Anda di sini
Beranda > Berita > Serunya Belajar Serba-Serbi Homeschooling di Festival Sukacita Belajar

Serunya Belajar Serba-Serbi Homeschooling di Festival Sukacita Belajar

Jakarta, phi.or.id — Pandangan mata Kanza (7) tajam memandang dua “gadis” yang bersimpuh di depannya. Kepalanya dihiasi mahkota emas dari kertas. Ia sedang berperan sebagai Raja yang tengah menguji kedua putrinya, mana yang paling pantas menggantikan posisinya sebagai penguasa negeri. .

Kanza tampil bersama 12 kawannya dari komunitas homeschooler Belajar Bersama. Drama ini menjadi pentas pembuka Festival Sukacita Belajar di anjungan Kalimantan Barat, Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, pada hari Minggu (22/7) lalu. Selain komunitas Belajar Bersama, event ini melibatkan kolaborasi dari empat komunitas homeschooler Jabodetabek lainnya, yakni Oase, Kerlap, Pijar, dan Pancar.

“Tujuan Festival ini sebetulnya sederhana. Kami homeschooler ingin menjelaskan pada keluarga besar, kerabat, dan masyarakat yang sering bertanya: homeschooling itu seperti apa, kenapa kok anaknya nggak disekolahkan, lalu cara ngajarnya bagaimana, juga hasilnya seperti apa. Lewat festival ini semoga orang-orang makin paham tentang homeschooling sebagai pendidikan berbasis keluarga, suatu alternatif pendidikan yang bisa dipilih,” kata ketua panitia Simon Fauzan Priyanto.

Seluruh rangkaian acara dari pagi sampai sore memang dirancang untuk memuaskan rasa penasaran orang tentang homeschooling. Sementara orangtua mendengar berbagai talkshow tentang seluk beluk homeschooling atau mengunjungi beragam booth komunitas homeschooler, anak-anak disibukkan mengikuti berbagai workshop kreativitas yang seru bersama para fasilitator. Pengunjung juga bisa berbelanja beragam produk hasil karya anak-anak homeschooler, mulai dari tote bag, talenan, pigura, pouch doodle dan grafitti, sampai slime.

Koordinator Perkumpulan Homeschooler Indonesia (PHI) Ellen Nugroho mengisi sesi tentang esensi dan legalitas homeschooling bersama Aar Sumardiono, penulis buku “Apa Itu Homeschooling”. Aar menjelaskan bahwa keputusan untuk homeschooling mesti terkait dengan visi pendidikan keluarga. “Homeschooling adalah customized education yang dijalankan oleh keluarga, bukan lembaga,” kata pendiri Rumah Inspirasi ini.

Menguatkan yang disampaikan oleh Aar, Ellen menyatakan bahwa PHI menyayangkan pemakaian nama homeschooling oleh lembaga-lembaga pendidikan nonformal, yang justru mengacaukan pemahaman masyarakat. “UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 mengatur ada 3 jalur pendidikan: formal, nonformal, dan informal. Sama seperti lembaga kursus tidak boleh mengaku sebagai jalur formal SD/SMP/SMA, lembaga-lembaga nonformal seharusnya jangan menyebut diri sebagai Homeschooling, karena homeschooling adalah pendidikan informal,” lanjutnya.

Selanjutnya Ellen menerangkan bagaimana proses anak homeschooler bisa mendapatkan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN), mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK), dan adanya aturan bahwa ijazah kesetaraan (Paket A/B/C) harus diperlakukan setara dengan ijazah formal. “Belum semua aturan ideal, dan belum semua aturan yang sudah bagus bisa dijalankan. Menjadi orangtua homeschooler itu juga butuh perjuangan. Untuk memperjuangkan hak-hak homeschooler itulah PHI dibentuk,” katanya.

Menyusul sesi ini, ada juga talkshow dengan anak-anak homeschooler yang mencapai berbagai prestasi. Ada Yla dan Vyel, kakak beradik yang sama-sama jadi atlet wushu nasional, peraih medali dari berbagai kejuaraan nasional dan internasional. Ada Hanif, remaja homeschooler pemenang  kejuaraan robotik di Singapura. Kemudian Nuala yang menjadi wirausahawan muda, Hans yang menekuni musik, dan Zaky sang desainer digital.

Selanjutnya ada sesi sharing dari keluarga homeschooler dari Cilegon, suami istri Ichsan Ruzuar dan Wimurti Kusman, dengan tiga anaknya: Fari, Amira, dan Fattah. Dua anak pertama berhasil menembus perguruan tinggi negeri berbekal ijazah paket C, bahkan Amira mendapat beasiswa S-2 ke University College London di Inggris.

Yang juga menarik adalah sesi talkshow tentang metode-metode homeschooling. Berbeda dari persekolahan yang proses pembelajarannya ditentukan oleh sekolah, dalam homeschooling, keluarga punya kemerdekaan untuk memilih metode yang dirasa sesuai dengan visi pendidikannya. Hadir sebagai narasumber Wiwiet Mardiati, dosen Universitas Indonesia yang menjadi praktisi unschooling; Ayu Primadini, pengajar bahasa Inggris yang menjalani metode Charlotte Mason; juga Aar Sumardiono selaku praktisi metode eklektik.

Selang-seling dengan talkshow, anak-anak homeschooler dari berbagai komunitas unjuk kemampuan. Ada atraksi The Joompalits yang menggabungkan keahlian wushu dan parkour dari Yla, Vyel, dan Zaky. Kemudian pentas seni dari teman-teman kecil Klub Oase. Diberikan pula hadiah kepada para pemenang kontes foto Sukacita Belajar.

Sisi lain tak kalah penting dari Festival ini adalah semangat “nol sampah” yang diusungnya. Semua peserta yang hadir telah diingatkan sebelumnya untuk membawa alat makan dan botol minumnya sendiri. Begitu masuk ke lokasi, tampak poster besar uraian petunjuk Zero Waste. Kotak-kotak pembuangan sisa konsumsi ada di banyak titik, dilengkapi keterangan klasifikasi sampah. Alhasil, meskipun yang hadir ratusan orang, lokasi tampak tetap bersih. Salut pada kematangan konsep panitia dan kerapian eksekusinya!

Leave a Reply

Top