Anda di sini
Beranda > Artikel > Ingin Homeschooling Tapi Keder

Ingin Homeschooling Tapi Keder

Penulis: Ellen Kristi
Banyak orangtua (terutama ibu) yang keder terjun menjadi homeschooler karena merasa dirinya tidak cukup pintar, tidak cukup kreatif, tidak cukup hebat, tidak cukup punya waktu, dan berbagai “tidak cukup” lainnya, untuk mengajar anak-anaknya sendiri tanpa bantuan lembaga sekolah.

Ketakutan itu kalau dilacak biasanya berasal-usul dari belenggu pemikiran bahwa homeschooling = memindahkan sekolah ke rumah, suatu bayangan yang … keliru! Tapi kebanyakan orangtua keder ini tentu saja tidak tahu bahwa mereka keliru.

Mereka punya bayangan seperti itu karena seumur hidup yang mereka tahu: yang namanya “pendidikan” itu ya “persekolahan”. Umur sekian masuk TK, umur sekian SD, lalu SMP, lalu SMA, S1, kalau punya rezeki lanjut ke S2, kalau ada kepentingan lebih lanjut lagi ke S-3. Seumur hidup yang mereka tahu: yang namanya “belajar” itu ya “belajar akademis” – matematika, IPA, IPS, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan berbagai mata pelajaran yang didaftar dalam rapor. Seumur hidup yang mereka tahu: “guru” itu ya ibarat ‘tuhan’ dalam kelas – serba tahu, harus bisa menjawab semua pertanyaan, yang mesti malu kalau berdiri di depan kelas padahal tak menguasai materi.

Belenggu konsep ini mewujud dalam cara menggunakan kata belajar di rumah. “Ayo, waktunya belajar!” yang diucapkan orangtua hampir selalu konteksnya adalah mengerjakan PR dan LKS, menjalani sesi dengan guru bimbel yang datang ke rumah, pokoknya kegiatan akademis tuntutan sekolah.

Menyapu, memasak, beres-beres tempat tidur, dan berbagai keterampilan domestik lainnya, tidak termasuk belajar. Ikut ke bank, ikut belanja ke pasar, ikut nongkrong menyimak seminar yang dihadiri ibunya, dan keterlibatan riil dalam kegiatan sehari-hari orangtua dan keluarganya, juga tak dipandang sebagai momen belajar. Apalagi kalau anak lari ke sana kemari, panjat-panjat, jumpalitan, bermain hiruk pikuk bersama adik-kakak atau teman sekampung, kata-kata yang keluar akan menjadi: “Aduh, kamu ini maunya main terus, susah disuruh belajar!”

Karena dihantui oleh konsep “pendidikan = persekolahan”, “belajar = akademis”, dan “mengajar = metode klasik” inilah rasa gentar itu muncul. Bagaimana sosialisasinya? Bagaimana rapornya? Bagaimana ujiannya? Bagaimana ijazahnya nanti? Apa bisa meneruskan kuliah? Materi pelajaran homeschooling itu apa saja? Bakal ketinggalan nggak nanti dari teman sebayanya? Lalu aku harus mulai dari mana? Aku sama sekali belum punya pengalaman mengajar. Aku tidak punya sertifikasi guru. Aku tidak pandai matematika atau pelajaran X.  Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa menjawab pertanyaan anak? Bagaimana nanti kalau aku tidak mengajarkan materi yang sulit? Bagaimana nanti kalau setelah kuajar, anakku kalah kemampuan dibanding anak-anak di sekolah? Buntut-buntutnya: Apa kata dunia kalau sampai anakku kelihatan bodoh? Bukannya aku sebagai orangtuanya yang bakal dituduh nggak becus?

Inilah konsep-konsep salah kaprah yang mesti dilepaskan oleh ayah-ibu yang serius ingin menjadi homeschooler. Kami yang sudah lebih dulu terjun ke dunia ini menyebutnya sebagai proses deschooling. Merobohkan pengertian pendidikan, belajar, dan mengajar yang lama dan sempit; membangun pengertian yang baru dan luas.

Dari “belajar materi yang diwajibkan sekolah, di ruang kelas, pada jam tertentu, bersama guru” menjadi “belajar apa saja, di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja”.  Belajar menjadi suatu proses yang rileks, alamiah, holistik, dan seru. Homeschoolertidak lagi memandang pendidikan hanya terjadi di sekolah, belajar tidak sebatas yang sifatnya akademis, dan orangtua tidak harus jadi ‘tuhan’ yang serba tahu.

Terkait orangtua tidak harus jadi ‘tuhan’ yang serba tahu, saya identifikasi ada lagi kekeliruan keempat yang harus dilepaskan supaya ayah-ibu mantap menjalani homeschooling. Koreksilah pemikiran bahwa tugas belajar itu hanya ada pada anak. Dari sesat pikir ini bakal lahir curhat: Aku ini temperamental, nggak sabaran, masih kurang disiplin, apa bisa jadi guru yang baik? Aku sibuk kerja, nggak punya waktu! Kalau anak-anak harus kudampingi terus, kapan aku punya me time? Buntut-buntutnya: mending kukirim aja anak-anak ke sekolah, biar guru yang tangani semuanya.

Terjadilah standar ganda: guru harus sabar (awas kalau sampai berani pukul anakku!), aku tidak perlu sabar; guru harus disiplin, aku tidak perlu disiplin. Nah, selagi anakku diurusi guru-gurunya di sekolah, aku bebas, bisa mengerjakan apa saja yang aku inginkan. (Mudah-mudahan bukan ini alasan bapak-ibu mengirim anak ke sekolah ya?)

Terjun menjadi homeschooler mensyaratkan kesadaran bahwa yang harus belajar bukan hanya anaknya, tapi juga ayah-ibunya. Bergaul intensif dengan anak akan memunculkan sifat-sifat asli kita, kelemahan-kelemahan kita yang semula tersembunyi.

Di kumpulan arisan, di kantor, di tengah komunitas orang dewasa, kita semua umumnya memakai ‘topeng’. Tetapi di hadapan anak, segala topeng kita itu akan remuk, karena anak secara alamiah akan memaksa kita tampil apa adanya di depan mereka. Kalau kita sejatinya belum dewasa, kita tidak akan bisa sok dewasa di depan mereka. Mereka cukup satu kali tantrum saja, maka ketidakdewasaan kita akan langsung terbongkar!

Sikap temperamental, kurang disiplin, egois, tidak suka membaca, kecanduan gadget, dan berbagai kelemahan pribadi itu bagi homeschooler tidak dipandang sebagai alasan untuk mengirim anak ke sekolah. Justru penyingkapan itu membuat kita sadar bahwa kita juga punya PR pribadi. Sebab homeschooling sebagian besarnya adalah parenting, bagaimana kita menjadi orangtua yang lebih baik bagi anak-anak. Seperti bunyi kampanye Naomi Aldort, raising children is raising ourselves. Sembari mendewasakan anak-anak, kita wajib mendewasakan pula diri kita sendiri.

Di antara empat kekeliruan konsep, menurut saya yang terakhir ini yang paling menantang dan bikin keder. Maukah orangtua belajar bersama anak-anaknya, menjadi kawan seperjalanan dalam proses bertumbuh menjadi manusia yang lebih luhur?

Education is an atmosphere, kata Charlotte Mason, ayah-ibu wajib menjadi teladan inspiratif bagi anak-anaknya. Ketika anak-anak seharian di sekolah, kewajiban ini hanya samar saja tampil, sebab bertemu dengan mereka saja jarang. Tetapi begitu jadi homeschooler, mau tak mau orangtua disadarkan banyak hal tentang dirinya sendiri. Menerjunkan diri ke dunia homeschooling akan memaksa kita lebih serius menjalani proses pendewasaan kita sendiri. Sebagaimana yang saya tulis dalam buku Cinta Yang Berpikir (hlm. 44), inilah yang perlu orangtua renungkan:

Sudahkah kita kenal jati diri kita – siapa kita sebenarnya? Sudahkah kita tahu apa panggilan hidup kita – misi apa yang ingin kita tunaikan di bumi? Sudahkah kita memetakan setiap kekuatan dan kelemahan kepribadian kita – bagian mana yang perlu kita kembangkan dan mana yang perlu kita perbaiki? Sudahkah kita memeriksa berharga tidaknya nilai-nilai yang kita jadikan pedoman hidup – apakah itu nilai-nilai yang kita pilih sendiri secara otentik atau kita sekadar mewarisinya dari tradisi? Dan sudahkah kita hidup sesuai dengan nilai-nilai yang kita bilang kita pegang itu – selaras antara keyakinan, pikiran, perkataan, dan perbuatan? Kalau kita menjawab ‘belum’ untuk salah satu pertanyaan tadi, maka tantangan bagi kita adalah: segeralah mulai berproses untuk memperbaiki jawabannya.

Tugas besar! Tapi tidak akan bikin keder kalau kita pegang kata kuncinya, yakni “tumbuh bersama”. Sebab peran kita adalah sebagai kawan seperjalanan, bukan ibu peri. Tidak perlu ada pencitraan di rumah kita sendiri. Lepaskan gagasan bahwa kita harus serba tahu dulu, serba bisa dulu, serba sempurna dulu sebelum pantas menjadi orangtua homeschooler. Rilekslah. Bertumbuhlah.

Tulisan ini saya buat sebagai refleksi tentang pengalaman saya akhir-akhir ini menemani beberapa ibu berproses untuk memilih homeschooling bagi anak-anak mereka. Dahulu saya sempat menjadi jurkam homeschooling yang militan. Tiap kali ada yang tanya-tanya soal HS, rasanya pengen ‘memenangkan’ mereka untuk ikut ber-HS. Tapi makin tahun, saya makin realistis. Betapa kuatnya belenggu paradigma lama di benak kebanyakan orang. Wajar saja jika mereka keder memilih homeschooling. Mereka butuh waktu untuk mengendapkan ide-ide, membongkar asumsi-asumsi, menimbang informasi dan bukti, sebelum akhirnya merasa yakin.

Jadi, sekarang ini, tiap ada yang tanya-tanya soal HS, saya balik lagi ke si penanya: “Kok kepengen HS kenapa? Bukannya lebih enak pasrahkan saja ke sekolah?” Kemudian, setelah memberikan bacaan dan rujukan yang relevan, saya biarkan mereka mencerna sendiri. Kalau ada yang mengeluh galau, saya bilang: “Galau itu bagus, tandanya mikir!”

Dan ketika akhirnya kegalauan berakhir dengan kemantapan, saya berikan aplaus: “Nah, pencerahan pribadi yang muncul setelah fase pencarian informasi, pergulatan batin, dan kegalauan seperti inilah yang sangat berharga! Ini yang tidak bisa begitu saja ditularkan dari homeschooler ke calon homeschooler. Kami hanya mampu sebatas menemani. Kemantapan personal harus dicari sendiri.” Tanpa kemantapan personal yang dikristalisasi sendiri oleh orangtua, homeschooling sulit berhasil.

Dan gembira sekali saya ketika beberapa hari lalu salah satu ibu itu men-tag saya dalam note yang isinya begini:

HOMESCHOOLING MILIK KAMI

oleh: Anggrahenny C. Putri

​Awalnya mengenal Home Schooling (HS) dari Mbak Ellen. Jujur yang ada dipikiran saya saat itu HS hanya milik anak-anak yang orang tuanya pintar seperti Mbak Ellen. Orang tua seperti saya dan suami kayanya gaa mungkin HS, karena pasti ribet.

Sampai pada akhirnya tiba waktunya [si bungsu] yang hampir 4th ini berencana kami masukkan ke TK. Survey ke TK [kakaknya] yang dulu, uang masuk dan bulanannya ga masuk di hitungan kami padahal TK itu minimal punya cara pendidikan yang hampir [sama] dengan idealisme kami tentang pendidikan ke anak. Mencari TK yang lain juga sudah kami lakukan, tapi ada perasaan kurang “klik”.

Dan bertanyalah kami tentang HS pada mbak Ellen. Link yang pertama diberikan adalah Rumah Inspirasi. Saya ubek-ubek deh itu websitenya Mas Aar dan Mbak Lala. Tau apa yang saya cari?? Kekurangan dari homeschooling! Hahahaha. Soalnya saya juga termasuk orang yang ragu dengan HS. Saya tulis kekawatiran kami [sebagai] orang tua dan kebanyakan orang tentang HS, mengikuti webinar usia dini walau [hanya berupa] rekaman. Ngobrol dengan suami, akhirnya suami yang bilang, “Kamu siap? Karena HS ini banyak peran ibu.”

Akhirnya saya mantap dan kami menjadi lebih mantap. :))

Entah kapan dimulainya HS ini, mengalir aja. Mulai mempraktekkan bicara menyenangkan dalam keadaan yang tidak menyenangkan sekalipun padahal saya dan suami adalah orang yang meledak-ledak :)) PR besar!!

Menarapkan wise passiveness, mengurangi larangan-larangan/kata-kata tidak. Dan itu WOW BANGET!

Akhirnya kami menyadari banyak sekali yang terlewat ditahap perkembangan [kedua anak kami]. Yaa … kami jadi sadar selama ini kami hanya “menilai” hal-hal yang besar saja, hal-hal yang akademis karena terpaku oleh “Anakku usia berapa? Udah bisa apa?” 😀

Akhirnya kami orang tua yang melewati masa-masa deschooling, dan tahu apa membuat kami mencintai HS? Kami merasa tumbuh dan menjadi pribadi yang lebih baik bersama anak-anak kami.

Dulu patokan HS adalah Mbak Ellen dengan keseriusannya. Sekarang kami menemukan HS milik keluarga kami. Semuanya kekawatiran kami terurai dengan sendirinya. Masih panjang perjalanan homeschooling [si bungsu] ini. Masih mencari dan belajar model HS yang akan diterapkan, sambil berusaha supaya [kakaknya] juga bisa HS.

Kami berani memulai …

Anda mungkin bisa menebak cuplikan yang paling saya suka dari note di atas …

“Kami merasa tumbuh dan menjadi pribadi yang lebih baik bersama anak-anak kami.”

Ya, memang itulah spirit dasar dari homeschooling, modal yang paling penting untuk mengawali terjun ke jalur alternatif ini. Dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik bersama anak-anak tidak menuntut syarat lebih dari kata MAU, bukan?

One thought on “Ingin Homeschooling Tapi Keder

Leave a Reply

Top