Anda di sini
Beranda > Berita > Safari di Yogyakarta Buahkan Lima Simpul Baru Perserikatan Homeschooler Indonesia

Safari di Yogyakarta Buahkan Lima Simpul Baru Perserikatan Homeschooler Indonesia

Penulis: Sapta Nugraha

Bertempat di Balai Budaya Sinduharjo Sleman, keluarga-keluarga homeschooler Yogyakarta menghelat seminar bertajuk “Aku Pilih Homeschooling” hari Minggu (23/7) lalu sebagai rangkaian kegiatan safari Perserikatan Homeshooler Indonesia (PHI). Baik keluarga yang sudah menjadi praktisi maupun yang baru berencana menjalani homeschooling hadir dalam acara ini.

“Harapan kami, acara ini semakin memantapkan dan memperkaya wawasan keluarga untuk menjalani homeschooling, sekaligus mengenal visi dan misi PHI,” tutur Sapta Nugraha sebagai perwakilan panitia saat membuka acara. Anggota Tim Inti PHI yang berdomisili di Sleman ini lantas memandu perkenalan antar peserta.

Lebih dari 40 orang ayah dan ibu saling memperkenalkan diri, berbagi pengalaman singkat dalam menjalani homeschooling, serta mengemukakan harapan terhadap pertemuan Safari kali ini. Dari perkenalan itu didapati bahwa acara yang sedianya diperuntukkan bagi keluarga-keluarga di Yogyakarta ini ternyata diminati pula oleh keluarga dari luar kota bahkan luar provinsi, mulai dari Salatiga, Purwokerto, Purbalingga, Kudus, sampai Nusa Tenggara Barat.

Setelah sesi perkenalan, acara inti diisi oleh Koordinator Nasional PHI Ellen Kristi. Para peserta langsung diajak membongkar paradigma “sekolah adalah satu-satunya tempat belajar” yang umum diyakini masyarakat. Dengan santai, diselingi humor, disertai data-data riset, peserta diberi kesadaran bahwa belajar tanpa sekolah atau homeschooling adalah pilihan yang legal dan setara bagi keluarga Indonesia. Para peserta antusias menyimak dan bertanya jawab saat sesi diskusi.

“Apa sih bedanya homeschooling PHI dengan homeschooling lembaga lainnya?” tanya Pambudi, peserta yang datang dari Magelang. Ellen pun menerangkan, sesuai Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional jo. Permendikbud Nomor 129 Tahun 2017, lembaga berlabel homeschooling masuk ke kategori pendidikan nonformal, sementara homeschooling masuk kategori pendidikan informal, yang dikelola sepenuhnya oleh keluarga. “Jadi jangan terkecoh, lembaga itu labelnya memang homeschooling, tapi menurut esensi dan hukum sebetulnya bukan,” kata Ellen.

Acara inti kedua adalah pembentukan simpul. Untuk mengawalinya, Ellen memberikan pengantar tentang peran penting simpul PHI. “Terbentuknya sebuah simpul akan sangat membantu para keluarga di suatu wilayah untuk mengkoordinasi diri, misalnya untuk berelasi dengan dinas pendidikan kota atau kabupaten. Jadi, baik keluarga homeschooler maupun Pemerintah akan sama-sama dimudahkan,” papar Ellen.

Sesi pembentukan simpul PHI sendiri hanya butuh waktu singkat. Setelah berkumpul berdasar domisili, para keluarga langsung memilih koordinator simpul masing-masing kota dan kabupaten. Lima simpul kota sekaligus terbentuk dalam Safari PHI Yogyakarta ini. Terpilih Lesni Damanik sebagai koordinator simpul (korsim) PHI Kota Yogyakarta, Putri Chomala sebagai korsim Kabupaten Bantul, Agustin Hari sebagai korsim Kabupaten Sleman. Dari luar Yogyakarta, terbentuk simpul PHI Purbalingga dan Purwokerto, masing-masing dengan Tulasno dan Tutu Septiana sebagai korsimnya.

Terbentuknya lima simpul dalam Safari PHI Yogyakarta ini sekaligus menutup seluruh rangkaian acara yang dimulai pukul 10.00 dan berlangsung hingga pukul 14.00. Empat jam pertemuan dalam suasana alami kompleks Studio Audio Visual Puskat yang dikitari rimbunnya pohon dan rumpun bambu, terasa santai, sejuk, dan jauh dari kepenatan. Riuh ceria anak-anak yang bermain di rumput dan perosotan terdengar mengiringi tak henti-henti dari awal hingga akhir acara …

Editor: Ellen Kristi

One thought on “Safari di Yogyakarta Buahkan Lima Simpul Baru Perserikatan Homeschooler Indonesia

Leave a Reply to Tasnim Cancel reply

Top