Anda di sini
Beranda > Artikel > Apakah Homeschooling Solusi yang Tepat untuk Siswa dengan HIV?

Apakah Homeschooling Solusi yang Tepat untuk Siswa dengan HIV?

Akhir Oktober 2018 ini, tersiar berita ada tiga anak yatim piatu H (11), SA (10), dan S (7) yang dilarang bersekolah, bahkan terancam diusir oleh masyarakat dari Kabupaten Samosir, karena didapati terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Menurut berita dari VOA Indonesia hari Minggu  (21/10), mereka bertiga tadinya bersekolah formal di PAUD Welipa dan Sekolah Dasar Negeri 2 Nainggolan dan tinggal di rumah milik Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Bupati Samosir Rapidin Simbolon mengatakan bahwa ada sekelompok orangtua di sekolah ketiga anak itu yang tidak setuju mereka terus bersekolah di sana. “Mereka menyatakan ke kepsek, kalau 3 anak masih di situ, maka orangtua akan menarik anak-anak dari sekolah itu,” jelasnya. Menyikapi tuntutan sebagian orangtua tersebut, Pemerintah Kabupaten Samosir menawarkan opsi homeschooling bagi ketiga anak itu. “Kami menawarkan semacam kejar paket A atau homeschooling,” kata Rapidin sebagaimana dikutip Detik News hari Kamis (25/10).

Tawaran itu menimbulkan keberatan dari Komite AIDS HKBP. “Pertemuan terakhir dengan Pemkab Samosir, dan hasil pembicaraan mereka menyarankan homeschooling. Tapi mengarahkan anak-anak dipindahkan saja dari tempat itu. Mereka bilang kenapa harus di Samosir. Kenapa bukan di tempat lain. Anak-anak butuh sosialisasi dengan teman-temannya. Dia bisa berkembang ketika mereka bermain sama teman-teman sebaya. Ketika dia dibuat homeschooling mereka nanti semakin merasa terisolasi. Mereka akan merasa bahwa tidak punya teman dan itu akan membuat anak-anak terpuruk, menurut kami. Jadi kami berharap mereka diterima di sekolah,” ucap Berlina Sibagariang, sekretaris eksekutif Komite AIDS HKBP, dalam berita VOA Indonesia tersebut.  

Homeschooling Tak Mungkin Dipaksakan

Dalam kasus di atas, tampak adanya ketidakpahaman aparat dan masyarakat tentang homeschooling. Istilah homeschooling saat ini memang sudah mulai populer di berbagai kalangan masyarakat. Sayangnya, tidak selalu dengan pengertian yang tepat, sehingga digunakan secara tidak tepat pula. Ketidakpahaman ini perlu diluruskan saat mereka mempertimbangkan tepat atau tidaknya homeschooling sebagai solusi untuk masa depan ketiga anak itu.

Dalam sejarahnya, gerakan homeschooling semula muncul di Amerika pada tahun 1960-an. Sejumlah orangtua memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anak karena keyakinan bahwa belajar tidak harus di sekolah. Mereka juga yakin bahwa anak-anak justru lebih leluasa belajar kalau tidak bersekolah. Keyakinan itu lalu ditindaklanjuti dengan komitmen mendampingi penuh proses belajar anak-anak mereka. Orangtua terlibat penuh sebagai fasilitator belajar anak. Dengan kata lain, homeschooling tidak bisa dilihat sebatas status anak yang tidak (lagi) sekolah, tetapi adanya keyakinan, kesukarelaan, dan komitmen orangtua atau wali: keyakinan bahwa anak bisa bahagia belajar tanpa sekolah, sukarela memilih untuk tidak sekolah, dan komitmen menjalani suka-duka belajar tanpa sekolah.

John Holt, pionir gerakan homeschooling Amerika, menyatakan bersekolah atau tidak bersekolah sama-sama hak anak. Tujuan akhirnya adalah anak bertumbuh kembang secara optimal dan bahagia. Mau sekolah atau homeschooling, itu haruslah pilihan yang diambil secara sadar dan dipertimbangkan oleh keluarga dengan matang. Jangan sampai pilihan mana pun malah menyakiti anak dan mematikan hasrat alami anak untuk belajar.

Jika  benar ketiga anak di Samosir dalam kasus di atas sudah yatim piatu, maka dengan sendirinya pilihan homeschooling menjadi sangat sulit. Kalau orangtua mereka sudah tiada, keputusan homeschooling atau tidak seharusnya ada di tangan wali atau pengasuh. Yakinkah pengasuh bahwa anak-anak akan bahagia belajar tanpa sekolah? Sukarelakah mereka mengeluarkan anak dari sekolah? Siapkah mereka menjadi fasilitator proses pendidikan anak-anak itu tanpa dukungan sekolah? Jika tidak ada keyakinan, kesukarelaan, dan kesiapan dari pengasuh, alih-alih menjadi opsi pendidikan, instruksi untuk homeschooling sama dengan meniadakan hak pendidikan ketiga anak tersebut. Label homeschooling hanya menjadi topeng pemanis untuk kebijakan pengucilan terhadap anak terinfeksi HIV.  

Bukan Sekadar Memindahkan Sekolah ke Rumah

Saya menduga masih ada persepsi keliru dari aparat dan masyarakat bahwa homeschooling itu seperti memindahkan sekolah ke rumah. Barangkali yang dibayangkan anak homeschooler terus-menerus di rumah, mengerjakan materi sekolah hanya ditemani orangtuanya, tanpa ada anak-anak sebaya lainnya. Bayangan itu dengan sendirinya membuat orang berpikir: anak homeschooler bakal tak punya teman, gagap dalam bersosialisasi, kuper, dan sejenisnya.

Persepsi keliru ini bisa dimaklumi karena sebelumnya persekolahan adalah satu-satunya opsi belajar yang dikenal oleh masyarakat. Dan karena kebanyakan orang tidak kenal dekat dengan keluarga homeschooler atau komunitasnya, mereka belum punya wawasan tentang seperti apa sebetulnya proses belajar anak homeschooler. Biasanya setelah kenal betul, baru orang-orang ini akan menanggalkan persepsi keliru itu.

Konsep dasar dalam homeschooling justru adalah kemerdekaan belajar. Orangtua homeschooler menanggalkan paradigma “sekolah adalah satu-satunya tempat belajar”. Mereka menyusun visi pendidikan ideal yang mereka harapkan, lalu menyesuaikan agenda, materi, dan jadwal belajar sesuai visi itu sekaligus kondisi spesifik keluarga dan masing-masing anak. Ada keluarga yang fokus pada pendidikan karakter, ada yang tekun menumbuhkan jiwa kewirausahaan, ada yang serius mengembangkan minat dan bakat anak sejak dini, dan lain sebagainya.

Jadwal harian anak homeschooler menjadi sangat variatif. Tidak ada praktik homeschooling yang seragam karena tiap keluarga dan tiap anak itu unik. Pada umumnya, anak homeschooler punya waktu luang lebih banyak untuk menekuni bidang yang ia sukai. Ia juga bisa leluasa bergabung dengan banyak komunitas yang dianggap penting untuk perkembangan dirinya.

Riset beberapa dekade terakhir di Amerika dan Kanada menunjukkan bahwa anak-anak homeschooler bukan hanya menonjol dalam prestasi akademis, tetapi juga tidak punya masalah dalam sosialisasi. Studi Ray (2004) mendapati anak homeschooler di Amerika saat dewasa relatif lebih bahagia dan lebih banyak terlibat dalam organisasi masyarakat sipil. Studi Van Pelt, Alison, dan Alison (2009) mendapati anak homeschooler di Kanada saat dewasa lebih aktif bergaul di masyarakat dibandingkan populasi anak muda lainnya. Dari ringkasan atas 8 riset yang tersedia, Henk Blonk (2004) menyimpulkan bahwa “anak-anak homeschooler bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat sama baiknya dengan anak sekolahan, kalau tidak bisa dibilang lebih baik.”

Apa faktor yang membuat anak homeschooler tetap bisa berprestasi secara akademis maupun pandai bergaul? Salah satu faktor utama, lagi-lagi, adalah pendampingan penuh komitmen dari orangtua! Asalkan orangtua homeschooler senang bergaul dan bisa memfasilitasi anaknya untuk ikut berbagai kegiatan, keterampilan bersosialisasi anak homeschooler akan berkembang baik, karena ia mengikuti teladan dan dukungan dari orangtuanya. Artinya, homeschooling bisa saja menjadi opsi pendidikan bagi anak terinfeksi HIV apabila keluarga anak itu menganggap homeschooling sesuai dengan visi pendidikan mereka dan siap menjalankannya. Tidak sekolah bukan berarti hanya di rumah saja. Justru anak homeschooler harus difasilitasi untuk bergaul seluas mungkin dengan masyarakat, mencari banyak teman dari beragam latar belakang, mengejar mimpi-mimpi pribadi dan berpartisipasi sebagai warga negara yang bertanggung jawab.  

Akar Masalah yang Lebih Mendasar

Sampai di sini, kita bisa melihat bahwa problem mendasar pada kasus anak terinfeksi HIV di atas tidak sesederhana mau  terus sekolah atau homeschooling. Baik bersekolah atau homeschooling, anak terinfeksi HIV menghadapi tantangan yang sama: apakah masyarakat mau menerima mereka sehingga bisa berkegiatan secara wajar seperti anak-anak yang tidak terinfeksi HIV? Tanpa ada penerimaan itu, opsi homeschooling menjadi percuma karena hak anak untuk memperoleh pendidikan terbaik tetap tak akan terpenuhi.

Tampak jelas bahwa penolakan masyarakat Desa Nainggolan di Kabupaten Samosir terhadap ketiga anak terinfeksi HIV disebabkan oleh rasa takut tertular. Ketakutan itu muncul akibat rendahnya pengetahuan mereka tentang HIV. Selama pemahaman yang keliru tentang HIV tidak berubah, diskriminasi dan pengucilan terhadap anak terinfeksi HIV akan terus terjadi. Akibatnya, hak pendidikan anak-anak itu bakal terhambat atau terampas.

Apabila pemerintah daerah betul-betul berniat mengayomi semua anak secara setara, maka homeschooling semestinya tidak disodorkan sebagai opsi paksaan. Apakah wali atau pengasuh utama mereka yang sekarang merasa yakin, sukarela, dan siap menjalankan homeschooling? Apakah anak-anak itu, kalau jadi homeschooling, punya keleluasaan untuk berkegiatan dan bergaul dengan semua lapisan masyarakat? Jika jawabannya “tidak”, maka pemaksaan opsi homeschooling kepada siswa dengan HIV menjadi kebijakan yang absurd dan tidak menyelesaikan akar masalah yang sesungguhnya.

 

— Ilustrasi Foto: Anak Berangkat Sekolah (Kristupa Saragih)

Leave a Reply

Top