Anda di sini
Beranda > Artikel > Membedakan Homeschooling dan Afterschooling

Membedakan Homeschooling dan Afterschooling

Penulis: Ananda Putri Bumi*

“Anakku bersekolah formal, tapi kami tetap menjalankan homeschooling. Aku sebagai orangtua tidak mengharuskannya mengejar nilai, yang penting proses belajar dilakukan dengan optimal, tetap mengutamakan nilai-nilai kejujuran. Aku fokus pada kelebihan anak.” Kira-kira demikian isi status seorang kawan yang muncul di beranda facebook saya.

Saya senang kawan saya itu tidak lepas tangan dan menyerahkan begitu saja urusan mendidik anaknya pada institusi sekolah. Saya tahu dia banyak mendampingi anaknya ikut field trip dan berbagai kegiatan luar sekolah lain yang bermanfaat.

Hanya saja, apakah benar seorang anak dapat menjalani sekolah formal sekaligus homeschooling? Apakah benar, selagi orangtua tetap aktif mengurusi pendidikan anak, berarti anak tengah homeschooling meski bersekolah formal? Apakah benar, jika orangtua memperkaya persekolahan anaknya dengan kegiatan pembelajaran di luar sekolah, itu juga bentuk homeschooling?

Sejarah Istilah Homeschooling

Istilah “homeschooling” tidak muncul begitu saja di muka bumi ini. Untuk mengetahui sebab musabab hadirnya istilah homeschooling serta maknanya yang tepat, alangkah baiknya jika kita menilik sejarah kemunculannya, sebelum salah kaprah menggunakannya.

Dalam bukunya “Apa Itu Homeschooling” (2007), Sumardiono menjelaskan bahwa gerakan homeschooling pertama berkembang di Amerika Serikat pada tahun 1960-an, dipicu oleh pemikiran John Holt melalui bukunya “How Children Fail” (1964). Holt mengatakan, sejak lahir anak sudah dikaruniai kemampuan untuk belajar, memahami, serta menciptakan, yang sebetulnya sudah sangat baik mereka kembangkan dalam tahun-tahun pertama kehidupan mereka.

Namun, mengapa banyak siswa gagal secara akademis? Menurut Holt, sekolah gagal mengembangkan kemampuan mereka. Kegagalan akademis siswa bukan disebabkan oleh kurangnya usaha guru-guru, melainkan oleh sifat sistem sekolah itu sendiri. Banyak siswa gagal karena karena rasa takut, bosan, dan bingung. Mereka takut mengecewakan banyak orang dewasa yang cemas di sekitar mereka, bosan karena banyak dari hal-hal yang mereka terima di sekolah bersifat sepele dan kurang bermakna, serta bingung karena yang mereka pelajari tidak relevan dengan realitas hidup mereka.Meskipun dirinya guru, Holt pesimis sistem persekolahan bisa berubah secara mendasar.

Buku-buku Holt menimbulkan perbincangan dan perdebatan luas mengenai pendidikan dan sistem sekolah. Banyak keluarga mempertanyakan kewajiban bersekolah. Mereka setuju pada pemikiran Holt bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk pembelajar.Setiap anak senang belajar. Yang membunuh kesenangan belajar adalah orang-orang yang berusaha menyela, mengatur, atau mengontrolnya. Dari sini timbul gerakan yang awalnya bernama unschooling, kemudian berubah nama menjadi homeschooling

Tahun 1977, Holt menerbitkan majalah “Growing Without Schooling” untuk keluarga-keluarga yang tidak menyekolahkan anak mereka, yang makin banyak jumlahnya. Ia juga menulis buku khusus tentang homeschooling yang berjudul “Teach Your Own” (1981). Selain Holt, beberapa pemikir lain yang juga berkontribusi dalam gerakan homeschooling adalah Harold Bennet dengan karyanya “No More Public School” (1972) serta Ivan Illich dengan bukunya “Deschooling Society” (1970). Buku Illich sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah” (Obor, 2000).

Intinya, kelahiran gerakan homeschooling dipicu oleh ketidakpuasan keluarga terhadap sistem persekolahan formal. Akhirnya mereka memilih untuk tidak mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah formal dan menyelenggarakan sendiri pendidikan bagi anak-anak mereka. Homeschooling berarti tidak sekolah, belajar berbasis keluarga. Homeschooler adalah keluarga-keluarga yang secara sadar memilih untuk tidak menyekolahkan anak.

Homeschooling atau Afterschooling?

Memang ada, dan bahkan banyak, keluarga yang selain mengirim anaknya ke sekolah formal, juga melengkapi pendidikan sang anak dengan pembelajaran di luar sekolah. Pilihan ini dijalani karena mereka sadar penuh bahwa sekolah formal tidak mungkin memenuhi semua kebutuhan pendidikan anak. Namun, tidak tepat menyebut model pendidikan seperti ini sebagai homeschooling. Memasukkan seorang anak ke sekolah formal lalu mengatakan anak tersebut juga menjalani homeschooling sama saja dengan mengatakan bahwa ia sekolah sambil tidak sekolah. Tentu, itu kontradiksi. Kedua jalur pendidikan ini punya pendekatan yang sangat berbeda. Jalur pendidikan formal dikendalikan oleh institusi (institution-led), jalur pendidikan informal dikendalikan oleh keluarga (family-led).

Menyekolahkan anak di sekolah formal, lalu di luar sekolah melengkapi pendidikan anak dengan pembelajaran lain, seperti field trip atau kursus yang diminati anak, lebih tepat disebut afterschooling. Namun, afterschooling tidak sama dengan homeschooling. Dalam afterschooling, anak tetap masuk sekolah formal. Sementara dalam homeschooling, anak sama sekali tidak bersekolah formal.

Memang ada pendapat dari Seto Mulyadi (Kak Seto)dalam bukunya “Homeschooling Keluarga Kak Seto” bahwa homeschooling bisa berjalan seiring dengan sekolah formal. Ia menukil informasi dari buku Terrie Lynn Bittner, “Homeschooling: Take a Deep Breath – You Can Do This”, bahwa kini berkembang yang disebut homeschooling part-time atau afterschooling. “Anak-anak tetap dapat menjalankan kegiatannya di sekolah formal, namun apa yang kurang di sekolah formal ditambal di pelaksanaan homeschooling. Atau, dalam bahasa lain, homeschooling dapat dijalankan untuk mendukung kegiatan sekolah formal.” (Mulyadi, 2007:42)

Menurut saya, tafsir dari Kak Seto ini kurang tepat. Part time homeschooling berbeda dengan afterschooling karena bukan sekadar memadukan sekolah formal dan pengayaan di luar jam sekolah. Dalam part time homeschooling, anak tidak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sekolah. Sekolah formal diperlakukan sebagai tempat kursus saja – anak hanya mengikuti kelas atau mata pelajaran yang dibutuhkan. Biasanya, ini dikarenakan orangtua merasa kesulitan mengajarkannya sendiri.

Meskipun part time homeschooling dan afterschooling sama-sama mengakses sekolah, namun pendekatannya berbeda. Dalam part time homeschooling, sekolah dimanfaatkan untuk mendukung proses homeschooling. Kendali pendidikan anak tetap ada di tangan keluarga biarpun pada hari-hari tertentu anak dilepas untuk belajar di sekolah. Sementara pada afterschooling, pendidikan di luar sekolah dimanfaatkan untuk menambal hal-hal yang kurang di sekolah formal. Orangtua tidak bebas ikut campur dalam proses persekolahannya.

Part time homeschooling juga mengandaikan sekolah dan pemerintah sudah paham esensi dari homeschooling. Di Amerika, part time homeschooling dimungkinkan sebab posisi legal homeschooler sudah kuat, sehingga mereka bahkan boleh mengakses layanan dan fasilitas sekolah umum. Ini masih sulit diterapkan di Indonesia karena sebagian besar masyarakat masih belum menganggap setara peran keluarga dengan peran lembaga sekolah. Kalaupun diterapkan, risikonya adalah otoritas orangtua kembali berada di bawah kendali lembaga.

Multi-Entry Multi-Exit

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebetulnya sudah memiliki visi tentang pendidikan yang fleksibel, multi-entry multi-exit. Pasal 4 ayat (2) menyatakan bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multi makna. Dalam pasal 13 disebutkan, jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

Dengan konsep multi-entry multi-exit, anak Indonesia dimungkinkan memanfaatkan semua jalur, baik pendidikan formal, nonformal, maupun informal untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Idealnya, sekolah, lembaga kursus, dan keluarga bekerjasama serta berfokus pada kebutuhan belajar anak-anak sehingga mereka mendapatkan pendidikan yang lengkap dan kaya. Saya membayangkan, seandainya homeschooler bukan hanya bisa ikut kursus pada lembaga nonformal, tapi juga bisa mengakses layanan dan fasilitas di sekolah formal; begitu juga anak-anak sekolahan bisa bergabung dalam berbagai kegiatan di komunitas homeschooler – betapa idealnya!

Akan tetapi, kolaborasi antara pendidikan formal, nonformal, dan informal tidak berarti mengaburkan esensi masing-masing jalur pendidikan. Homeschooling tetap bukan sekolah formal, bukan pula lembaga kursus atau bimbingan belajar. Kebingungan masyarakat akan makna homeschooling ini bisa jadi karena banyak orang belum paham bahwa penanggung jawab pendidikan bagi anak bisa saja keluarga, tidak harus lembaga. Masyarakat masih perlu diyakinkan bahwa pendidikan berbasis keluarga juga bisa berkualitas. Alih-alih semata berkutat pada bidang akademis, anak-anak homeschooler bisa belajar banyak hal, mulai dari mengurus rumah, melatih keterampilan, memupuk kebiasaan baik, menyalurkan minat, hingga berkontribusi di dalam masyarakat.

Apabila esensi dari jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal telah dipahami jelas oleh semua masyarakat, maka kelak, sekolah, lembaga kursus, dan keluarga bisa berkolaborasi tanpa saling tumpang tindih. Tidak perlu ada yang satu mendominasi yang lain, semuanya setara. Kalau suatu waktu nanti betul terwujud part time homeschooling sebagai kolaborasi harmonis antar jalur pendidikan, yang diuntungkan adalah anak-anak Indonesia!

*Ananda Putri Bumi adalah ibu satu anak homeschooler, berdomisili di Surabaya.

Leave a Reply

Top