Anda di sini
Beranda > Artikel > Anak SMP/SMA Ingin Homeschooling? Tentu Bisa!

Anak SMP/SMA Ingin Homeschooling? Tentu Bisa!

Penulis: Wimurti Kusman

Karena beragam alasan, anak yang sudah duduk di bangku SMP atau SMA bisa saja ingin keluar dari pendidikan formal (sekolah) ke pendidikan informal (homeschooling). Keluarga kami mengalaminya. Anak kami ada tiga orang. Si Tengah Amira berhenti sekolah saat SMP. Dua tahun kemudian, Si Sulung Fari yang SMA juga minta berhenti sekolah. Beginilah cerita perjalanan homeschooling mereka berdua.

Amira, Mulai Homeschooling di Kelas VII

Saat lulus SD, Amira menyatakan dirinya tidak ingin melanjutkan ke jenjang SMP. Kalau saya kilas balik lagi ke belakang, alasan selalu sakit kepala di pagi hari sebelum sekolah adalah caranya untuk mengatakan pada kami bahwa sekolah tidak lagi membahagiakannya. Dia ingin belajar di rumah saja.

Saya kala itu belum siap. Kami tetap memasukkannya ke SMP. Dia akhirnya masuk ke salah satu SMP swasta di Cilegon. Belum sampai 6 bulan, saat ulangan semester 1 di kelas VII, dia tak tahan lagi untuk tetap menjadi murid SMP dan betul-betul “ngadat” tidak mau sekolah. Saya yang sudah sedikit lebih percaya diri meluluskan permintaannya. Akhirnya homeschooling “mampir” juga ke rumah kami.

Fari, Mulai Homeschooling di Kelas X

Di sekolah, Fari berjarak satu kelas lebih tinggi dibanding Amira. Setelah ia lulus SMP di Cilegon, kami berniat menyekolahkannya ke SMA di luar kota. Pilihan jatuh ke Bogor, kota tempat orangtua saya tinggal. Kami berpisah kota, tetapi ternyata tidak lama. Baru saja berpisah 6 bulan dari kami, di semester 1 kelas X, Fari mengungkapkan keinginannya menyusul si adik untuk homeschooling.

Ketika ke Bogor untuk mengambil rapor, kesempatan itu sekaligus saya pakai untuk memberitahu pihak sekolah bahwa Fari pamit keluar dari sekolah. Lengkap sudah, tahun itu semua anak kami akhirnya menjalani homeschooling.

Ditantang Belajar Lagi

Menjalani homeschooling bukanlah niat awal saya saat pertama berkeluarga dan merencanakan punya anak. Rencana kami ya seperti orangtua pada umumnya: menyekolahkan anak – kalau pagi mereka ke sekolah umum dan kalau sore ke sekolah agama, seperti yang dikerjakan keluarga-keluarga di sekitar kami.

Semasa anak-anak masih sekolah, saya kebetulan membaca artikel tentang homeschooling. Buat saya yang senang berkegiatan bersama anak, yang tidak pernah melepaskan pengurusan dan pengasuhan anak pada orang lain, ide homeschooling itu sepertinya pas. Tapi harus mulai dari mana? Itu yang pertama harus dicari. Nah, sekarang anak-anak bergantung sepenuhnya pada saya. Bingung! Saya masih belajar menjadi orangtua homeschooler, tertatih-tatih mencari bentuk bagaimana harus menjalaninya.

Masa Transisi

Transisi dari sekolah ke homeschooling saya mulai dengan meminta anak-anak membantu saya mengerjakan tugas rumah tangga. Sebelumnya mereka juga sudah biasa bantu-bantu, tapi karena dulu mereka masih bersekolah, acara bantu-membantu itu tidak terlalu fokus. Kini mengerjakan tugas rumah tangga betul-betul saya sengaja. Saya pastikan yang mereka lakukan menjadi proses belajar, bukan sekadar membantu ibu.

Setiap pagi, anak-anak memulai hari dengan membersihkan rumah. Karena anak-anak terdaftar di klub renang, ada kalanya mereka memulai hari dengan latihan renang setelah subuh di kolam renang yang jaraknya 8 km dari rumah. Mereka bersih-bersih rumah, dilanjutkan dengan membantu saya memasak. Sore diisi dengan latihan renang lagi atau kursus bahasa Inggris di tempat saya mengajar.

Kendala dan Peluang

Salah satu kendala yang saya hadapi ketika pertama anak-anak homeschooling adalah soal menonton TV. Kami berlangganan TV kabel sebagai salah satu investasi pendidikan. Kami suka sekali menonton acara dokumentari dan film-film dengan pesan moral yang sesuai nilai-nilai yang kami anut. Tidak bersekolah menjadi godaan bagi anak-anak untuk banyak menonton TV. Rasanya sulit dihindari, begitu selesai melaksanakan pekerjaan rumah, TV menjadi “sahabat baik”.

Meskipun menonton TV berlebihan tidak bagus, tapi ternyata menonton dokumentari dan film-film yang kami sukai itu makin mempererat kedekatan kami. Saat itu YouTube belum semarak sekarang. YouTube membuat seseorang menonton video yang ia mau di waktu pilihannya, di mana pun, kapan pun, seorang diri. Jarang video-video YouTube ditonton bersama anggota di rumah. Buat keluarga kami, menonton TV jadi acara keluarga untuk dibahas bersama. Anak-anak jadi belajar banyak dari yang mereka tonton. Hal tersebut berguna menambah wawasan saat mereka harus berbicara, berargumentasi, menulis.

Homeschooling memberi kami kesempatan untuk lebih banyak menekuni kesukaan kami. Amira senang praktik memasak, membuat kue, juga bermusik. Fari dan si bungsu Fattah suka otomotif. Saya sendiri – terima kasih pada media sosial – bertambah teman-teman dari seluruh Indonesia dan belahan dunia lain dan banyak belajar dari yang muda-muda, yang jauh lebih banyak ilmunya dari saya.

Homeschooling juga memberi kami kesempatan untuk melakukan “jalan-jalan sambil belajar (travelschooling). Kami dapat bepergian di saat anak-anak lain bersekolah. Daripada dikunjungi saat libur sekolah, tempat-tempat wisata di hari biasa lebih lengang.

Saatnya Ujian Paket

Kala itu tahun 2008. Sudah tiba waktunya bagi Amira untuk mengikuti ujian kesetaraan jenjang SMP (Paket B). Saya berusaha mencari informasi cara ikut ujian kesetaraan di kota kami. Terus terang saya enggan berurusan dengan pihak Dinas Pendidikan, jadi hanya bergantung pada informasi dari seorang kolega di tempat saya mengajar, yang bekerja sebagai wakil kepala sekolah di salah satu SMA Negeri di kota kami. Ia sudah lama malang melintang di dunia pendidikan dan berhubungan dengan pemerintah. Saya ikuti sarannya seperti yang pernah saya ceritakan di blog saya di artikel ini. Kami mendaftarkan Amira ke PKBM. Saya mendatangi orang yang ditunjuk oleh kolega saya di atas, lalu mengikuti prosedur pendaftaran beberapa bulan sebelum ujian Paket. Prosesnya tidak sulit. Amira pun lulus ujian Paket B.

Tahun 2010 giliran saatnya Fari mengambil ujian kesetaraan tingkat SMA (Paket C). Saya pun kembali mencari informasi. Amira ingin juga ikut ujian paket C bersama abangnya. Sudah bosan di rumah, demikian katanya. Pilihan kami jatuh pada sebuah PKBM di Tangerang Selatan yang jaraknya 90 km dari kota kami. Untuk ujian paket C ini, dua anak kami minta didaftarkan di program bimbingan belajar (bimbel) agar mereka tahu materi ujian Paket C. Anak-anak mengambil jurusan IPS dan belajar di bimbel ini 3 bulan lamanya.

Survei Kampus

Sebelum ujian Paket C, kami sudah membawa anak-anak untuk melihat-lihat kampus-kampus yang berada di jangkauan kami. Kami berkunjung ke Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan Universitas Pelita Harapan (UPH). Tujuannya untuk memberi gambaran kegiatan yang berlangsung di universitas-universitas itu.

Saat ke IKJ, Fari tertarik untuk mengambil jurusan seni rupa, dan Amira tertarik mengambil jurusan musik. Amira bahkan sudah mendapat informasi dari pihak IKJ tentang partitur apa-apa saja yang akan dites di jurusan musik IKJ. Di Cilegon juga ada Universitas Tirtayasa (Untirta). Kami sudah pernah berkunjung ke sana, tapi anak-anak tidak meminatinya.

Fari dan Amira juga menjajal ujian Cambridge IGCSE (The International Certificate of Secondary Education). Kami mendaftar di perwakilan Cambridge yang saat itu ada di Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta. Ini adalah proses yang mahal. Harga ujian berbilang “juta” per mata pelajaran yang diambil sangat tinggi buat standar kami. Namun tetap ada pelajaran berharga karena mungkin adik mereka kelak akan mengambil ujian ini.

Mulai Kuliah dan Pindah Jurusan

Begitu Seleksi Masuk UI (SIMAK UI) dibuka tahun 2010, dua anak kami mendaftar. Berturut-turut pilihan 1, 2, dan 3 Fari adalah jurusan Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, dan Kriminologi. Amira mengambil jurusan Arkeologi, Filsafat, dan Sastra Jawa. Amira diterima di Filsafat UI, sementara Fari tidak diterima. Fari akhirnya ikut tes di IKJ dan diterima.

Namun setahun kemudian, Fari minta izin untuk keluar dari IKJ. Dia tidak betah. Buat kami, rasanya berat, karena mengingat biaya yang sudah kami keluarkan, baik uang sekolah mau pun keperluan bulanannya. Di sisi lain, kami sadar bahwa tidak akan mudah bagi anak melanjutkan kuliah kalau memang ternyata ia tidak suka jurusannya. Saya sendiri sadar, sebetulnya IKJ adalah pilihan saya. Saya mengira Fari itu “IKJ banget” dan Fari mematuhi saya. Ternyata dia tidak suka dan ingin ikut SBMPTN lagi. Dia ingin masuk UI.

Fari pun ikut bimbel lagi. Berbeda dengan keikutsertaan bimbel sebelumnya yang dijalani untuk ikut UN, kali ini bimbelnya adalah persiapan untuk ujian masuk PTN. Saat pendaftaran, dia mengambil tiga pilihan: Ilmu Komunikasi (kelas reguler dan paralel), Psikologi, dan Vokasi Komunikasi Periklanan. Dia diterima di pilihan Vokasi.

Mendapat Beasiswa dan Lanjut Kuliah

Keluarga kami menghantar Amira berangkat studi S-2 ke Inggris tahun 2016

Tahun 2014, Fari dan Amira bersama-sama lulus dari UI. Amira lulus S1 Filsafat, sementara Fari lulus Vokasi UI yang setara D3. Singkat cerita pada tahun 2016 Amira melanjutkan studi S2 ke University College London (UCL) di Inggris karena mendapat beasiswa dari Lembaga Penyedia Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Amira mengambil Program Studi MA di bidang Education, Gender, and International Development. Sementara Fari sempat gagal melanjutkan kuliah ke jenjang S1 karena tidak diterima di UNS tahun 2016. Syukurlah, di tahun 2017 ia diterima di S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret (UNS) di Surakarta, Jawa Tengah.

Catatan Penutup

Demikian perjalanan homeschooling dua anak terbesar kami. Perlu digarisbawahi di sini bahwa kebijakan ujian kesetaraan di PKBM kerap berubah dari waktu ke waktu. Dahulu Fari dan Amira bisa mendaftar ujian Paket hanya beberapa bulan sebelum ujian, dan Amira bisa ujian Paket C meski baru berjarak 2 tahun dari Paket B. Sekarang hal-hal itu tidak dapat dilakukan lagi.

Dalam hal ujian kesetaraan, keluarga homeschooler sebaiknya berdiskusi dengan pihak PKBM yang homeschooler-friendly, atau dapat bertanya pada koordinator simpul Perserikatan Homeschooler Indonesia (PHI) terdekat soal ketentuan terbaru. PHI adalah organisasi advokasi yang dibentuk oleh keluarga-keluarga homeschooler se-Indonesia agar praktisi homeschooling didengar suara dan kepentingannya oleh negara. Dengan bergabung di PHI, anggota akan dimudahkan mendapat informasi dan akses mengurus Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) atau Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK), serta menyimak isu-isu terbaru untuk diperjuangkan bersama.

“Keberanian mendatangkan keajaiban”, demikian satu kalimat yang pernah saya baca di komik Si Janggut Merah saat saya kecil dulu. Kalimat itu jadi mantra sampai sekarang buat saya. Homeschooling adalah suatu perjalanan yang sangat menarik buat keluarga saya. Saya dan suami tidak menyangka akan berpetualang sejauh ini. Kami belajar bukan hanya sempit di urusan akademis, tapi tentang banyak hal soal parenting, pendidikan, dan hal-hal lain yang tidak kami dapati ketika kami masih menyekolahkan dua anak tertua kami. Kami sangat merasakan ajaibnya ketika satu keputusan atau keinginan dijalani dengan sungguh-sungguh, ternyata tidak ada yang tidak mungkin.

* Wimurti Kusman adalah ibu tiga anak homeschooler, berdomisili di Cilegon.

Leave a Reply

Top