Anda di sini
Beranda > Artikel > Homeschooler, Suarakan Aspirasimu!

Homeschooler, Suarakan Aspirasimu!

Oleh: Maria Sugiyo Pranoto*

Ada yang menampar kesadaran saya saat mengikuti kelas analisis sosial bersama para koordinator simpul Perserikatan Homeschooler Indonesia (PHI) di Yogyakarta tanggal 28-29 April 2018 lalu. Fasilitator menjelaskan tentang tiga paradigma pendidikan: Konservatif, Liberal, dan Kritis-Radikal. Lalu ia meminta kami berefleksi secara pribadi: “Di antara ketiga paradigma itu, di manakah posisimu saat ini?”

Apakah saya konservatif? Paradigma konservatif bercirikan sikap pasrah, merasa semua yang terjadi sudah takdir, dan sangat tidak mau berkonflik. Saya rasa saya bukan konservatif. Buktinya, saya dan suami memilih jalur homeschooling, mendidik sendiri anak-anak kami. Kami menolak untuk pasrah begitu saja. Kami tidak mau larut dalam carut marut situasi pendidikan yang ada di negeri ini.

Saya pikir-pikir, saya termasuk tipe kedua: liberal. Orang berparadigma liberal bisa mengenali ada masalah di masyarakat, dan ingin ikut menyelesaikannya, tapi ia menganggap masalah itu dapat diubah tanpa berurusan dengan struktur politik dan ekonomi masyarakat. Selama ini saya mengira memilih posisi liberal ini saja sudah cukup. Yang penting urusan anak-anak beres, urusan homeschooling kami tidak dipersulit, orang-orang di sekitar saya bisa memaklumi pilihan kami ini, cukuplah. Selesai. Ngapain repot-repot mengubah cara pandang orang lain, apalagi melakukan advokasi atau berurusan dengan aparat.

Tapi dari diskusi ansos, saya jadi sadar, rupanya apa yang saya yakini selama ini keliru! Tidak cukup menjadi tipe liberal. Fasil mengundang saya untuk mempertimbangkan paradigma kritis. Kata lainnya, paradigma radikal. Radix berarti akar, berarti kita melihat suatu permasalahan sampai ke akar-akarnya, bukan sekadar dari yang nampak di permukaan saja. Dan tepat di poin ini, saya tertampar!

***

Tanggal 29 April lalu, ada artikel menarik yang dimuat di Harian Kompas, bertajuk “Plus Minus Homeschooling”. Isinya memaparkan hasil survei pendapat masyarakat tentang homeschooling. Didapati 56,6% responden mengatakan bahwa homeschooling lebih buruk daripada sekolah umum. Hanya 24,6% responden mengatakan homeschooling lebih baik. Sisanya 16,1% bilang tidak tahu. Metode survei yang digunakan oleh Litbang Kompas ini adalah dengan memilih responden berusia minimal 17 tahun berdasarkan pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru.

Dari membaca status media sosial kanan-kiri, survei ini membuat banyak homeschooler merasa gerah dan kebakaran jenggot! “Yang melakukan siapa, yang disurvei siapa!” kata mereka. Survei ini ibarat menanyakan kualitas suatu produk pada mereka yang tidak pernah menggunakan produk tersebut! Namun kenyataannya inilah realitas yang terjadi di masyarakat, di ranah kultur hukum kita. Realitasnya, begitulah persepsi masyarakat tentang homeschooling.

Yang perlu kita pikir serius sekarang adalah: seringkali yang dipercaya oleh masyarakat luas, itulah yang diakomodir oleh pemerintah. Meskipun pendidikan informal sudah diakui sejajar dengan jalur pendidikan formal, dan non formal sebagaimana disebut dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tetap saja dalam praktiknya sering terjadi diskriminasi terhadap pelaku pendidikan informal.

***

Menghadapi hal-hal semacam ini, tentu pertanyaan yang pantas menjadi refleksi para homeschooler adalah: bagaimana kita mau menyikapinya? Berjalan dalam kemapanan keluarga kita masing-masing? Atau … bergerak bersama?

Ada banyak hal yang bisa kita kerjakan bersama, mulai dari melakukan sosialisasi, edukasi, advokasi, maupun mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah yang implementasinya bisa jadi berimbas kepada para homeschooler. Ah ya, barangkali itu terkesan ‘kelebihan energi’? Atau barangkali ada rasa pesimis seolah-olah upaya-upaya itu seperti menggarami lautan?

Namun saya teringat pada Ibu Kartini. Sekarang saya yang perempuan ini bisa berangkat sendirian ke Yogyakarta, mendelegasikan urusan domestik dan anak-anak kepada suami saya. Pada masa beliau hidup seabad lalu, Ibu Kartini pasti tidak bisa membayangkan hal semacam itu bisa terjadi! Begitu pula saya teringat pada orang-orang kulit hitam yang dulu menjadi budak. Mereka pada masa kini bisa menikmati hidup yang lebih baik dan perlakuan yang sederajat, itu juga karena ada orang-orang yang secara konsisten menyuarakan tentang persamaan derajat manusia dan menuntut disahkannya undang-undang penghapusan perbudakan!

Tentu saja, kerja ini tidak gampang. Mengupayakan perubahan sosial bukan kerja yang sehari dua hari selesai. Ini kerja besar, ini kerja bersama! Iya, kemerdekaan belajar bukan hadiah yang jatuh tiba-tiba begitu saja dari langit. Kemerdekaan belajar perlu diperjuangkan. Bila kita ingin hak-hak kita sebagai homeschooler diperhatikan, diakomodir oleh pemerintah, suarakan! Aspirasikan! Homeschooler perlu bergerak bersama jika memang menginginkan terjadinya suatu transformasi sosial.

* Maria Sugiyo Pranoto adalah ibu dua anak homeschooler, berdomisili di Malang.

Leave a Reply

Top