Anda di sini
Beranda > Artikel > Anak Homeschooler Nggak Sekolah, Mana Bisa Sukses?

Anak Homeschooler Nggak Sekolah, Mana Bisa Sukses?

Penulis: Herlya Inda*

 

“Kalau anakmu tidak sekolah, mau jadi apa? Yang sekolah saja belum tentu bener…”

“Kalau kamu nggak mau biayain anak buat sekolah di tempat yang bagus, sini eyang yang sekolahin.”

Ungkapan-ungkapan seperti ini sering diucapkan banyak pihak dari keluarga dekat saya ketika mengetahui bahwa anak-anak saya homeschooling alias tidak bersekolah.  Sepertinya mereka berpikir, orangtua yang tidak menyekolahkan anak artinya tidak peduli dengan masa depan anak.

Keluarga besar saya memandang sekolah sangat penting.  Dengan bersekolah, oma yang anak demang bisa kerja di kantor pos – katanya, saat itu sangat langka perempuan bisa bekerja di instansi pemerintah.  Opa seorang polisi berpangkat bagus, karena bersekolah.  Mama berkarir baik sebagai pegawai negeri sipil, hasil dari bersekolah sampai lulus sarjana universitas negeri.  Orang-orang terdekat di keluarga besar punya rekam jejak menjadi ahli tambang, dokter, sampai tentara, semua karena bersekolah.  Tentu lumrah jika keluarga besar saya menganggap sekolah adalah kunci sukses.

Saya sadar, tidak mudah membuat keluarga besar paham mengapa keluarga saya memilih homeschooling. Jangankan homeschooling. Waktu masih SMA, niat saya masuk jurusan IPS ditentang karena Mama ingin saya masuk jurusan IPA seperti beliau dan semua anggota keluarga besar lainnya.  Opa terbahak-bahak ketika kakak saya bercita-cita menjadi aktris terkenal saat usianya masih 5 tahun (sekitar tahun 1986), karena menurutnya itu adalah cita-cita yang aneh.  Seandainya mereka masih ada, apa kata mereka kalau tahu cicitnya dan cucunya tidak bersekolah formal! Bukan hanya tertawa, boleh jadi saya akan disidang mengenai pilihan homeschooling ini.

Saya pribadi sangat bisa memahami kecemasan kakek-nenek dan keluarga besar ketika anak-anak saya tidak sekolah. Yang mereka tahu, sekolahlah yang membuat orang jadi berhasil.  Pengakuan sosial diperoleh lewat secarik kertas bernama ijazah.  Jika tidak bersekolah, bagaimana bisa mendapatkan ijazah? Jika tidak ada ijazah, bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan dan karir yang diinginkan? Saya paham betul kecemasan itu, karena saya pun dulu demikian.

Sebelum paham betul hakikat homeschooling, saya juga beranggapan anak hanya bisa sukses kalau sudah mengantongi ijazah dari sekolah. Saya tidak memutuskan jadi homeschooler secara mendadak. Bukan hal mudah mengubah paradigma bahwa sekolah merupakan satu-satunya jalan menuju sukses. Bukan cuma sehari, seminggu, sebulan, setahun.  Kami menimbang dan mengumpulkan informasi selama 3 tahun sebelum akhirnya kami memutuskan tidak menyekolahkan anak pertama kami saat ia menginjak usia sekolah.

Seiring berjalannya waktu, kami menyadari bahwa sekolah hanyalah alat. Inti dari sukses atau tidaknya seseorang adalah kemauan untuk terus belajar, mencari tahu, memiliki kemauan kuat serta sikap pantang menyerah mewujudkan mimpi-mimpinya. Justru di sini, rumah adalah titik awal yang penting sebagai tempat anak belajar dan bertumbuh.

Kepedulian orangtua tidak bisa diukur dari anaknya sekolah formal atau tidak.  Dengan memilih homeshooling, orangtua justru terlibat sepenuhnya dalam pendidikan anak-anak. Saya merasa bahwa memilih homeshooling malah membuat saya terus belajar lebih peduli terhadap diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Setelah menjadi homeschooler, mata saya terbuka bahwa tiap anak memiliki keistimewaan masing-masing, tidak ada yang sama. Rasa peduli membuat saya makin terlibat, memperhatikan, dan terus belajar memahami anak.

Sekarang bicara tentang sukses. Apa iya hanya orang-orang yang sekolah tinggi yang bisa jadi tokoh-tokoh hebat dan sukses? Apa iya orang-orang yang tidak sekolah formal sampai tinggi pasti surut dan gagal? Mari lihat Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Perempuan dari Jawa Barat itu hanya berijazah SMP, tapi bisa menjadi pengusaha, pemilik dan presiden direktur perusahaan eksportir hasil-hasil perikanan dan maskapai Susi Air. Ada juga Agatha Christie, novelis ternama di dunia, yang menjalani pendidikannya secara mandiri (homeschooling) di rumah. Presiden Amerika Serikat ke-28, Woodrow Wilson, juga dididik sendiri oleh ayahnya di rumah.

Ada ungkapan dari Albert Einstein yang saya suka: “Imagination is more important than knowledge”. Kalimat tersebut mengandung makna bahwa kemampuan bermimpi, berimajinasi, dan berencana memiliki kekuatan lebih dibandingkan pengetahuan semata. Sayang sekali, sekolah sering mematikan mimpi dan imajinasi seorang anak.  Anak yang meminati hal-hal di luar pelajaran sekolah sering dianggap aneh. Anak yang kurang cerdas dalam pelajaran sekolah dianggap tidak punya masa depan. Anak yang berimajinasi tentang perkara di luar pemikiran ‘normal’ bisa jadi dikata-katai,  “Sudah deh, kebanyakan mimpi!”.

Saya terinspirasi oleh Steven Spielberg, salah satu sutradara favorit saya. Indiana Jones dan Jurassic Park merupakan beberapa karyanya yang saya suka. Spielberg kecil berjuang bertahun-tahun karena disleksianya tidak terdiagnosis. Dia di-bully selama masa sekolahnya karena ketidakmampuannya membaca. Dia juga menghadapi perlakuan yang buruk dari teman-teman sekelasnya dan pihak sekolah salah mengartikannya sebagai anak yang malas. Namun, Spielberg terus berusaha mewujudkan imajinasinya dalam wujud film. Sejak usia 12 tahun, ia membuat film-film amatir sampai akhirnya dia menjadi sutradara dan produser film terpopuler di dunia. Ia mampu menghasilkan cerita film dengan efek yang canggih. Yang lebih keren lagi, Spielberg bertahan tetap produktif hingga usia 70 tahun lebih.

Spielberg sukses bukan karena sekolahnya, tapi hasil imajinasi dan kerja kerasnya. Orang menjadi sukses bukan sebatas oleh faktor akademis.  Fotografi, memasak, kecantikan, berkebun, mengenali karakter orang, dan masih banyak ilmu lain yang bisa jadi jalan sukses, tidak melulu harus didapatkan di sekolah. Itulah sebabnya keluarga kecil kami tidak ragu memilih jalan homeschooling.

Anak homeschooler bisa fokus mengaktualisasikan bakat dan minatnya dengan menuliskan sejarah perjalanannya yang disusun dalam portofolio.  Ia bisa mengatur waktunya secara fleksibel dan bertanggungjawab dalam keseharian bersama orang terdekat, teman-teman. Kalau butuh ijazah, anak homeschooler  juga bisa mendapatkan ijazah dengan ikut serta dalam ujian kesetaraan sesuai jenjangnya.

Jadi, pertanyaan  “Anak kok nggak sekolah! Mau jadi apa?” menurut saya tidak perlu menyurutkan langkah menjadi homeschooler. Sukses bukan urusan sekolah atau tidak sekolah. Sukses adalah perpaduan antara keinginan untuk terus belajar, pantang menyerah, dan perjuangan menggapai mimpi. Bagaimana menurut Anda?

* Herlya Inda adalah ibu dua anak homeschooler, berdomisili di Palembang.

2 thoughts on “Anak Homeschooler Nggak Sekolah, Mana Bisa Sukses?

  1. Berjuang lh di kurikulum
    Apa kah kurikulum yang di terap kan sudah tepat. Terus bagaimana mengukur dan mengontrol nya ?
    Apakah Kurikulum 2013 lebih bermutu dari pada kurikulum 2006. ? Di pikir kan dan analisa lah. Kembali….

Leave a Reply

Top