hadir secara fisik pada saat ujian nasional sesuai Paketnya.

Dengan kata lain, kalau homeschooler menginduk di PKBM yang masih konvensional, dia butuh hadir secara fisik minimal dua kali per modul. Di luar itu, ia juga dapat meminta tatap muka (untuk meminta penjelasan materi) atau tutorial (untuk mengerjakan latihan soal) kepada tutornya.

(c) Fauzi EP

***

Nah, begitulah, kawan-kawan homeschooler Indonesia, narasi singkat dari kami tentang Kurtilas. Semoga paparan sederhana ini membantu kawan-kawan lebih paham ya. Buat yang ingin tahu lebih banyak, sila gabung untuk berdiskusi di grup Facebook atau WhatsApp Layanan PHI (sila kontak Halo PHI di 0812-3497-4994). Kita saling membantu satu sama lain agar sama-sama paham hak dan kewajiban kita saat menginduk di satuan pendidikan nonformal. Salam kemerdekaan belajar!

Leave a Reply

Top