Anda di sini
Beranda > Artikel > Mantra yang Menguatkanku Menjalani Homeschooling

Mantra yang Menguatkanku Menjalani Homeschooling

Oleh: Yemmi Liu

Aku adalah orangtua tunggal, perantauan dari Pontianak. Aku memiliki dua anak: satu putri kelahiran tahun 2010 dan satu putra kelahiran tahun 2012. Kami tinggal di kecamatan Parungkuda di kabupaten Sukabumi, tempat yang terkenal adem. Aku pun sudah adem tinggal di sini, merasa tempat ini zona nyamanku.

Dengan bantuan modal dari keluarga, aku memulai usaha sendiri. Aku membuka toko kecil di jalan raya yang menjual kebutuhan para pekerja pabrik. Pabrik-pabrik sudah menjamur di kabupaten Sukabumi ini. Pelanggan setiaku adalah para pekerjanya yang kebanyakan menggunakan bahasa Sunda untuk keseharian mereka.

Galau Pilih Sekolah

Keputusan untuk menjalankan homeschooling bagi kedua anakku kuambil melalui proses yang panjang. Seperti kebanyakan orang, semula paradigmaku masih menganggap sekolah itu satu-satunya tempat belajar.

Saat putriku berumur 4 tahun aku mulai kebingungan mencari sekolah untuk anak-anakku. Soalnya kulihat semua anak seumurannya yang datang ke toko sudah masuk PAUD dan dileskan baca tulis. Aku kuatir anakku telat bisa baca, jadi aku daftarkan dia ke les baca tulis, les matematika, dan PAUD. Tapi setelah kulihat prosesnya, aku tak merasa lega. Kasihan putriku kecapekan hanya karena mamanya ikut arus.

Lalu aku mendengar istilah homeschooling. Aku ingat, dulu istilah ini asing banget di telinga bahkan di hatiku. Kesanku, homeschooling itu alat pencari sensasi buat para selebritis. Aku sempat menganggap homeschooling menghambat sosialisasi anak-anak, homeschooling itu mahal. Banyak penghakimanku pada homeschooling ini.

Cari Tahu tentang Homeschooling

Namun di hati ini terasa masih ada yang mengganjal. Ada sesuatu yang mendesak untuk keluar. Aku ingin mencari tahu lebih dalam tentang homeschooling karena pada dasarnya aku ingin anakku belajar di tempat yang aman, yaitu rumah. Aku ingin anak bisa bebas mengekspresikan diri, diperhatikan secara penuh, terlindungi dari bullying, dan aku bisa memantau terus tumbuh kembangnya. Aku awam sekali dengan homeschooling, tapi aku merasa homeschooling bisa membentuk karakter positif pada anakku.

Akupun mencari info di wahana gaul alias media sosial. Ketemulah dengan tokoh-tokoh yang menjelaskan homeschooling. Aku juga ikut webinar tentang homeschooling. Komunitas-komunitas homeschooler yang dekat dan jauh pun aku sambangi. Aku belajar dari mereka yang sudah lebih dulu meng-homeschooling-kan anak-anak mereka.

Dari melihat dan menyimak, aku jadi tahu kalau homeschooling selalu menyangkut tentang parenting. Keluarga-keluarga homeschooler tidak menyekolahkan anak bukan cuma supaya enak bisa jalan-jalan ke mana-mana kapan saja. Ternyata memilih homeschooling itu repot! Orangtuanya harus mau capek. Kalau mau homeschooling, aku sendiri juga harus berubah, bukan asal perintah sana sini, asal melarang ini itu.

Mulai Menjalani Homeschooling

Pertengahan tahun 2016. Aku memutuskan putriku tidak akan melanjutkan ke jenjang SD. Aku mendapatkan penolakan terutama dari keluargaku. Aku tidak dipercaya untuk mendidik anak-anakku sendiri. Aku bukan guru. Tingkat akademisku hanya lulusan SMU. Mereka takut tanpa sekolah anak-anakku tidak punya masa depan.

Ini benar-benar menurunkan mental baja dalam hatiku. Aku sempat merasa tidak percaya diri bisa homeschooling. Tapi aku tidak menyerah. Aku tetap pada keyakinan bahwa homeschooling itu pilihan yang benar dan tepat. Justru aku ingin mengubah pandangan orang-orang sekitar dengan memberi bukti positif dari hasil menjalankan homeschooling.

Namun sebagai “anak baru”, mentalku masih mudah terpengaruh, aku terbawa arus gelombang kesana sini. Aku ikut-ikutan mendaftarkan anak ke “homeschooling” lembaga (yang baru kemudian aku tahu ternyata bukan homeschooling dalam arti sebenarnya, melainkan sekolah fleksi). Tidak lupa putriku kudaftarkan kursus-kursus juga. Ciri khas ibu yang sedang semangat ’45. “Maju dulu, hasilnya dipikir entar saja.” Itulah aku, ha ha ha.

Paradigma lama bahwa anak harus jenius masih mengakar di pikiranku. Karena belum jelas di tujuan, jadinya jalanku compang-camping, apalagi aku sendirian mengurus anak-anak sambil mengurus toko. Sempat toko terbengkalai karena tidak konsisten buka. Tapi sejalan dengan makin pahamnya aku tentang homeschooling, aku makin bisa menata kegiatan, mana yang harus lebih didahulukan.

Bergabung dengan PHI

Bulan April 2017. Aku mendengar bahwa Perkumpulan Homeschooler Indonesia akan mengadakan sosialisasi di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Aku gunakan kegigihanku untuk mengikuti sosialisasi PHI walau jauh dari kotaku. Bangun pagi-pagi dan setelah menyiapkan anak-anak, aku pun berangkat.

Dari sosialisasi PHI aku mendapat info bahwa anak homeschooler harus mendaftar ke Dinas Pendidikan dan harus mengurus NISN agar diakui sebagai peserta didik Indonesia. Aku juga jadi tahu bahwa pemerintah akan mensyaratkan gelar sarjana bagi orang tua yang menjalankan HS.

Tambah pusing kepalaku, seperti ombak besar menghantami tubuhku ini. Sudah ribet mengatur jadwal belajar anak-anak, susah menetralkan pandangan keluarga dan orang sekitar, sekarang ditimpa lagi beban dari pemerintahan. Tapi aku sudah terlanjur basah, aku tidak akan move on dari homeschooling.

Lalu aku tercerahkan dengan bahasan di sesi “Sudah Waktunya Homeschooler Bergerak Bersama.” Keren ya. Kita sudah bergerak tapi ternyata belum cukup, disuruh bergerak lagi. Walau belum terlalu paham tentang PHI, tapi karena suka pada slogan “mari bergerak bersama!” itu aku iya saja waktu ditunjuk sebagai koordinator simpul PHI Sukabumi.

Tumbuh Bersama PHI

Aku tidak percaya dengan jodoh, tapi aku percaya dengan pencarian. Setiap aku memilih sesuatu, aku memantapkan diri. Aku selalu punya prinsip: jangan setengah-setengah. Jadi, meskipun baru homeschooling 1 tahun ini, aku terima seabrek tugas dan tanggung jawab sebagai koordinator simpul PHI Sukabumi, termasuk memberi sosialisasi ke masyarakat tentang esensi dan legalitas homeschooling.

Bulan Agustus 2017, aku bawa anak-anakku berangkat ke Semarang untuk mengikuti pelatihan analisis sosial PHI. Sebelum ikut, pesertanya diberi tugas esai. Aku googling arti kata esai. Aku tidak paham, karena aku cuma lulusan SMU. Di Semarang, aku bertemu dengan teman-teman homeschooler yang memikirkan pemenuhan hak anak-anak mereka. Aku mulai mengerti arah visi PHI ini. Ya, aku merasa makin menemukan tujuanku memilih homeschooling setelah bergabung dengan PHI. Aku diajak untuk bergerak melawan arus sungai.

Di tengah teman-teman PHI, aku merasa bisa menjadi diri sendiri. Karena sikap mereka yang positif, sedikit demi sedikit aku mulai membuka diri kepada mereka. Aku berkembang dan tumbuh menjadi diriku seutuhnya. Aku seperti menemukan “magnet hidup” yang menarik hadirnya orang-orang positif di sekitarku.

Ada kalanya aku susah menetralkan pikiran burukku. Aku berjuang menjauhi kutub negatif yang senantiasa menarik hati dan pikiranku. Nah, di PHI aku menemukan kumpulan yang menjaga semangat belajarku. Aku dibantu mengenali kekuatanku dan menggarap kelemahanku. Aku suka humor, serius, dan tulusnya kawan-kawan. Secara tidak langsung, itu menumbuhkan rasa percaya diriku dalam menjalankan homeschooling. Fondasiku diperkuat. Aku didewasakan.

Setiap kulihat kedua anakku tertidur lelap di pangkuanku dalam perjalanan pulang kami, senyum terus tergambar di mulutku. Memperjuangkan hak pendidikan anak-anak agar mereka menikmati kemerdekaan belajar: ini betul capek, ini betul repot. Tapi ada satu mantra yang selalu terngiang dalam kepalaku: “Aku sayang Mama!”. Mantra dari anak-anak inilah peganganku saat menghadapi masa sulit dalam menjalani homeschooling, bahkan menjalani hidup. Aku tahu semua yang kulakukan tidak ada yang sia-sia.

Keterangan foto: Yemmi dan kedua anaknya berpose di depan lukisan hasil karya si sulung Kaikai (dok. pribadi).

5 thoughts on “Mantra yang Menguatkanku Menjalani Homeschooling

  1. Terharu dgn kegigihanmu. Semoga Tuhan senantiasa berkati & bimbing keluarga kecilmu ❤️
    Tetap semangat ya! Tiap fase usia anak/level pendidikan ada tantangannya sendiri. Kita pun jadi makin matang karena kita sbg ortu pun tumbuh dan belajar bersama mereka 😍

  2. salam kenal mba Yemmi…. melawan arus memang perlu tenaga ekstra ya mba…. jadi menyala lagi nih…. makasih dah berbagi mba…. Tuhan memberkati

Leave a Reply

Top