Anda di sini
Beranda > Berita > Homeschooler Balikpapan Bentuk Simpul PHI dan Gelar Seminar Publik

Homeschooler Balikpapan Bentuk Simpul PHI dan Gelar Seminar Publik

Penulis: Abdillah Fuad

Balikpapan, phi.or.id – Menyikapi wacana pengorganisasian homeschooler lintas daerah, Balikpapan Muslim Homeschool (BMHS) berinisiatif menjadi tuan rumah Safari PHI di Balikpapan pada tanggal 25-26 Februari 2017 lalu. Selama dua hari itu, acara dibagi menjadi dua tahap: pertama-tama, sesi untuk kalangan internal homeschooler pada hari Sabtu (25/2), lalu dilanjutkan dengan seminar publik bertajuk “Homeschooling: Pilihan Belajar Tanpa Sekolah dan Legalitasnya di Indonesia” pada Minggu (26/2).

Begitu mendarat di Balikpapan, Koordinator Nasional PHI Ellen Kristi langsung melakukan pertemuan dengan para pegiat BMHS. Ellen menceritakan latar belakang pembentukan PHI pada tanggal 20 Desember 2016, visi-misinya, dan mengapa homeschooler lintas daerah perlu membentuk satu organisasi. Usai mendapat paparan, audiens langsung sepakat membentuk Simpul PHI Kota Balikpapan. Sebagai koordinator terpilih Abdillah Fuad.

Keesokan harinya, seminar publik tentang homeschooling digelar BMHS di Aula Rumah Dinas Wakil Walikota Balikpapan. Luar biasa antusiasme peserta mengikutinya. Tercatat sekitar 120 orang datang dari dalam dan luar kota, seperti Tenggarong dan Sangata. Mereka bersemangat menyerukan yel “Belajar di mana saja, apa saja, gurunya siapa saja!” dipandu oleh Sari, panitia yang menjadi MC.

Seminar yang berlangsung dari pukul 9-12 WITA ini diisi oleh Ellen Kristi dan dipandu oleh Dinari Lutfiani. Sesi pertama tentang “Belajar Tanpa Sekolah” mengajak audiens merenung tentang makna dasar dari kata “belajar”, bahwa belajar tidak harus diidentikkan dengan persekolahan. Sesi kedua tentang “Legalitas Homeschooling” menguraikan berbagai peraturan perundangan dan aturan teknis yang harus diketahui para homeschooler terkait jaminan homeschooling di Indonesia dan cara memperoleh pengakuan kesetaraan dari pemerintah.

Sesi diskusi ramai diisi tanya jawab. Banyak peserta seminar yang menyatakan ketertarikannya pada homeschooling. Ada juga yang mengakui selama ini memiliki persepsi yang salah tentang esensi pendidikan dan istilah homeschooling.

“Semoga PHI menjadi organisasi yang solid dan bisa mengadvokasi homeschooler Indonesia, berkontribusi pada dikeluarkannya kebijakan yang mendukung para pelaku sekolahrumah,” tutur Sari menutup acara, sebelum acara foto bersama. Ya, ketika keluarga memilih mendidik sendiri anak-anak di rumah, hal itu harus dilihat sebagai upaya turut serta meningkatkan mutu pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Bukankah satuan terkecil dari masyarakat adalah keluarga?

Editor: Ellen Kristi

Leave a Reply

Top