Anda di sini
Beranda > Artikel > Homeschooling Eratkan Orangtua dan Anak

Homeschooling Eratkan Orangtua dan Anak

Oleh: Marhamah*

Libur lebaran tahun 2017 lalu, saat bertamu ke rumah teman lama, saya berkenalan dengan sepasang suami istri, sebut saja Bapak dan Ibu Z. Kami ngobrol banyak hal mulai dari kota kelahiran, tempat tinggal, sampai anak-anak.

Teman saya menjelaskan ke mereka bahwa kami memilih homeschooling alias tidak menyekolahkan anak-anak. Tampak ekspresi Bapak Z kaget. Teman saya kemudian ganti menjelaskan tentang anak Bapak Z yang mengalami banyak masalah, sering bolos, nilai jelek, sampai dikeluarkan dari sekolah. Orangtuanya sudah berusaha mencarikan solusi dengan beberapa kali pindah sekolah, tapi hasilnya sama, masalah di sekolah lama terjadi kembali di sekolah baru. Bapak Z mengiyakan dengan beberapa kali anggukan.

“Anak saya itu memang sulit dikasih tahu,” katanya disertai tatapan putus asa, “padahal saya nggak muluk-muluk sama dia. Yang penting dia mau belajar, rajin sekolah.” Akan tetapi Bapak Z kecewa karena yang dia dapat dari guru adalah laporan bahwa si anak sering bolos, nilai jelek, dan keluhan tentang perilakunya. Hati orangtua mana yang tidak kecewa ketika kenyataan bertolak belakang dari harapan pada anak.

***

Dalam versi yang beragam, seperti Bapak Z, kita sebagai orangtua pasti memiliki sosok anak idaman. Ada yang sifatnya materiil, ingin anak pandai matematika, berprestasi melebihi teman-teman sebayanya, sukses finansial di usia muda, dan lain-lain. Ada juga cita-cita immateriil, seperti ingin anaknya punya sifat ramah, baik hati, mandiri dan percaya diri, cakap berkomunikasi, selamat dunia akhirat. Kemudian ketika anak-anak tidak menjadi sesuai dengan cita-cita itu, kita merasa tidak senang, kecewa, sedih.

Yang sering kita lupa, anak-anak ini manusia yang unik, seperti halnya kita orang tuanya, lelaki dan perempuan yang  membawa keunikan sendiri-sendiri. Tidak ada kesamaan sempurna di antara dua orang, meskipun terlahir kembar. Anak kita bukan kita. Ia memiliki sudut pandang, selera, hasrat, cara pikir, dan sikap sendiri yang bisa saja berbeda dengan kita. Tak heran dalam proses hidup bersama, bisa muncul konflik antara kita dan anak. Menurut saya, konflik itu wajar. Yang keliru justru mengidamkan anak jadi salinan yang sama persis seperti orang tua.

Konflik-konflik justru semestinya jadi pembelajaran untuk sama-sama bertumbuh. Orangtua dan anak dalam saling belajar mengenal demi mencapai keselarasan. Di rumah saya pun, ada kalanya konflik terjadi. Pernah anak perempuan kami, Salma, berteriak-teriak karena merasa diganggu oleh kakaknya, Damar. Teriakannya berulang-ulang, membuat saya rasanya ingin marah, “Ada apa sih anak-anak ini? Apa nggak bisa ya hidup rukun gitu?” Saya tenangkan dulu kecamuk dalam dada saya, lalu mendekati Damar. Dengan nada rendah saya cari tahu dulu sudut pandangnya. Akhirnya Damar mengeluarkan uneg-uneg bahwa dia juga sebal pada Salma yang menurutnya “suka mengadu”. Setelah berdiskusi, Damar sepakat untuk menyampaikan uneg-uneg itu langsung pada Salma setelah dia sudah tidak emosi lagi. Saya lega. Bayangkan jika tadi saya memperturutkan amarah tanpa klarifikasi, lalu membela Salma tanpa mendengar Damar, tentu makin kacau jadinya. Akan ada yang merasa dianakemaskan dan anak yang merasa selalu disalahkan. Ini tidak akan baik dampaknya untuk relasi kami semua.

***

Perilaku sulit anak juga muncul karena daya pertimbangannya belum matang. Contohnya kasus anak tetangga saya, sebut saja namanya J. Dia sering sekali bolos sekolah, tapi makin ditegur neneknya (yang menjadi walinya), ia makin sering tidak masuk sekolah. Saat saya korek-korek, ternyata dia menghindari dari mata pelajaran tertentu, karena guru sering menyuruh mengerjakan PR di depan kelas. Pikiran J dikuasai naluri untuk membebaskan diri dari sesuatu yang “menyiksa”, ia mencari rasa bahagia dengan jalan bolos dari sekolah. Ia tidak membayangkan perilakunya itu justru membuat guru datang ke rumahnya dan melapor pada neneknya.

Orang tua dan pendidik sepatutnya memiliki kemampuan untuk menyibak masalah, mencari tahu apa sebenarnya akar dari perilaku sulit anak. Tidak ada anak yang sengaja membuat masalah untuk mencelakai dirinya sendiri, pasti ada penyebab yang membuatnya melakukan hal itu. Adalah tugas orang tua untuk membantu anak membongkar semua itu. Di sini relasi orang tua dan anak menjadi penting. Semakin kuat bonding orang tua dan anak, akan semakin mudah untuk mencari pemecahan masalah. Anak akan menjadi terbuka, tidak enggan bercerita, dan senang berbagi perasaan dengan orang tuanya.

Kedekatan relasi anak dengan orang tua akan sangat mempengaruhi pertumbuhannya. Kalau relasi anak dan orangtua bermasalah, konsep dirinya akan berkembang secara negatif. Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam relasi yang baik dengan orang tua akan membentuk konsep diri yang positif, self-image yang bagus, dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi – yang akan berpengaruh pada pola komunikasi interpersonal anak, dan nantinya menentukan sukses anak dalam relasi lain dan pencapaian cita-cita.

Menyandang predikat orang tua, kita harus sepenuhnya menyadari peran sebagai sosok berpengaruh (significant person) bagi anak-anak. Kalau orangtua melepas peran ini, dampaknya pada anak pun signifikan. Adanya geng motor, geng pemburu satwa, geng tawuran, dan geng-geng lain yang suka membuat onar di masyarakat, mereka adalah anak-anak yang mengalami masalah dalam pembentukan konsep diri. Mereka kurang mendapatkan arahan dan perhatian dari orang-orang yang dekat dengannya, sehingga mereka berusaha mencari pengakuan dari orang lain.

***

Dari pengalaman pribadi saya, homeschooling memudahkan orangtua menjalin relasi yang erat dengan anak. Damar dulu menjalani pendidikan formal, dan ia hampir setiap hari berkonflik dengan kami orangtuanya. Pagi hari, saat seharusnya matahari disambut gembira, kami sudah berkonflik karena ia harus diburu-buru untuk melakukan banyak hal: mandi; sikat gigi; periksa buku prestasi, buku penghubung, dan buku tabungan; siapkan sepatu, topi, dan kaos kaki; sarapan; dll. Sering sekali dia berangkat sekolah dengan wajah manyun.

Merupakan tantangan tersendiri bagi orang tua yang menyekolahkan anak dalam mengatasi sedikitnya waktu bersama. Jika dihitung waktu yang anak gunakan ke sekolah 40 jam per minggu, ditambah 1-2 jam dalam perjalanan pulang pergi, belum lagi waktu tambahan belajar untuk les, kerja kelompok, atau ekstra kurikuler, paling tidak ada 50 jam anak sibuk dengan persekolahan. Ini bisa berakibat orangtua merasa tidak kenal anak sendiri. Sisa waktu anak yang sedikit juga belum tentu bisa dilabeli quality time.

Perubahan kami rasakan ketika Damar minta keluar dari sekolah untuk homeschooling dan kami mengiyakan. Pagi hari menjadi waktu yang menyenangkan. Anak-anak mengamati matahari terbit dari teras. Kadang Ayah mengajak jalan-jalan sambil meregangkan badan dan membicarakan banyak hal, mulai dari mimpi tadi malam, kemajuan mengaji Salma, hal baru tentang burung hantu dan falcon yang dipelajari Damar.

Selama hampir dua tahun menjalani homeschooling, kami merasakan proses ini minim stres. Anak maupun orang tua mengalami proses tumbuh bersama yang mengesankan. Kami memiliki keluasan waktu dan bisa mengatur jadwal secara fleksibel. Rutinitas yang berlangsung sangat mungkin disesuaikan dengan kondisi keluarga. Contohnya, saat anak sedang tidak enak badan, jadwal belajar yang direncanakan bisa ditunda untuk dilakukan di lain waktu. Kalau saya harus menyelesaikan urusan di luar rumah, katakanlah ke bank, jadwal hari itu dimodifikasi – atau saya mengajak anak ke bank sambil membawa materi belajar.

Perjalanan homeschooling kami dari hari ke hari mengantarkan pada kenikmatan berkeluarga. Sebelumnya apa tidak nikmat? Sebenarnya nikmat juga, tapi mirip dengan minum kopi panas cepat-cepat. Anak bersekolah, saya tenggelam dengan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya dan suami bekerja, rutinitas ini mengurangi nikmatnya berkeluarga. Saat ini dengan banyak waktu bersama anak-anak, saya dan suami merefleksikan banyak hal. Anak-anak juga terus mengamati dan menilai kami, membuat kami senantiasa belajar memperbaiki diri. Diskusi-diskusi bergulir setiap saat, seringkali disertai senda gurau dan celotehan yang meriah, menyadarkan kami untuk selalu bersyukur pada Pemilik Kehidupan.

***

Bukan berarti dalam keluarga homeschooler tidak pernah terjadi konflik. Pernah suatu waktu Damar menyatakan ingin berhenti mengikuti latihan cabang olah raga yang selama ini ditekuninya. Saya dan suami merasa tak rela karena banyak yang bilang, “Sayang, Bu, Damar termasuk atlet berbakat, kok berhenti?”. Kami pun mengeluarkan ancaman agar Damar mau tetap latihan, tapi tak berhasil. “Pokoknya aku nggak mau latihan,” katanya berulang-ulang. Terjadi “perang dingin”. Tidak ada pihak yang bersedia mengalah.

Di sinilah, kami menyadari bahwa konflik itu sendiri adalah pembelajaran untuk lebih mengenal satu sama lain dalam keluarga. Saya dan suami diskusi berdua, memutuskan untuk menanyakan alasan yang disimpan Damar. Saat santai dan kami sedang berkumpul semua, ayahnya mengawali percakapan dengan Damar.

“Gimana, le, sudah mau latihan?”

“Nggak, Ayah, aku nggak mau.”

Suami meminta Damar menjelaskan alasannya. Setelah menyimak baik-baik, ia berkata, “Ayah tidak akan memaksa kamu harus berprestasi, buat Ayah yang penting kamu olahraga biar sehat, jadi sekarang coba rencanakan, olahraga apa yang akan kamu lakukan agar tubuhmu sehat?”

“Aku mau sepedaan tiap pagi, Ayah. Kalau Ayah sempat, hari Minggu kita renang,” jawab Damar, eskpresinya lebih sumringah.

“OK, Ayah terima alasan juga rencanamu. Nanti dua minggu sekali kita renang.” Kemudian ayah dan anak tos, lalu berpelukan. Saya ikut lega. Tidak ada lagi gejolak.

Dari kasus itu kami sadar bahwa meskipun anak-anak menyerap nilai dari kami sebagai pendidiknya, sebetulnya ia sedang berjuang merumuskan nilai-nilainya sendiri, yang nantinya akan dia pegang dan anut dengan teguh. Kami tidak mau merobohkan prosesnya ini. Alih-alih memaksanya sekadar menurut, kami memilih untuk hadir sebagai pendukung, mendengarkan apa yang dia rasakan dan terbuka dengan yang dia putuskan.

Dinamika hidup ini tidak selalu berjalan mulus. Akan hadir masalah-masalah yang menempa kita menjadi manusia yang tangguh dan berprinsip. Hal ini juga dialami oleh anak-anak. Mereka menghadapi tantangan sesuai dengan masa perkembangannya. Kadang mereka akan mengalami kebingungan untuk menimbang kebaikan atau keburukan. Mereka memerlukan kehadiran kita, orangtua, sebagai penasihat. Setiap masalahnya menjadi batu pondasi yang perlu kita bantu tata, pecahkan bersama, agar bangunan kehidupan mereka berdiri kuat. Kebersamaan dalam menyelesaikan masalah demi masalah akan membentuk relasi anak dan orang menjadi kuat dan solid.

Menjadi orang tua homeschooler mengajarkan pada kami tentang penerimaan tanpa syarat terhadap anak. Sesuai teori pengasuhan yang saya pelajari, anak-anak yang merasa diterima sepenuhnya akan berperilaku positif, menjadi mudah bergaul, punya inisiatif dan mandiri, senang bekerja sama, dan menghargai orang lain, juga dalam perjalanan menuju kedewasaan mereka tidak akan mudah ikut-ikutan. Saya melihat anak-anak saya berkembang ke arah itu dan, insyaAllah, mereka menjadi seperti itu.

* Marhamah, ibu tiga anak homeschooler, berdomilisi di Pasuruan.

One thought on “Homeschooling Eratkan Orangtua dan Anak

Leave a Reply

Top