Anda di sini
Beranda > Berita > Bedah Kebijakan Homeschooling di Pesta Pendidikan 2017

Bedah Kebijakan Homeschooling di Pesta Pendidikan 2017

Penulis: Sapta Nugraha

Yogyakarta, phi.or.id – Meramaikan acara Pesta Pendidikan 2017, Perserikatan Homeschooler Indonesia (PHI) menggelar sarasehan publik bertajuk “Bedah Kebijakan Homeschooling: Hak Keluarga Memilih Belajar Tanpa Sekolah” di Ruang Bima, Kompleks Balaikota Yogyakarta, pada hari Sabtu (22/4) siang lalu.

Penyampai materi adalah Ellen Kristi (Koordinator Nasional PHI), Noor Aini Prasetyawati (Koordinator Simpul PHI Kota Solo), dan Sapta Nugraha (Koordinator Simpul PHI Kota Yogyakarta). Dalam presentasinya, ketiga anggota Tim Inti PHI tersebut memaparkan dasar pemikiran homeschooling, belajar tanpa sekolah sebagai hak keluarga, kebijakan homeschooling di Indonesia, serta profil singkat PHI.

Acara publik perdana PHI di Yogyakarta ini ternyata disambut antusias masyarakat. Hadirin memadati ruangan yang berkapasitas 300 orang itu, tidak kurang dari 50 di antaranya adalah homeschooler. Sebagian homeschooler berasal dari dalam provinsi, yakni Kota Yogya, Sleman, Bantul, dan Kulon Progo. Homeschooler luar provinsi tercatat datang dari Solo, Sragen, Temanggung, Semarang, dan Pacitan.

Sebagian besar peserta yang hadir justru guru-guru undangan panitia Pesta Pendidikan. Mereka hadir lengkap dengan seragam khas sekolah masing-masing. Tanya jawab pun menjadi ramai karena karena banyak dari antara mereka yang belum memahami betul esensi homeschooling.

“Sekolah jangan memandang homeschooler sebagai kompetitor, tapi sebagai mitra, karena kita sama-sama ingin anak Indonesia mendapat pendidikan berkualitas,” terang Ellen ketika ada bapak guru dari salah satu SD Negeri di Yogyakarta yang bertanya apa jadinya nasib sekolah dan guru-guru kalau semua keluarga menjadi homeschooler. “Lagipula tidak mungkin semua keluarga memilih homeschooling, karena komitmen menjadi homeschooler itu juga tidak ringan, tetap akan banyak keluarga yang butuh sekolah,” lanjut Ellen.

Sementara itu para praktisi homeschooler lebih banyak bertanya tentang hal-hal teknis seperti cara memperoleh Nomor Induk Siswa Nasional (NISN), mengikuti ujian kesetaraan, atau membuat masyarakat lebih menghargai homeschooling sebagai pilihan pendidikan yang sah. Kepada mereka, ketiga pembicara menyampaikan ajakan agar homeschooler aktif mengorganisir diri.

“Perserikatan Homeschooler Indonesia berharap bisa menggalang solidaritas homeschooler dari seluruh Indonesia, supaya berjejaring dan bersama-sama memperjuangkan kebijakan yang memihak kepentingan anak-anak homeschooler,” kata Sapta saat menjelaskan visi, misi, dan program PHI.

Selain menggelar acara sarasehan, dalam Pesta Pendidikan 2017 ini PHI juga mensosialisasikan keberadaan organisasinya lewat pameran poster yang berisi profil PHI dan foto-foto kegiatannya. Poster ini dipajang bersama-sama dengan poster puluhan organisasi partisipan lainnya di Balaikota Yogyakarta selama Pesta Pendidikan 2017 berlangsung. Pesta Pendidikan adalah ajang tahunan perjumpaan ratusan organisasi, komunitas, dan pegiat pendidikan yang berasal dari seluruh Indonesa.

Editor: Ellen Kristi

2 thoughts on “Bedah Kebijakan Homeschooling di Pesta Pendidikan 2017

Leave a Reply

Top